Senyuman Pemerah Duka

hujan diberanda jantung
pada pukul sebelas siang sebelum
khutbah masjid bercerita tentang
jum’at yang kedinginan.

umpama hari adalah kereta api,
kuingin meminta diantarkan kepada
pelukmu yang lapang. agar
tidak lagi aku tersakiti
tersebab hadirmu yang belum pasti.

rangkulah setiap senyum palsu
yang terselip pada bibirku, sayang.
aku ingin kamu menatapnya
lebih lama dan
lebih jelas.

senyum yang hanya denganmu kurasa
lebih manis dan lebih terasa
indahnya.

tapi, kamu lupa, sayang. senyuman
indah juga bisa layu tersiram
air hujan yang saban hari
mengecup ranting bibirku
yang rekah-

– perempuam aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s