HUJAN RINDU DI PELUPUK MATAMU

selang infus dan amanat dokter, perut yang meronta dan sakit kepala. mata yang gelap juga telinga yang tuli, rindu di saku jantung dan hujan di pelupuk matamu. adalah pesan-pesan yang tak pernah aku bacai tersebab bencana menundukkan mata. menyelami seinci rindu yang termaktub dalam bisikan duka di dalam rahim waktu.

kamu adalah saksi hidup dan mati, luka dan lara yang terpenjara di antara ribuan tawa. yang membisu dalam dengar semesta. kasihku yang malang, terpenjara rindu dengan jeruji jarak. meronta rasa bersedu sedan, mengemis-ngemis waktu untuk beranjak pulang. sebab peluk meneduhkan rindu gersang, memantik perapian duka yang meranggas air mata disela keluh dan resah.

aku ingin waktu terhenti ketika pelukan menjadi satu-satunya jembatan bagi rindu keterlaluan. membeku menjadi bongkah es yang lupa bahwa disuatu ketika aku dan kamu berada dibelahan tempat berbeda. kasihku yang abadi, rindumu menjelma menjadi sakit-sakit dan obat-obatan beracun. membuat tidurmu seakan diancam oleh perpisahan, membunuh keyakinan bahwa kita masih ada untuk hidup dan saling memeluk dari jarak ribuan kilo esok hari.

dari sini, semua akan beranjak pergi. rindu akan kembali menjadi kepulan asap kereta yang mengantar tubuh kedalam pelukan ternyaman. membunuh ribuan waktu demi mencintai kembali hati yang lama ditinggal pergi. teruslah berprasangka baik, kasihku. usah kamu berduka lara dan meregang derita, sebab kecupan akan menundukkan rindu luar biasa dengan peluk yang tak kembali tersekat.

– perempuan aksara.

7 tanggapan untuk “HUJAN RINDU DI PELUPUK MATAMU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s