Yang Tidak Pernah Kembali

kita pernah menjadi sepasang.lengan yang saling memeluk, kaki yang selalu beriring, hati yang selalu menguatkan,juga seulas tawa, pada senja sebelum tiba waktu magrib. mencintaimu umpama.serupa prasasti yang ingin aku tanampada relung rasa terdalam.menyegerakan temu juga waktu yang tak aku inginkan melambat,mencibir perasaan agung aku juga kamu. tetapi,langkah kita kalahpelukan kita melengangkaki yang beriring akhirnya berjalan … Lanjutkan membaca Yang Tidak Pernah Kembali

Separuh Rindu yang Jauh

kita menebas seluruh rindu, jalan-jalan berlubang juga pelukan pada pinggang yang tak pernah kamu lepas meski tanganmu kebas. aku mencintai aroma dahaga pada jantung yang lembab serupa kotamu yang panas tapi asri, kekasih. kutemukan selaksa tanya yang tak usah kamu jawab tetapi bisa aku pahami maknanya. memiliki. bagai sepasang yang telah lama menunggu waktu pulang, … Lanjutkan membaca Separuh Rindu yang Jauh

MEMBUNUH RINDU PADA MATAMU

Kamu adalah rindu yang paling segan, mencintaimu serupa duka yang melelehkan air mata di balik senyum yang mempesona. Terkadang aku ingin mati dipelukmu saja, ketika matamu yang tajam itu menghunus jantung persegiku. Mempersilakan dirimu untuk menjadi saksi kematian paling manis atas tubuhku yang tidak bisa berbuat apa-apa tersebab rindu. Rindu kali ini menjadi mimpi paling … Lanjutkan membaca MEMBUNUH RINDU PADA MATAMU

Selamat Melaksanakan Ibadah Rindu

Ini hari libur, tapi tidak dengan rindu. Rindu adalah pekerjaan rumah, serupa mencuci baju atau menyapu lantai, menyiram tanaman juga membereskan tempat tidur. Rindu adalah pekerjaan yang tidak pernah mengenal tanggal merah dan hari minggu. Merindukanmu, misalnya. Waktu duapuluh empat jam adalah menit-menit yang tidak mampu meruntuhkan rindu, tetapi seperti membangunnya menjadi bola besar yang … Lanjutkan membaca Selamat Melaksanakan Ibadah Rindu

PADA PUKUL LIMA SORE

Kutemu parasmu yang manis pada dinding ponselku yang bergetar pada pukul lima sore ini, sedikit getarannya tapi mengguncang rindu dalam hati yang lama sekali tidak kamu sentuh. Tiba-tiba air mataku menyentuh tuts laptop yang sedang menampilkan pekerjaan. Rindu mengoyak moyak jantungku, kekasih. Sentuhanmu sedikit saja mungkin mampu melunakkannya dan membuat dia segera sadar, bahwa kamu … Lanjutkan membaca PADA PUKUL LIMA SORE

Teruntuk

aku melihat tubuhmu yang rebah pada pangkuan malam. kesepian menelan derita yang menjelma pada matamu. merupa sendu yang tak hilang meski sesekali aku seka ubun-ubunmu yang semakin hari renta termakan masa juga usia. pukul sebelas malam, aku menatap tulang belulang pada igamu yang semakin terlihat menonjol daripada kulitmu. tersiksa aku dihujam rekaman dua minggu lalu, … Lanjutkan membaca Teruntuk

ASMA ASMARA-

Simposium asmarandana pada leluka hati yang gelisah. Tubuhmu adalah mayapada yang melantukan elegi patah pada jantung atmaku yang papa. Aku ingin menemukan kembali sepasang manik matamu yang hijau pada zamrud katulistiwa asmaraloka di ujung jemari senja. Bersama menyentuh pipimu yang gembur selepas disiram hujan. Denganmu, durjana waktu meletakkan tangan pada panah asmaradahana, menyambut dengan senyuman … Lanjutkan membaca ASMA ASMARA-

Pelakon Sandiwara

Linimasa waktu mencabik peradaban. Kita dipaksa tertawa di bawah panggung sandiwara yang sebenanrnya kita adalah penyangganya. Semua orang tiba-tiba menjadi pemain alus yang penuh tipu-tipu. Aku yang tersipu malu-malu tersenyum di balik pijar mata pemain sandiwara. Tepuk tangan riuh redam, padahal bahunya sudah terluka parah. Padahal perut meronta-ronta minta iba. Semua mata dibutakan, semua kepala … Lanjutkan membaca Pelakon Sandiwara

Kita yang Pertama Kali

Kita merelakan tubuh membeku malam ini, obrolan panjang yang jatuh pada malam melambaikan tangan meminta untuk kita sama-sama datang dalam undangannya. Untuk waktu yang tidak singkat, aku ingin kita hanyut dalam pesta pora malam. Sembari mecicipi setiap duka di masa lalu yang sama-sama kita jadikan bahan gurauan.  Tidak ada hening di sini, kita ada untuk … Lanjutkan membaca Kita yang Pertama Kali

Surat Sakit Kepada Kekasihku

Terpisah jauh tubuh kita hari ini, kekasih. Pertemuan semalam hendaknya menjadi bahasa paling bisu untuk sebuah perpisahan yang sangat lekas terjadi. Senyummu masih lekat, bersama aroma tanganmu di rongga hidungku. Hidup telah mengajari kita arti sebuah perbedaan, mencintaimu umpama adalah hal yang paling aku impikan sejak pertama kali bertemu denganmu tiga tahun yang lalu. Manik … Lanjutkan membaca Surat Sakit Kepada Kekasihku