Sejenak Perpisahan

Luka yang paling melukai adalah perihal perpisahan. Aku menciumi bibirnya yang rekah, mengucap salam perpisahan dengan harapan pertemuan, lalu menangisi bahu gagahnya yang semakin tipis terkikis jarak.

Kalaulah sekali lagi bisa diulangi, perihal ucapanmu kemarin hari. Aku ingin mendengarkan dengan saksama meski kamu terbata-bata mengatakannya. Biar-biar saja menjadi kenang yang mengabadi bersama bayangmu yang sudah pergi.

Namun aku abai.

Kalaulah saja, tidak lagi aku peluk tubuhmu waktu itu, mungkin aku tak lagi mampu melihat senyummu untuk terakhir kalinya. Lalu aku dirundung sesal san sesak, tetapi aku di sana ketika itu.

Perjalanan telah mempertemukan hidup dan matimu secara tak sama. Mempertontonkan kedukaan dan kebahagiaan yang kamu bawa dan rasa. Jalan-jalan terjal, jalan-jalan lurus dan halus kamu selalu menuntunku. Mensejajarkan tubuh kita agar selalu beriring.

Tapi tidak untuk kali ini,

Aku nanar menatap matamu yang alfa, perjalanan tak lagi seiring. Aku dan kamu memilih jalan yang berbeda, kamu dan aku tak lagi menjadi satu irama dalam simposium kehidupan. Meski hati tak mampu terpisah dan cinta tak mampu patah. Tetapi takdir selalu hadir dan tak pernah salah arah.

Maaf …
Dan terima kasih telah hadir dan mendampingi dalam satu rotasi. Kamu adalah bingkisan nyata dari Tuhan untuk aku jaga, selamanya.

– perempuan aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s