PADA PUKUL LIMA SORE

Kutemu parasmu yang manis pada dinding ponselku yang bergetar pada pukul lima sore ini, sedikit getarannya tapi mengguncang rindu dalam hati yang lama sekali tidak kamu sentuh. Tiba-tiba air mataku menyentuh tuts laptop yang sedang menampilkan pekerjaan. Rindu mengoyak moyak jantungku, kekasih. Sentuhanmu sedikit saja mungkin mampu melunakkannya dan membuat dia segera sadar, bahwa kamu selalu hidup pada atma dan mataku.

Masih sama, bahkan masih seperti semula. Terkadang aku lupa bahwa masih memiliki perasaan untukmu yang begitu arif dan tidak mau pergi. Bagaimana jika pada akhirnya kita tak lagi bisa berbincang dengan bahasa manusia? Apakah pada nantinya kita hanya tamat dan menjadi dua manusia yang saling rindu tapi tak berujung temu?

Senja rebah pada mata gerimis, pekerjaan yang memilih dimanjakan juga rindu yang semakin memilin perasaan. Aku ingin mengejar matamu yang indah itu, kekasih. Aku ingin memelukmu erat dan melupakan semua perkara jarak juga dunia yang semakin menyakiti. Aku ingin menjatuhkan kecup pada pipimu dan memikirkan semua cara demi melunasi rindu.

Tapi, aku terpenjara. Kakiku terpasung kabel printer, mataku yang tak lelah menatap layar laptop dan kepalaku yang seakan dipaksa untuk menerima semua perkara itu meski perasaan mengatakan cukup. Maafkan aku, tubuhku telah berjalan selaras waktu demi melunasi setiap janji dan isi kantong yang tak pernah cukup.

– perempuan aksara.

5 tanggapan untuk “PADA PUKUL LIMA SORE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s