MEMINJAM KEKATA PERPISAHAN

“Selamat tinggal.”

ucapan perpisahan mengembus dipekatnya udara malam, menjalar keberbagai sudut ruang remang di dalam jantung dan sanubari. jiwa mulai melompong. kosong. tak berpenghuni. bersedu-sedan, mengiba-iba kepada waktu untuk mengembalikan dua tubuh bernyawa kedalam satu pelukan utuh penuh kasih dan sayang semesta. pelukan hanya tinggal gigil pada pupil mata yang menerawang kebisuan di dalam rasa. perputaran jam di dinding hanyalah pembunuh kepiluan bersama derasnya kata dan air mata yang tumpang tindih memparodikan kenestapaan.

kepergian menyulut percikan kobar kedukaan, menyusun bebebrapa ratus keinginan untuk melupa, menyudahi, merenungi, berhenti dan mati. jiwa bagai tergoncang, tubuh bagai dilempari bom hingga remuk-redam. meledak dan darahnya tercecer di sudut-sudut dinding yang bisu. perpisahan menjelma menjadi air mata, perasaan yang tumbuh lebat mati seketika. sekat demi sekat mulai terlihat. kebas pada jantung dan perasaan, seakan-akan dia mati sebelum akhirnya ditimang penuh rasa sayang.

malam berbisik. luka meresap. detak mulai retak, watu seakan bisu.

kamu dimana? disetiap perpisahan aku bertanya, disetiap kepergian aku mengiba, disetiap ketiadaan kamu menjelma menjadi kekata yang tidak bisa membaca dirinya sendiri. kamu mati. kamu hilang. kamu … senyawa perpisahan yang banyak mengubur manuskrip hingga sepersatu darinya tak mampu aku mengerti artinya. perasaan-perasaan yang jatuh dan perpisahan yang datang tanpa pernah tahu keadaan.

hanyalah namamu yang mengabadi pada hati, yang terus memluk rusuk-rusuk juga inti jantung persegi. aku meminjam kekata perpisahan malam ini, agar dinding pucat yang serupa bibirmu mau berkata-kata. agar hitamnya malam seperti pupil matamu mampu melihat kedukaan di hatiku, agar jendela-jendela pada kamarku mencerita suatu ketika kepadamu, tentang seorang perawan di kamar ini yang mati ditikam perpisahan dan kepergian kekasih yang dicintai.

– perempuan aksara.

Iklan

Menikmati Nada Pada Melodi Perpisahan.

Aku mengumpulkan nada-nada patah yang dimainkan oleh sepasang tangan dari sebuah biola tua. Terserap seluruh rasa, memasuki celah-celah lara yang tergesek pada senar dan bilah pemantik. Terus menerus. Hingga hanyut aku pada duka yang sebak, menghunus perlahan jaring-jaring pada telinga hingga mati. Suri. Oleh perasaan yang timbul dan tenggalam setelah suasana luruh pada risau yang tak kunjung sudah.

Melodi itu membunuhku, sebelum perpisahan menusuknya. Sebelum aku bermandikan kesepian yang menggigilkan tangan dan badan tanpa peluk dan kecupan. Seluruh rasaku berhias darah dan nanah, tanpa balutan kassa dan obat merah. Hanya melodi yang semakin menusuk ketika merasuk diulu hati. Perasaan kacau dan hancur yang berbisik lewat matamu, aku tak mampu berdusta dan mendusta. Matamu terlalu jujur berujar dari pada hati.

Kekasihku akan berpamit pada perasaan, akan membentangkan jarak ratusan kilometer. Menjalani keadaan penuh kesibukan dan mungkin lupa berkabar. Aku membekalinya kasih dan sayang malam ini, sebagai cemilan perasaanya sendiri yang akan melupakan waktu memberi makan pada hati. Melodi itu membuat kita hanyut, malam semakin kalut hati semakin ingin beringsut dengan senyum yang semakin kecut. Perpisahan.

Jangan melayangkan selamat tinggal terlebih dahulu, kasih. Malam begitu rapat menjelma menjadi nada pada biola tua yang tergopoh mencari melodi indah dan manis. Pelukan sepasang tubuh reot semakin menjelma menjadi parodi musik, meluruh, mencari kehangatan yang lain, menjadi perasaan yang lain, menjadi nama yang satu, menjadi tubuh dan jasad yang satu.

Jangan lupa tinggalakan noda, perasaan rindu akan menggoda jika kau tiada. Dan noda akan menjadi nahkoda untuk mengarungi perasaan yang lumpuh oleh perpisahan. Pergilah, kekasih. Kemasi melodi ditelingamu setelah ini, bentangkan sayap-sayap putihmu. Segerakan. Aku menanti dikeabadian.

– perempuan aksara.

SURAT MAIMUN KEPADA SUTRISNO

sungguh kasih, aku telah dikebiri perjanjian terkutuk. membuat jarak kita menjadi bentangan luka abadi yang terkubur jauh di dalam duka. menyesap seluruh bahagia, dia menjelma menjadi perasaan yang tak aku tahu namanya. meski berulang kali aku menjerit hingga pita suaraku terkelupas, itu hanyalah kemustahilan. sebab tiada jiwa yang peduli kepada tubuh yang sengsara dan merana oleh kenyataan dan keadaan.

sedikit demi sejengkal, aku digerogoti rindu dan rasa bersalah. meninggalkan perasaan kita yang utuh adanya, juga cinta kita yang belum rampung dituliskan. kenyataan memang serupa empedu, cukup pahit untuk dikecap dengan mulut telanjang. namun apalah daya dan upaya, bapak menjualku demi perjanjian yang pernah ditandatangan di hadapan saksi. berpuluh-puluh penolakan telah aku layangkan, namun rasa takut telah kalut dalam emosi dan membuatnya tersesat.

cukuplah kita, mas trisno. cinta yang ditengahi perjanjian jualbeli atau cinta yang dibunuh waktu temu. sebab aku disekap, dimasukkan pada tempat terkutuk yang tak kuatu namanya, yang penuh dengan kucuran air mata dan air mani dimana-mana. mungkin lama kelamaan mataku hanya berhias kehampaan juga kabut duka yang menyelimuti perasaan luka. aku pernah ingin terjun kesana, terapung di atas sungai dan melupakan derita. tapi tidak, mas. dengan cinta dan kasihmu aku bertahan.

aku mempercayai kesetiaan dan rasa kasihmu, aku mempercayai pelukmu yang tak akan pernah mampu kamu bagi dengan perempuan manapun selain aku. tapi jika mungkin aku akan mati di tempat ini (sebelum menemuimu), digerogoti tikus hingga membusuk. maka biarkan hatiku menjadi sepaket perasaan kasih yang aku berikan kepadamu utuh. biarkan rasa melebur menjadi renjana yang terkelupas hari demi hari tanpa pernah disadari.

namun … jika suatu saat nanti aku mampu menemui dan mencintaimu kembali. aku ingin menunjukkan kepada anak dan cucu kita tentang artinya pengorbanan sepasang kekasih yang terpasung oleh janji. agar mengabadi kisah kita di hati dan jiwa orang yang kita sayangi. agar mereka paham dan mengerti jika kasih tak hanya soal sayang dan ciuman tapi perbuatan dan kesetiaaan.

sudah … aku meratap. dinding dingin dikamarku tak sanggup menatap sepasang mataku ketika kutulis surat ini. trimakasih setia hingga kini. jika Tuhan berbaik hati cinta pasti kembali kepada hati yang mencintai.

– perempun aksara.

Senja dan Sepasang Pelukan Selamat Tinggal

berkabarlah semesta senja ini, dukaku terpukul diperpisahan menuju gelap. renjana terkesiap, lanskap mendekap lekat-lekat ketiadaan. kelebat bayang-bayangmu di lorong kereta api dan seutas senyum yang hilang terbawa ucapan selamat tinggal. benakku penuh oleh kecupan dua bibir yang terpatuh, yang sebentar lagi terputus menjadi jauh.

seutas kertas di tangan kiri dan jam keberangkatan sebentar lagi. jurang pemisah semakin dekat, pasrah menunggu yang akan berlabuh keperdamaian jiwa. meninggalkan hati dan jantungku yang masih dipenuhi rindu. aku ingin mengecup lolongan bising kereta api, membawanya pulang bersama pijar senjakala yang hari ini memisahakan dua jiwa.

namun, kebas tanganku dipukul waktu. gejolak samar punggungmu menjauh –meninggalkan tubuh terpaku di stasiun menunggu perayaan perpisahan. dan sekali lagi, senja bermunajat, namamu terseret oleh gilasan mesin kereta, hilang … memisahkan peluk dan peluh yang luruh semakin menjauh.

selamat menempuh masa, dan rindu akan tetap terpaku di statisun hari ini hingga kembali ditemui.

-AKSARAmadhani.

Kepada Cinta yang Agung

angin senja masih payah, lanskap jingga memisah peradaban. menjejak seribu tapak pada sebak nurani berbisik. lembut alunan sepoi mencurahkan duka, semalam rindu bersenggama dengan rasa. menjadikan anak pinak raga yang lemah, luluh, luruh oleh kenyataan.

kekasihku berbisik, menelisik hati yang bimbang di tumbuhi boemerang. tiada keteduhan, hanya dedikasi rasa yang bergejolak mencipta seribu praduga. cobalah bertanya kepada dan kemana cinta bermetamorfosa. menjadikan manusia lebih bisa berdikari, berdiri dengan tegap tanpa goyah sekalipun.

detak pada hati, detik pada waktu.

kilau berbatu membisu dibawah lautan air mata. menyesap luka, menelanjangi dada perawan yang ditumbuhi selaksa duka-duka mendalam. debar nyawa menjadi satu perhimpunan. menebar, menyebar benih kebaikan yang berimbas pada kesakitan. jangan berhenti merubah nama-nama perpisahan, disini tiada yang hilang. dia hanya mati pada preon kereta api yang membwanya menjauh dari perdebatan diri.

semalam, aku bertanya kepada zeus, kepada eros, juga kepada bisu malam, telah terjadi pergolakan pada seluruh rimbunan manusia. mereka memahakan cinta yang cuma berujung pada nafsu dan kepemilikan. cinta sesungguhnya mendiami dadamu, berbenih di jantung persegi dan hatimu. utuh. tidak melulu tentang sebuah kepemilikan, namun cinta menjadikan manusia lebih berperasaan, lebih agung dalam menjejakkan langkah di setiap keadaan.

-AKSARAmadhani.

Rindu, Kekasih …

1. Lenganku adalah sepasang ombak yang bergejolak diantara pusara peluk dan angin senja. Menaungi rebahan tubuhmu yang kaku diterpa bencana rindu dan dahaga akan jarak dan pisah di akhir temu. Bahasamu adalah rintihan yang beringsut pada kesepian, ditelan pucuk kepasrahan pada kidung kesepian jiwa.

2. Mataku adalah semesta, tempatmu bertamasya sembari membawa rantang dan tikar. Bersama keluarga atau sepasang rindu yang terlelap dialtar jiwamu, di sepasang jantung persegimu yang berdentum iringan mahakarya rindu dan temu.

3. Keningku adalah tempatmu hidup, bersama raga dan tubuhku yang hampir terkapar dikesepian dan porak poranda, angin malam berhembus halus, menyesap seluruh resah yang bergelora di dalam dada kekasih.

4. Pelukku adalah sepasang rengkuh yang membawamu pada hangat dan rapat, sebelum semakin gigil jarak berhadapan dengan rindu. Sebelum semakin pahit rasanya terpisah ruang dan waktu, juga sebelum segala hal berubah menjadi dua setelah satu.

Aku berisyarat kepadamu, kekasih. Rindu telah duduk di dalam hati, bermekaran serupa musim semi. Beraroma melati dan kenanga pada krisan kemerahan pucuk bunga mawar. Terjagalah disana hingga waktu tak pernah membuatmu gugur kembali.

-AKSARAmadhani.

MANUSKRIP 17 FEBRUARI

Tidak ada bedanya tempat ini, masih sama seperti satu tahun lalu ketika aku terpaksa mengemasi barang-barangku dan melarikan diri dari sekapan cinta-cintaan yang melenakan. Sebetulnya … bukan karena itu aku pergi, tapi orang tua bersikeras memisahkan hati yang masih hangat memasak hidangan kasih dan sayang. Aku sebagai anak, tak banyak yang bisa aku lakukan waktu itu selain menuruti dan menjadikan hati aku yang sedang berbunga gresang begitu saja.

Figura dengan foto kita berdua di setiap sudutnya, jejak langkah-langkah samar aku dan kau yang beriringan, serta tawa-tawa renyah di ruang tengah. Semua masih rapi tertata di sana seperti memiliki nyawa dan membuatnya bertahan meski sudah berbulan-bulan lamanya di tinggalkan. Aku dan kau sangat bahagia dulu. Kau ingat ketika kita berkenalan? Di foto yang terletak di meja dekat vas bunga sebelah kiri itu, aku melihat kita sedang memasang muka bahagia meski masih sama-sama malu. Bukankah itu … ketika kita makan es krim saat hujan tiba-tiba datang sebelum kita memutuskan berpisah? Ingatanku belum memudar ternyata.

Mungkin lain kali, aku akan berkunjung kembali, percayalah aku hanya ingin memastikan jika kenangan kita belum terkubur sedalam percakapan kita saat ini. ‘Ntah sendiri atau dengan pasngan aku, atau dengan anak aku nantinya. Yang jelas aku akan tetap kesini, bagaimanapun juga tempat ini pernah menjadi saksi atas mimpi kita untuk masa depan. Sebelum akhairnya seluruh perasaan lenyap dari gegaman.

-AKSARAmadhani.