Perjamuan Senja Pada Mata Kekasih

Aku melerai peluk setelah lama tidak kamu genapi. Senyummu pecah di antara angin dan masenja yang berhamburan menerpa tawa kita yang ganjil. Kamu datang dengan peta rindu, menjemput ranum bunga-bunga di bibirku yang mungkin semakin masam untuk kamu nikmati. Tubuhku bagaikan kemarau yang menunggu hujan datang. Menitipkan doa-doa panjang sembari menghitung jumlah hari yang sudah kita lewatkan.

Pada langit yang masih jingga hari ini, aku ingin menikmati perjamuan yang telah lama tidak aku rasai. Sepasang matamu yang pagi, juga senyum sabit yang selalu ingin aku tatap berkali-kali. Kekasihku, sudah puluhan rindu yang aku biarkan berlalu begitu saja tanpamu. Melewatkan malam juga senja tanpa dirimu di sampingku. Biarkan aku hari ini memiliki kembali sepasang mata dan senyummu itu, sebab rindu sudah tidak lagi mampu menunggu.

Kamu tau, kekasih.
Senja hari ini lebih indah aku nikmati, doa-doa panjangku seakan berkumpul di sana. Menertawakan aku yang setiap malam menanti di antara mimpi-mimpi dan lelah-lelah demi untuk sebuah temu yang ingin aku lunasi. Derita yang aku rasai meluruh bersama jarak kita yang terbunuh. Sekat yang mengikat tidak kembali ada, rindu bukan lagi lagu haru. Kita ada untuk menggenapkan kosong di dalam jiwa yang telah lama melompong.

Masenja berkelakar mesra, memeluk tubuh kita yang terluka oleh jarak dan kerinduan. Biarkan waktu menelan luka-luka tersebab keduanya, di sini aku ingin mencintaimu kembali di jarak yang tak lagi tersekat. Terima kasih, kekasih.

– perempuan aksara.

5 tanggapan untuk “Perjamuan Senja Pada Mata Kekasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s