TERASING

Derai tawa yang memudar. Kata yang mulai terpilih dan terpilah juga lembar-lembar kemunafikan yang tersetempel tawa kepalsuan.

Ada yang dirindukan dari sekadar kata, “Apa kabar?” ada yang diinginkan ada dari sekadar pertemuan. Aku kamu yang mulai asing juga tawa dan cerita yang jarang hadir. Ada yang tersiksa di sini, menanti waktu untuk menjadikan semua ini pilihan dan kebiasaan. Tanpamu atau bahkan tanpa kita yang saling bersua di mana saja.

Ucapan berkilah, serupa keterasingan yang memilih untuk menyeret kita ke dalam lubang terdalam. Bagaimana bisa? Sedangkan tanpamu dulu, aku hanyalah kealfaan. Sedangkan tanpa kabarmu dulu aku tak bisa kembali memiliki napas kehidupan. Aku rindu, matamu yang hitam dan alis matamu yang tebal. Serupa aku rindu setiap ucapan yang terlontar dari bibirmu untuk menenangkan tidurku setiap malam.

Apakah kita telah sama-sama terbunuh oleh kebiasaan? Keakraban yang terasa renggang juga keterasingan di antara aku atau kamu yang mulai mengalir di dalam setiap percakapan. Apa kita telah sampai pada batas waktunya? Aku yang tak kamu kenali dan kamu yang tak kembali aku kenali?

Kita bergantung pada kepalsuan, sedangkan tawa dan perhatian hanya pemanis buatan. Memudarlah kita dari sini, mengudara bersama kata-kata dan temu-temu yang pernah tersemoga. Bahagia kita pernah ada untuk menolak perpisahan meski akhirnya kita terbunuh kepalsuan.

– perempuan aksara.

4 tanggapan untuk “TERASING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s