Kangenku Insomnia

Kekasihku, kangen berpesta pora malam ini. Bermandikan hujan yang sedari sore tadi tidak sudah, mereka membuat unggun di dekat tubuhku yang kedinginan tersebab pelukmu tak bisa aku milki. Mereka seolah mengejek aku yang sedang dipenuhi derita kangen-kangen keparat itu. Berulang kali aku meneguk obat tidur demi rebah ke pelukan malam, tetapi yang aku dapati hanya kangen yang berpura-pura bisu lalu membuatnya kembali berantakan.

Aku kangen, kekasih. Pada tubuhmu yang serupa rumah untuk lelahku yang tak sudah. Pada matamu yang pagi juga pada bibirmu yang jingga. Aku ingin melepas beban kangen ini, kekasih. Sebab dia menyiksa aku secara diam-diam dan perlahan, membuat makanku tidak segar dan hari-hariku penuh beban. Kangenku tidak pernah terlelap, kangenku berkamuflase menjadi derita. Suaramu yang mengantar lelapku adalah bomerang yang membuatnya selalu terjaga.

Aku menginginkanmu, kekasih. Sebab kangenku tidak lagi lagu kesepian di malam hari, tetapi menjelma menjadi seribu empat ratus empat puluh menit tentang kangen untukmu yang tak pernah mati setiap hari. Tubuhku remuk dihajar kangen. Menerima semua ini dengan penderitaan yang tidak sudah aku rasai. Jarak mengerjaiku berulang kali, menjadi penjebak kangen yang tak pernah bisa dilunasi.

Malam ini kekasih, aku setengah mati membuat unggun itu padam. Menyesakki air mataku dengan tissu dan membisu di dalam sepi dengan kangen yang setengah mati melukai.

– perempuan aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s