MEMBUNUH RINDU PADA MATAMU

Kamu adalah rindu yang paling segan, mencintaimu serupa duka yang melelehkan air mata di balik senyum yang mempesona. Terkadang aku ingin mati dipelukmu saja, ketika matamu yang tajam itu menghunus jantung persegiku. Mempersilakan dirimu untuk menjadi saksi kematian paling manis atas tubuhku yang tidak bisa berbuat apa-apa tersebab rindu.

Rindu kali ini menjadi mimpi paling tragis, aku yang mencintaimu ini hanya bisa menangis tersebab tak mampu memeluk nyawamu yang terpenjara gawai dan jarak. Kekasih, rindu sudah ingin bunuh diri pada matamu, hujan di luar sana tak mampu menghangatkan getirnya perasaan. Hanya pelukmu yang mampu menghapus segala air mata dan rindu yang sudah dahaga.

Terima kasih, kekasih. Tersebabmu pilu yang membiru tidaklah hanya nyanyian kesepian yang tak tertuju.

Serupa bibirmu yang sabit, matamu adalah matari pada pukul lima sore yang lupa dibawa pulang. Sapalah sesekali rindu yang mesra memeluk namamu ini, jangan jadikan jarak sebagai penonton yang bisa menertawakan. Kita tidak sedang bermain opera, kita adalah dua manusia yang sedang dikerjai jarak dan rindu bangsat yang tak beretika.

Selamat malam.

– perempuan aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s