Pelakon Sandiwara

Linimasa waktu mencabik peradaban. Kita dipaksa tertawa di bawah panggung sandiwara yang sebenanrnya kita adalah penyangganya. Semua orang tiba-tiba menjadi pemain alus yang penuh tipu-tipu. Aku yang tersipu malu-malu tersenyum di balik pijar mata pemain sandiwara. Tepuk tangan riuh redam, padahal bahunya sudah terluka parah. Padahal perut meronta-ronta minta iba. Semua mata dibutakan, semua kepala dijejali perjanjian-perjanjian yang tak kasat mata.

Kita dibodohkan dengan segala peraturan, mulutmu yang tertutup masker, tanganmu yang sering cuci tangan juga matamu yang selalu dicekoki kepalsuan. Kita ini penonton sandiwara, padahal panggung sudah mulai reyot tinggal menunggu kapan akan ambruk. Kita lupa bahwa masih punya rasa, kita lupa bahwa hari ini kita masih ada dan esok hidup adalah kemungkinan, bukan lagi sebuah ketidakmungkinan.

Coba kita periksa sekali lagi,
Aku ingin menceritakan perihal panggung sandiwara ini kepada anakku kelak, agar dia paham bahwa bapaknya yang botak itu, yang hari ini terseret ke penjara adalah pelakon sandiwara yang tersandung banyolannya sendiri.

-perempuan aksara.

2 tanggapan untuk “Pelakon Sandiwara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s