Kita yang Pertama Kali

Kita merelakan tubuh membeku malam ini, obrolan panjang yang jatuh pada malam melambaikan tangan meminta untuk kita sama-sama datang dalam undangannya. Untuk waktu yang tidak singkat, aku ingin kita hanyut dalam pesta pora malam. Sembari mecicipi setiap duka di masa lalu yang sama-sama kita jadikan bahan gurauan. 

Tidak ada hening di sini, kita ada untuk sama-sama melenyapkan sepi yang butuh dimengerti. Bukankah matamu adalah sesuatu yang samar dan nyata? Yang nyalang dan sangat manis. Sedangakan senyummu sabit, lebih sabit daripada bulan malam ini yang mungkin sedang iri dengan kita. Kita? Bahkan kita belum sama-sama memeperkenalkan diri. 

“Aku adalah yang kamu lihat hari ini dan akan kamu kenang sampai mati,” ucapku lancar pada satu tarikan napas.

“Aku adalah aku yang sudah lelah untuk memperkenalkan diri kepada siapa pun, jadi biarlah kamu yang mengenaliku tanpa aku perlu memperkenalkan aku siapa.” Senyummu terlepas ke langit berbintang.

– perempuan aksara.

17 tanggapan untuk “Kita yang Pertama Kali

  1. lantas bagaimana selanjutnya? apakah tawamu tidak mampu mengekalkan sabit menjadi rembulan manakala senyummu terlepas ke langit berbintang.

    Suka

  2. Maafkan, aku tak punya cukup waktu menghitung berapa purnama aku telah berusaha meninggalkanmu, tetapi hatiku tak mudah untuk diajak setuju perihal itu meski kita sepakat menyudahi kisah juga karena cinta.
    Kuingin mengucapkan “kembalilah” namun tak punya nyali mengetuk pintu debarmu, hanya sesekali kudengar lantunan puisi yang kau baca mengiringi kepulangan senja.
    Pun tarian-tarian sajak dalam sayap kupu-kupu masih menjadi kanvas manakala kau tumpahkan warna-warna gerimis matamu dalam derap gemuruh dari dadamu karena juga merindukanku. Mirisnya netraku tak lagi melihat namaku terlukis dalam guratanmu, Bak bentangan jarak yang menangisi ruang kalbu; seperti janjimu dulu.

    Suka

    1. bukankah kita telah sepakat untuk menjadi sepaket kenang yang dengan ikhlas meninggalkan apa apa yang pernah kita perjuangkan? kita adalah debar yang resah pada jantung, mengisyaratkan pisah meski perasaan masih ingin saling memiliki. duduklah dan mari berbincang, sebab perkara perasaan tak baik jika dibicarakan tanpa saling memahamkan.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Baiklah, aku akan duduk di sampingmu kembali untuk merangkai bintang-bintang yang terlepas dari pangkuan meskipun tanpa purnama yang menemani. Sebab yang kutahu cahaya dari senyummu adalah satu di antara seribu pesonamu, duhai perempuan aksaraku.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s