Menandaskan Rindu pada Kesepian yang Menyakitkan

Kecamuk bertumpuk. Luka bertepuk tangan di atas tangis penderitaaan. Aku ingin meneriakki derita yang tutup telinga atas penolakan dan pesakitan. Gejolak meminta untuk bergerak, meregang senyum untuk kemunafikan yang meretas tangis dalam diam yang tak terbayang. Aku semacam di lukai. Air mataku turun dari mata air yang suci. Mendemo derita yang sekian hari aku rasakan sendiri. Hatiku yang piatu mendobrakk kesenjangan. Mencoba merasuki kekelaman jiwa pemuka rindu yang dengan sengaja menitip perasaan.

Derita merimba pada ujung penantian yang tak sudah. Terimpit sesak pada jantumg yang tersiksa sekian lama. Aku mencerna arti rindu yang seketika menyiksa. Memberikan udara pada peparu yang melompong oleh kehampaan. Aku tersisih sendiri, kekasih. Memaksa menelan mentah-mentah rindu yang selalu menumbuk jantung atmaku hingga dalam. Menyiksa lahir juga batinku hingga aku tak paham arti sudah. Aku yang menderita dalam keheningan, tak kuasa mempraduga waktu yang bergerak maju.

Debar dadaku hari ini menjadi saksi, ikut menyesakki rindu yang melulu itu. Aku terluka, kekasih. Dalam diam dan tenang, Tidak mampu berkilah kembali, sebab aku teronggok di sini sendiri. Menanti dirimu yang sudah tiada lagi nyata untuk memeluk kesepian yang menyakitkan. Hadirlah kekasih, dalam bentuk rindu yang paling manis, untuk tangis yang tak pernah habis.

-perempuan aksara.

2 tanggapan untuk “Menandaskan Rindu pada Kesepian yang Menyakitkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s