Teruntuk

aku melihat tubuhmu yang rebah pada pangkuan malam. kesepian menelan derita yang menjelma pada matamu. merupa sendu yang tak hilang meski sesekali aku seka ubun-ubunmu yang semakin hari renta termakan masa juga usia. pukul sebelas malam, aku menatap tulang belulang pada igamu yang semakin terlihat menonjol daripada kulitmu. tersiksa aku dihujam rekaman dua minggu lalu, ketika kamu menangis tersedu memeluk kenestapaan dan aku yang tak jua datang.

apa kamu rindu? tetapi aku kehilangan tawamu pada pukul lima senja, menyapaku pada ruang lelah untuk memberi sambutan kepada tubuh yang capek terbelit kesibukan.

maafkan aku.

– perempuan aksara.

25 tanggapan untuk “Teruntuk

  1. Aku maafkan, tapi ada yang terpinta dari lindahku yang kelu “jangan lagi terulang” kutakut kau tak lagi mendengar satu dua suaraku sebab telah lebih dulu berpulang.

    Suka

      1. Jika bisingnya rindu yang bertaburan di udara namun tengadah hitam rambutmu menjuntai seperti air terjun dengan butiran senja memaksa memeluknya, sedang isi kepalamu berhamburan mengenangkan masa lalu yang tumpah berserakan di jalan kenangan. Duhai perempuan aksara dirundung sunyi yang kini hanya berteman puisi-puisi, kuingin jangan tenggelam pada perih yang terekam. di hatimu , sepertinya.

        Suka

      2. ini bukan hanya perkara perih yang terturih, tetapi kesunyian yang menyita isi kepala pada waktu yang meluruhkan debat dan debar semesta. aku ingin menjadii apa apa yang tidak bisa tersentuh namun mampu di rasa. dari sini, bisakah kita untuk saling mengerti bahwa yang paling agung dari rindu adalah temu dan waktu.

        Suka

      3. Selepas kesunyianmu yang melambai tangis
        Dari langkah kepergianmu yang sepi dari debat
        Satu dua dedaunan gugur dalam teriakan sesal
        Dan ranting berdesing bagai peluru
        Dalam kemarahan perpisahan
        Sia-sia putik berjuang tumbuh; temu
        Pun waktu untuk tarian kupu-kupu

        Saat mata kita bertatapan
        Bawa segala debar rindu
        Kini berujung pilu
        Apakah ini pertanda dari semesta
        Akhir sebuah cerita; cinta
        Kita.

        Suka

      1. Benarkah seperti itu? jika ucapanmu menjadi dasar penulisanmu maka secara pribadi saya berikan acungan 2 jempol buat perempuan aksara.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s