Meregang Air Mata di Tubuh Derita

Aku adalah pelakon luka yang mengatasnamakan derita dan duka sebagai kisah paling menarik untuk ditelisik. Metaforaku penuh dengan kehancuran hati yang sudah sedemikian remuk tak berbentuk. Penderitaan panjang yang aku rasai sendirian, memahami arti meregang derita yang setiap hari menjadi ritual paling menyakitkan.

Apakah caraku berlebihan? Aku hanya ingin mengabadikan setiap luka yang pernah tertiup di jantung persegi dari mereka yang menganggap aku rumah. Mencaci mereka yang dengan senang hati membuat aku patah berkali-kali. Juga menjadi pengingat yang baik untuk derita yang tak pernah terlupa oleh waktu dan semesta.

Pendosakah aku?

Lantas apa arti tangis kesepian yang setiap malam bersedu-sedan memeluk kemalangan? Yang menjabarkan arti duka menjadi lagu paling romantis untuk hati teriris. Apakah itu hanya simposium sendu yang gemar oang nikmati di atas sebuah penderitaan?

Apakah tersebab waktu? Hingga aku dikutuk menjadi pengabdi luka yang setiap harinya merawat potongan lara untuk dijadikan seserahan atas derita yang terlampau menyiksa?

Atau apakah tidak ada di antara aku atau mereka yang terlihat hina? Sebab cinta adalah kesucian yang sengaja dikhianati oleh aku atau mereka?

Tetapi, akulah pelakon luka itu, yang di jantung atmanya bersimbah derita dari mereka yang berkalung kesucian tapi lupa caranya menghormati perasaan.

– perempuan aksara.

2 tanggapan untuk “Meregang Air Mata di Tubuh Derita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s