Bahasa Rindu Paling Sunyi

Pada dini hari begini, aku melepas setiap helai lelah dan meninggalkannya di meja. Sembari menghapus debu pada wajah juga debu pada hati yang sekiranya penuh dengan virus yang hari ini sedang merubah dunia menjadi sepi. Aku menatap pada wajah lelah yang kamu sembunyikan dibalik senyuman. Menatapnya lewat kaca rias lalu perlahan senyum itu mendekat. Memeluk tubuhku yang sedang dipenuhi rindu akan hadirmu di waktu ini.

Kita berciuman singkat di depan cermin, lalu sama-sama menertawakan kemalangan tubuh yang beberapa hari tidak saling menyentuh. Tubuh kita kesepian, peluk kita juga menjadi kerontang. Kesibukan memaksa kita menunda rindu untuk saling bertukar rasa, memaksa rindu untuk bersabar demi mendapatkan kesempatan untuk saling menenangkan.

Sepi terbata-bata menyelinap ke dalam tubuh. Kita berpelukan lama sembari berciuman, meninabobokan rindu dan napsu yang sudah mencapai ubun-ubun untuk ditenangkan kembali. Aku ingin menyentuh rinduku, mengambilnya lalu mengosokannya agar esok bisa aku isi kembali dengan rindu yang lain. Kita melepas ciuman, merebahkan dua tubuh yang sudah terpanggang napsu untuk kembali bercengkrama lewat mata dan perasaan.

Kamu menindihku, menjebak tubuh agar terkurung ke dalam pelukanmu. Mengistirahatkan lelah yang perlahan-lahan kamu hilangkan sepersatu dari tubuhku.

“Rambutmu harum wangi-wangian surga yang berpindah ke tiap helainya.”

Hanya itu kata yang terucap dari bibirmu selepas buah dadaku kamu hisap perlahan, untuk mengambil kekuatan dariku agar berpindah ke dirimu. Kita telah siap berperang. Benteng-benteng pertahanan sudah tidak ada lagi, kerinduan mengatasnamakan penyatuan demi mensucikan perasaan. Mendamba sang waktu agar tidak segera mengakhiri semua ini dengan lekas, sebab pederitaan panjang atas kesepian tubuh telah lama terjadi.

“Aaahhh.”

Tubuhku dimasuki kesaktianmu, menghujam aku yang sama sekali belum bersiap. Perih namun, perlahan semuanya seirama. Ada yang ingin aku luapkan emosinya, tapi aku  bersusah payah mengatakan. Sebab aku menderita dihujam kenikmatan luar biasa. Inginku berteriak dan melepaskan segala keriduan seketika itu juga, tetapi aku sadar segalanya hanyalah sementara. Sebab ketika aku dan kamu sama-sama melepaskan kemenangan, tubuh kita akan layu kembali dan hanya akan menjadi seperti semula; kerinduan yang mengatasnamakan penyatuan untuk ritual penyucian.

– perempuan aksara.

24 tanggapan untuk “Bahasa Rindu Paling Sunyi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s