Yang Tidak Pernah Kembali

kita pernah menjadi sepasang.
lengan yang saling memeluk, kaki yang selalu beriring, hati yang selalu menguatkan,
juga seulas tawa, pada senja sebelum tiba waktu magrib. mencintaimu umpama.
serupa prasasti yang ingin aku tanam
pada relung rasa terdalam.
menyegerakan temu juga waktu yang tak aku inginkan melambat,
mencibir perasaan agung aku juga kamu.

tetapi,
langkah kita kalah
pelukan kita melengang
kaki yang beriring akhirnya berjalan tak tentu arah
kamu membelakangiku
pun aku yang mulai terbiasa tanpamu.
seolah-olah semua hal mulai terurari dan terpisah, apakah itu yang kita maksud satu kala itu? ataukah, pelukan hangat itu hanyalah reka-reka yang berpura-pura?

apakah kita sudah lupa perihal pukul sepuluh malam kala engkau mengetuk rindu dan menggenapi sepi yang menebas malamku?

ahh … percuma, cinta ya tetap cinta.
rasa tetaplah rasa.

semua hanya perihal keyakinan, bahwa diwaktu dulu kita pernah saling ada untuk menebus rindu, jarak juga saling menguatkan.

-perempuan aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s