KAPAN KAU MATI?

kau akan mati hari ini
katanya hidup terlalu miris
dan kau lebih baik gantung diri
dari pada melihat anak kau tiap pagi menangis
tak kebagian nasi

kau akan mati hari ini
kata kau dunia terlalu banyak eksploitasi
orang luar negri banyak kesana kemari
hanya untuk mengambil satu persatu inti sari bumi
katanya itu untuk kebaikan kami
nyatanya untuk dirinya sendiri

kau akan mati hari ini
dan kau mengulangi ucapan itu setiap pagi
sebab keinginan mati hanya ada di pagi hari
saat malam kau lupa caranya mematikan diri

kau akan mati hari ini
lantas aku mengamini
bukankah kau lebih baik mati
dari pada hidup penuh keluh dan kesah
mengutuk Tuhan
Tuhan mengutuk
lalu kau mengetuk-ngetuk doa
dan Tuhan mengetuk-ngetuk kepala kau agar cepat sadar

kau akan mati hari ini
kata kau hidup ini penuh ketidak adilan
tukang korupsi dibiarkan lari-lari
maling sendal di hajar hingga mati

kau akan mati hari ini
ketika anak kau menangis minta nasi
dan kau tak bisa beli
sedangkan uang di atm kau membanjir tak terkendali

jadi kapan kau akan mati?
aku menunggu untuk datang ketempat kau
sambil membawa doa
dan bunga melati.

-AKSARAmadhani.

Iklan

B U K T I

Sayangku,
Duduklah di sampingku kali ini. Aku ingin menceritakan kepada kamu beberapa puluh kisah tentang diriku dan dirimu yang semakin hari menumpuk kasih dan sayang di dalam saku.

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terimakasih sebab diri kita sudah terlalu panjang melewati hari yang berganti secara bersama-sama. Menikmati senja dengan jamuan rindu seminggu, dan beberapa tumpukan kisah masa lalu dan hari ini yang kita biarkan menjadi bahan percakapan yang tak habis dalam sekali pertemuan. Mungkin benar kasih hanya tentang hati namun bagi aku dan kamu kasih tak sekadar tentang itu, tak hanya sekadar tentang rasa namun juga perbuatan, untuk apa terlihat bahagia merasa dikasih di depan namun di belakang malah menyakiti. Jika kali ini aku bertaya kepadamu tentang pembuktian seluruh perkataan dan ucapanmu di serambi depan itu sepertinya tak sopan, sebab tanpa perlu aku tanyakan segala hal yang kamu berikan sudah cukup menguatkan perkataanmu.

Sayangku,
Apa yang kamu lihat dari hujan senja ini? Apakah hanya kekosongan? Apakah tak mengartikan apa-apa selain kebasahan? Maknailah dengan saksama, disana telah tercatat beberapa ratus part yang siap kita isi. ‘Ntah dengan cerita manis, pahit atau hal lainnya yang jelas di sana telah ada satu tempat terbaik untuk kita menempatkan kisah. Lantas apa yang ingin kamu titipkan disana? Tapi aku ingin menitipkan doa-doa panjangku untuk kita, hanya untuk kita saja. Disana, diantara tetesan air yang mengalir, menganak sungai hingga berhenti kelaut dan kembali lagi menjadi hujan begitu seterusnya, setidaknya janji kita tak pernah hilang dan akan terus demikian.

Kepadamu sayangku,
Aku tak pernah mengerti mengapa kita diciptakan untuk saling melengkapi. Kenapa kita yang asing bisa menjadi satu dan utuh dalam satu ikatan janji. Diantara bahagia yang bertahta, diantara rasa tresna yang agung adanya disana terselip keinginan pembuktian untuk kasih yang tak terpisah. Mungkin benar diri kita bahagia memiliki pemilik utuh atas hati namun, sungguh aku ingin sebuah bukti untuk menguatkan janji yang masih manis di bibir. Menjadi saksi atas kasih yang tak berpaling dan menjadi tempat penampung kasih terbanyak dengan bukti yang kuat. Seperti penjahat yang tertangkap basah, yang di mintai bukti atas kelakuan bersalahnya. Seperti itulah dirimu adanya, perlu ada bukti atas perbuatan yang hatimu lakukan. Mencintaiku memang benar namun bukti adalah cara aku memahami dan memaknai kasihmu yang tiada henti.

Seluruhnya, seutuhnya. Aku telah menyayangimu adanya. Menjadikanmu tempat terbaik menepikan seluruh risau dan sakitku, menjadikanmu tempat berkumpulnya rindu dan segala rasa lain yang semesta ciptakan. Tetaplah gagah dan arif diatas janji dan segerakan memberi bukti atas segala ucap yang selalu kamu agungkan agar aku tetap tinggal dan menetap di sana; hati.

-AKSARAmadhani.

PUAN KEJATUHAN BULAN

Kota ini di rundung hujan sepagi tadi, riuh sekali hingga televisi dalam kantor tak terdengar suaranya ketika menyiarkan berita tukang korupsi yang menghilang dan tidak diketahui kemana perginya. Barangkali, surat kabar dan kabarmu yang tersurat juga memberi berita yang sama mengenai hal tersebut. Atau malah kamu sibuk sendiri mencari celah yang tepat untuk meminta maaf kepadaku mengenai kesalahanmu semalam? Tak penting bukan? Tenanglah hatimu sayang, aku tetap mencintaimu meski salahmu sudah mulai menggunung dan kau bingung mencuri-curi senyumku.

Hujan berdatangan menceritakan kerinduan, berduyun-duyun mengurai cerita diantara seribu satu kisah. Aku hanya tertawa mengingatmu, gigimu yang rapi, matamu yang sipit, kumis tipismu yang manis atau bibirmu yang mulai basah oleh cerita berhari-hari yang kamu biarkan menumpuk di pelipis kiri. Seperti itulah dirimu yang aku sayangi. Tiada yang istimewa selain beberapa puluh rasa kasih dan sayang yang tiada terhingga.

Tepat hari ini, rasa rindu mengetuk-ketuk hati. Mencari dirimu yang semalam tadi menjadi bahan amarah atas lelahku. Mungkin bulan datang di bulan yang tepat namun dirimu melakukan kesalahan di bulan yang salah. Hingga akhirnya amarahku tandas di bibir yang sudah gatal ingin mencercamu dengan berbagai perkatanaan. Aku ulangi lagi kata-kata bulan hingga kamu paham jika perempuan akan sensitif di bulan-bulan yang sudah di sakaralkan. Jadi aku tak mudah memberi maaf meski handphoneku tak henti-hentinya berdering menumpuk kata maafmu.

Begitulah kiranya kita, seperti anak kecil yang suka sekali marah-marahan dan akan baikan kembali jika waktu sudah mengizinkan. Aku tak betul-betul marah, hanya saja masih hangat hatiku jika mengingat-ingat salahmu yang itu. Tak harus aku ungkit bukan? Aku tahu kamu lelaki yang memahami diriku seutuhnya, hanya saja tadi malam amarahku sudah meletup-letup di kepala.

Jadi bagaimana? Apakah nanti malam kamu masih berniat membuat perempuan yang kejatuhan bulan di bulan ini marah-marah? Tenang saja, aku bahkan bisa berubah menjadi singa dan menerkamu lantas memakan dirimu mentah-mentah jika kamu tak segera menarik kembali sikapmu yang membuatku tak enak. Ulangilah tapi tunggu konsekuensi yang akan menimpa dirimu setelah ini.

-AKSARAmadhani.

MENYAPA LUKA

Diri kita di ciptakan untuk mengingat. Membiarkan desakan demi desakan kenangan seenaknya mengulang kerinduan. Akan ada masa di mana kita akan berhenti mengucap sayang, cinta dan kasih. Ada saatnya segalanya terhenti termasuk perasaan. Luka kemarin adalah cara kita memperbaiki kualitas dan menjadi makhluk kuat untuk segala hal yang di sebut sakit. Jatuh cinta, adalah momok mengerikan untuk sesiapa yang takut terluka. Jika kita tak pernah mau menjadi makhluk terluka, jika kita tak pernah mau menerima resiko yang ada didalam setiap peristiwa bagaimana kita akan menjadi manusia yang kuat dari segala cobaan?

Kali ini, luka sayatan dalam menghunus hingga ulu hati. Tak mengakibatkan darah mengucur deras hanya saja air mata membabi buta datang dan menganak sungai di pipi. Segala rasa tiba-tiba tiada lagi berasa. Nesatapa menerpa, lara menyambut bahagia lantas aku tersedu merasakan duniaku yang perlahan hancur oleh bom atom. Aku mengemasi lagi deretan persinggahan yang dulu sempat kita jadikan tempat paling hikmat menepikan lelahnya kepala. Tapi sepertinya kamu tak lagi mau mengingat-ingat, terlalu kalap dirimu dirundung segala praduga tentang ketida cocokan kita atau alasan lainnya yang aku pikir tidak masuk akal. Jika dari dulu aku tak pernah menjadi harapan dalam hatimu tak seharusnya kamu memberi harapan. Jika dari dulu hatimu sudah tak berniat serius menyanding hatiku seharusnya kamu tak demikian kepadaku. Dan seharusnya aku ini peka terhadap segala hal yang kamu lakukan termasuk ketika kamu menggiringku ke dalam lembah menuju kenestapaan.

Tidak ada yang disebut bercanda mengenai perasaan, biarpun sebelumnya kamu tak pernah seserius ini. Perempuan berperasaan halus, jangan samakan denganmu yang bahkan tak pernah punya hati, jangan samakan diri kita dan kamu berkata ingin memahami jika semua hanyalah kamuflase untuk diri kita agar tetap bersama. Tidak … tidak, silakan angkat kakimu dan enyah dari hadapanku, sungguh mendengar segala sapamu hanya akan menyakitiku, membuat luka itu seperti kembali mengudara di relung jiwaku. Kamu tahu bagaimana susah payahnya aku melupakanmu? Kamu tahu aku mencintai kamu? Bahkan hingga sajak ini tertata rapi di layar ponselmu dan kamu baca rasa itu masih berkembang biak meski segalanya telah rusak.

Aku tak pernah menyesali segala hal, termasuk pergimu, termasuk hilangmu. Hanya saja, untuk ukuran manusia dirimu terlalu tega memutus kasih sayang yang dengan susah payah kita rajut. Kamu pikir bermain perasaan semudah itu? Aku tak mengutukmu, bukan … ini bukan salahmu. Mungkin perasaan kita sudah tak lagi sama dan rindu-rindu yang masih di dalam hati hanyalah peredam emosi jika kita masih sama-sama dalam hati. Terus terang aku memang sakit hati dengan segala keputusanmu mengakhiri jabat erat kasih sayang kita, namun aku menyadari, semakin kita mempertahankan, segalanya sudah tak lagi berguna. Jadi biarkan kita pergi saja, masalah perasaan masih berkembang biak tanpa mau di hentikan, biarkan. Bukankah segala hal butuh waktu, termasuk merelakan pergimu dan melupakan datangmu?

-AKSARAmadhani.

RINDU YANG KEMBALI PULANG

Telah pergi namun datang kembali. Kisah yang telah mati kini hidup kembali. Telah bersemi rindu-rindu yang masih betah bertempat tinggal dalam hati. Menerawang jauh ketempat muasal rindu abadi akan kembali berpulang. Bulan ini, kasih terjebak kembali, bermekaran kusuma bagai musim penghujan yang datang membasuh dahaganya tanaman-tanaman di ladang. Bersama rintik menyemai benih tanaman, di hati telah tersemai pula kasih-kasih yang dulu hilang kini siap kembali berkisah.

Diantara gelisahnya hati yang menunggu-nunggu akan rindu untuk temu, diantara sorak sorai kebahagian-kebahagian, bersimpuh sudah ditempat paling abadi cinta datang dan bersemi. Aku mengeja-eja namamu, mencari tahu tentang kamu, kita atau rindu yang telah di bungkus pada bulan ini.

Sudah berkasih, sudah berkisah dan sudah kembali kasih yang sempat hilang. Sudah kembali kisah yang sempat berhamburan. Sudah … sudah kembali rindu yang sempat hilang dari perasaan. Sudah kembali tubuh yang sempat hilang dari pelukan. Dan telah sembuh pula luka yang dulu sempat menganga.

Abadi … abadilah kamu dalam doa-doa panjangku. Jangan … jangan pergi dan mati meninggalkan kesendirian-kesendiran yang tak bertepi. Biar … biarkan saja kasih kembali berkasih-kasih. Sebab tempat pulangmu tetaplah disini, jangan menghilang lagi untuk sebuah alasan yang tak pernah pasti.

-AKSARAmadhani.

SEMESTA DI KENING KEKASIH KAU

Pergi-pergilah diri kau di pagi-pagi buta menjemput fajar dikening kekasih kau. Mungkin dia ataupun kau menunggu kecupan-kecupan yang semalam belum selesai terlaksanakan.

Datang-datanglah dengan menjinjing kesal, lantas tempatkan mulut kau pada kening kekasih kau dan rasakan kekesalan akan meluruh bersama senyuman kekasih yang kau rasa mengobati segala kenestapaan.

Jemput-jemputlah bahagia yang tercipta dari kening kekasih kau. Barangkali kedukaan kemarin senja bisa terlunasi oleh kecupan sepersekian detik hingga segala luka terganti dan hilang begitu saja.

Kembali-kembalilah ke kening kekasih kau, ada ribuan tempat yang akan membuat kau lupa akan dokumen-dokumen pekerjan di kantor yang membuat kau setengah mati ingin lari.

Pulang-pulanglah kepada kening kekasih kau, telah disiapkannya rumah untuk tempat kau pulang meski segala kesakitan bersimbah darah melukai diri kau dengan kejam.

Kening kekasih kau adalah peraduan, tempat segala kenyamanan kau dapati setelah banalitas membuat kau porak-poranda. Semesta berada di keningnya, tak perlu kau mencari tempat pulang yang lebih baik, yang lebih nyaman, yang lebih dari apapun yang kau inginkan. Sebab kening kekasih kau adalah kesunyian, tempat terbaik untuk jiwa yang lelah dan rindu tempat pulang, tempat paling aman menenggelamkan keluh dan kesah yang tak sudah tanpa takut dunia menuntut.

Jadi pergi, datang, jemput, kembali dan pulanglah kepada kening yang menunggu kau untuk mengecup. Telah disiapkannya selaksa perayaan untuk menyambut kedatangan kau dengan berabagai kejutan, bersama bibir dan tubuh kau yang akan segera menjadi kesibukan.

-AKSARAmadhani.

PEREMPUAN DENGAN TANDUK SAPI DI KEPALA

Perempuan itu menyimpan lelahnya di kepala, memanggul kewajiban-kewajiban yang menjadi rutinitas harian dan pasti membuatnya bosan. Senyumnya yang masam, pundaknya yang semakin berat dengan beban dan beberapa rindu untuk prianya di sebrang kota menjadi pelengkap. Waktu istirahatnya selalu di bagi dengan pikiran-pikiran yang bercabang, mencatat dengan teliti setiap kekata yang diucapkan atasannya. Jika saja menyerah adalah jalan utama, mungkin dia lebih memilih menikmati proses kematian dengan aku, mungkin setelah di kuburkan akan tumbuh pohon-pohon dengan cabang pikiran-pikiran yang masih saja mengerjai otaknya, atau bahkan cabang-cabang yang di ciptakan oleh segala rutinitas dan yang belum tuntas dan menagih janjinya.

Perempuan itu berjalan menyusri sapi-sapi betina yang bunting tanpa suami. Meneliti satu demi satu sapi yang akan melahirkan di waktu dekat ini dan menjadwalkan untuk mengundang dukun beranak atau dokter sapi. Atasannya menuntut untuk sigap, padahal sapi adalah hewan yang rentan kematian jika stres berkepanjangan. Seperti perempuan itu, yang memanggul lelahnya kemana-mana dan tak pernah sehari saja cuti kerja. Kadang aku merindukannya, mencuri waktuku di sela kesibukan lantas membawaku lari kebioskop dan kita menonton filem cinta-cintaan hingga berderai air mata dan pulang membawa bahagia dalam genggaman. Namun sekarang tak seperti demikian.

Banalitas selalu saja mencuri waktunya untuk aku, kedukaan yang membenam di matanya sakit yang menepi di dadanya dan segala perasaan lain yang memenuhi jantung perseginya, adalah satu kestuan utuh tanpa bisa di duakan. Dan akhir-akhir ini aku melihatnya menangis tersedu sebelum memejamkan mata. Mungkin merasakan lelah tanpa siapapun yang mengerti keadaannya. Ruang karoke yang menggoda, makanan di resto ternama atau filem bioskop yang belum turun layar, seperti ketidakmungkinan yang terus membayang dan dirinya tak bisa berbuat banyak selain berkubang dengan kesibukan dan rutinitas yang datang tanpa bisa diduakan. Perempuan itu terlalu lelah ditikam kesibukan, dan mungkin air matanya yang mengering di kamar telah hanyut bersama mimpi indahnya semalam.

Sekarang hari Senin dan segala pekerjaan bagai datang kepadanya tanpa diduga. Sapi yang harus di bagi ke peternak, dokumen dan surat berharga lainnya yang harus di siapkan dan segala pikiran resah yang berkecamuk di otaknya. Perempuan itu mencintai pekerjaannya, sapi-sapinya dan segala aktifitas lainya. Namun terkadang fisiknya tak bisa diajak kemana-mana, lelah dikepala yang semakin berat dan jadwal kesibukan yang semakin padat membuatnya tak bisa duduk berlama-lama menikmati senja dan bahagia. Mendewasa dengan kesibukan yang mengutuk membuatnya selalu mengeluh dan ingin menajdi anak kecil yang tak pernah berfikir susahnya cari uang.

Perempuan itu tak berbahagia meski uang di dompet dan ATMnya membanjir, ukuran bahagia bukan uang, katanya. Tapi kebersamaan, apa arti uang jika dia tak bisa menikmatinya. Waktu yang habis untuk bekerja dan menunggu kematian, pacar yang tak juga datang melamar, dan sahabat yang sibuk menulis mengenai dirinya, atau keluarga yang sama-sama menyibukkan diri dengan aktifitasnya. Semua seperti deretan kesakitan dan luka di dadanya begitu memar. Setiap kali mengingat adalah kedukaan yang segera menepi di pipinya, yang segera datang menjemputnya dengan sayatan-sayatan kenestapaan begitu menyakitkan.

Perempuan itu menyimpan lelahnya di kepala, menjadi semacam tanduk sapi namun terbentuk dari hal yang tidak biasa. Perempuan itu terlalu mencintai sapinya, hingga lupa cara mencintai dirinya, hingga lupa cara menyayangi keluarganya dan mengungkapkan rindu pada kekasihnya. Perempuan yang kau sebut demikian itu adalah sahabatku yang akhir-akhir ini menciptakan tanduk sapi dikepala dengan segala banalitas yang ada.

-AKSARAmadhani.