Menceritakan Perihal Mencintai

Detik menggelitik tubuh kita yang layu, jatuh-bangun berganti menjadi musim semi dan gugur yang seringkali kita abaikan. Merawat hati serupa merawat tubuh perempuan yang sedang mekar-mekarnya, tidak ada yang mudah semua perihal perasaan dan keadaan. Tidak ada yang bisa bahagia sekalipun sudah terbiasa.

Aku jatuh hati kepada matamu yang malam, aku jatuh hati kepada bibirmu yang sabit, aku telah jatuh hati kepada rasa nyaman dan hatimu yang tidak pernah berpura-pura itu. Tetapi, aku belum mampu menjadi apa pun yang hari ini kamu bahagiakan, aku belum mampu menjadi tubuh yang mampu kamu peluk ketika kedinginan atau perbincangan manis selepas pukul delapan.

Tak ubahnya kertas kusut, aku masih mencoba mengurai setiap senyum dan tawa yang hadir di antara kita. Mencoba memahami arti pilu dan tangis yang terkadang menghias di langit malamku. Aku ingin kamu juga tidak pernah gegabah atau hanya sekadar meyakiniku. Sebab, aku tidak hanya ingin membuatmu bersusah payah mencari jawab atas tanya yang selalu kita cari jawabnya.

Bisakah kita saling memeluk ketika kesepian? Menjadi manusia yang selalu di sini untuk tangis dan bahagia yang hadir semena-mena? Apakah kita akan tetap berada di garis yang sama ketika kita berada dalam dua keputusan yang berbeda? Ataukah kita mampu menjadi peneympurna dari masing-masing kekurangan?

Coba kita tengok hari lalu yang sudah kita lewatkan, bisakah kita berterima kasih kepada jarak dan jengkal waktu yang sudah mempertemukan kita dan membuat kita ada hingga hari ini. Setelah semua ini, apakah kita akan menyerah jika suatu hari aku atau kamu terjatuh? Bisakah kita sama-sama ada kembali? Tanpa berpikir yang lain, hanya bahagia. Hanya untuk itu dan semua hal menyakitkan kita pasrahkan sebab kita percaya bahwa semua bisa kita lakukan jika kita bersama.

Mencintai bukan perihal manis-manis dan bahagia saja, bukan hanya perihal mencumbui setiap rindu yang datang silih berganti setiap hari. Tetapi hati adalah satu-satunya nyawa yang tidak pernah dusta dan kamu adalah apa yang akan aku perjuangkan serupa kamu memperjuangkan aku atas perasaanmu.

Selamat malam.

– perempuan aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s