MONOLOG

Menatap kembali sepasang senyumu,

Nirwana kembali menjingga hari ini, cukup sempurna untuk ukuran keadaan semesta dan hati yang sama-sama baiknya.

Kau datang lagi hari ini, bersama senyumu yang menawan dan pelukmu yang tak pernah hilang rasa hangatnya. Sama seperti saat itu, tak pernah berkurang namun sepertinya bertambah sebab ada rindu yang lebih menyatukan pelukan untuk beberapa saat.

Damailah berada di sana kekasih, tempat pulangmu telah menunggu beberapa hari untuk kamu tempati. Ceritakan segala duka dan luka yang mendiami dada bidangmu, disana resah beberapa bulan menumpuk dan menjadi satu. Apa kamu masih sungkan? Kekasih, beberapa hari aku telah kehilangan senyum itu. Aku tak pernah mencari kesanakemari namun dia hari ini datang tepat di sini.

Ada rindu di jantung persegi yang mencoba membawa pelukmu lebih dalam. Memahami sisi lain dari dirimu yang masih terus menyita pertanyaan. Tapi kamu baik-baik saja, ‘kan? Sebab mata panda dan bulu-bulu di pipimu menandakan hal lain sedang bergelora di dalam jantungmu. Apakah pekerjaan? Apakah keadaan?

Kekasih, kamu disini dan masih di tempatmu. Jangan memikirkan pekerjaan yang membuatmu hilang dari aku. Aku memang mau memonopoli dirimu, sebab rinduku telah banyak menikam dadaku beberapa hari ini. Jadi mas, tidakkah kau berniat menetap sebentar sebelum pekerjaan merebutmu kembali dari aku? Barangkali kita bisa minum kopi di teras rumah sambil membayangkan tentang pernikahan atau tentang kamu dan aku yang sebentar lagi mengulang dosa paling berkesan?

-AKSARAmadhani.

Iklan

MONOLOG

Mencintaimu dalam ketiadaan,

Aku mengeja namamu dengan tergesa-gesa ketika senja datang membawa senyumu di rekahan keemasaannya. Mereka membisu ketika aku bertanya mengenai dirimu yang akhir-akhir ini melupakan cara menyapa.

Masih aku bermain dengan imaji-imaji yang terus bertanya tentang ciuman kita kemarin malam di beranda. Tentang resah kita menanti temu yang tak kunjung datang. Dia bertanya demikian, terus-menerus dan tak berkesudahan. Apakah segalanya hanya kepalsuan? Atau memang benar-benar benar tiada apa-apa selain hanya untuk menghabiskan waktu?

Aku menantimu, diberanda rumah, dibalik senyum senjakala yang indah, diantara suapan-suapan makan malam.

Aku mencarimu, ditempat kita bertemu pertama kali, di pulang-pulangmu yang tak tentu, di keberadaan rindu yang sia-sia dirasa, dan ditempat paling kesepian luka mencari rengkuhan.

Menit mengajakku berkelana keujung waktu yang memutar segalanya. Dari pertemuan pertama hingga kata terakhir yang masih di kerongkongan. Aku menantimu dengan debar, berdebat dengan segala ingat, terpaksa mencurangi waktu termasuk mengindahkan luka-luka demi kamu.

Namun, semuanaya memang benar-benar tiada. Kamu dengan kesibukan yang melupakan diriku, dan aku dengan beberapa cara untuk mengingatmu meski lama-kelamaan hanya berbuah kebencian dan ketiadaan.

Mencintaimu itu menyakitkan, sekat penghlang, ragu serta bimbang dan kekamu-kamuan lain yang tak pernah mau sekali saja berniat menyempitkan egois dan menjalani dengan baik-baik kemabli.

Barangkali, matamu sudah teracun oleh keindahan lain.

Barangkali, telingamu sudah tak mau kembali mendengar kabar-kabar tentang aku.

Barangkali, lidahmu tak mau lagi mengucap rasa cinta kembali kepadaku.

Barangkali, tubuhmu sudah di tumbuhi kesibukan-kesibukan lain dan itu menyingkirkan aku.

Barangkali, kau tak benar-benar mencintai. Dan aku terlalu mengharap-harap dengan sebab yang tak pernah persis aku tahu maksudnya.

Kepala kita berdusta, ucapan kita membohongi, dan hati kita sebetulnya tak pernah benar-benar tinggal. Dan hanya demikian; menghilang bersama ciuman-ciuman di ujung harapan.

Kalaulah saja segala sakit dan luka bisa sembuh oleh obat merah dan di balut kain kassa. Mungkin, aku tak pernah seterpuruk ini mengetahui kenyataan bahwa ini semua hanyalah ketiadaan dan tidak benar-benar diadakan.

Aku mengurai namamu, mencari tahu perihal caramu meninggalkanku. Beberapa ratus kekalahan sudah menepi di hati, mungkin rintik hujan sebentar lagi menepi di pipi dan ingatan membanjir deras mengenai kamu dan hal lainnya.

Hatimu,
Dirimu,
Kamu,

Dendam membisu di ujung keramah-tamahan anganku menepikan nama-namamu. Menjadikannya jembatan untuk menemui imaji liar mengenai bibirmu yang terulas senyuman.

Resah yang mengulang kisah, cerita yang mengulang cinta dan rindu yang menggulung temu.

Mencintaimu aku tak benar-benar meraskan keberadaanku di matamu. Tidak benar-benar ada, sebab kita ini maya. Ketiadaan yang hanya di ada-ada dan berusaha diadakan padahal kita tak pernah benar saling mencinta.

Tak pernah,

Terisak ditikam belati luka-luka yang terus menerus menggerus sesal tiada kira. Dunia yang kuinjak, sebak yang membenak, dan luka lainnya beranak pinak dalam kehampaan.

Tidak pernah ada,

Hanya menyoal tentang itu. Dan kita akan sama-sama mati oleh keadaan atau kehilangan yang selalu di semogakan.

Biarkan hari ini segalanya mencari celah kelemahan. Biarkan air mata mengurai luka serta sakit di dada. Tentangmu, tentang cinta dan tentang rasa sayang, adalah ketiadaan yang tidak akan pernah ada dan di ada-ada.

-AKSARAmadhani.

MONOLOG

Kepada adikku yang cintanya tak direstu,

Adikku,
Perpisahan adalah bagian dari percintaan, tiada yang benar-benar abadi di dunia ini selain perasaan. Perasaanpun kadang bisa saja hilang tergerus keadaan, namun yang pasti dalam kehidupan adalah perpisahan dan kehilangan.

Mungkin, kemarin adalah luka, luka yang paling melukai dan tak sekalipun ingin kamu rasakan, tapi kamu salah adikku. Kamu harus ingat jika segala yang buruk akhirnya pernah berawal indah. Menangis, terluka, kecewa dan beberapa puluh tanya mengapa dan kenapa terus mengitari kepala. Demikian terus dan selanjutnya hingga kamu merasa bising lantas air mata menggenang di pelupuk.

Sadarilah adekku, tak selalu kasih berujung manis kadang dia berujung tragis, bukan untuk membuat kita terpuruk tapii untuk membuat diri kita paham jika segala hal masih perlu di perjuangkan; restu misalnya.

sekali lagii adeku,
luka yang paling menyakiti adalah luka ketika tidak direstu, sebab segalanya bagai melukai. Tak apa adekku, akhir adalah awal, dan untuk ini kamu harus mampu melangkah. Tak usah membenci atau mengumpat, anggap ini ujian paling hebat dalam hidup, agar kamu kuat dan tetap semangat.

-AKSARAmadhani.

MONOLOG

Rindu-rindu yang mengabadi,

Gigil, bukan karena kedinginan namun karena pelukan-pelukan yang kini berubah menjadi kebenci-bencian. Yang abadi adalah rindu sedangkan bayang kau semu, kau tak pernah abadi, bahkan ketika dongeng tentang kita diceritakan kembali kau tak lagi punya tempat di hati tapi rindu tentang kau selalu punya tempat sendiri.

Tentang rindu yang dibawakan angin senja ini, adalah campuran senyawa kisah dan kasih yang beberapa hari lalu rela aku jadikan pajangan di tempat terbaikku menepikan pikiran. Sebab rindu tak pernah mati … dia tetap mengabadi, membawa dongeng purwa dan bersandarakan pada kekamu-kamuan yang hatinya mulai mati suri.

Rindu adalah sisa kisah yang mengabadi bersama waktu. Dia tak pernah meminta untuk dirawat namun dia selalu tumbuh di sana. Rindu bermekaran didinding sukma, menyapa kenangan tentang kekasih kau yang hari ini ditimang di hati orang lain. Mereka berbahagia hari ini, malam ini tepatnya. Sebab dia mendiami rumah yang beberapa hari lalu menjadi tempat kau beramah tamah.

Kekasih, rindu menjelma bagai parodi nyanyian angin kepada senja. Halus namun tetap mencekam. Dia bermetamorfosa, berotasi dan berevolusi bersama detak pada jantung dan nadi kau. Jangan bergerak apalagi melupakan, atau memang kau ingin di tikam olehnya lantas mati secara perlahan?

Aku menawarkan kau sekotak rindu sebagai hadiah ulang tahun kau untuk beberapa bulan yang akan datang, kira-kira apakah kau mau mencicipinya? Jangan takut teracun, dia hanya mencandui bukan meracuni.

-AKSARAmadhani.

MONOLOG

Mendengarkan hati berkisah,

Jangan lantas pergi setelah mendapat hati yang kamu inginkan selama ini. Menjadi orang lain yang asing setelah sebelumnya mengharap-harap memilikinya. Kisah cinta tak selucu itu.

Hatiku menangisi kepergianmu malam itu, ketika pelukan dan kekata di lidah kita menghambar. Mungkin, hati terlalu menggantungkan kehidupannya kepadamu hingga kepergianmu adalah luka yang terus saja menggerus keadaan hati hingga rasanya benar-benar nyeri. Berharap kamu akan kembali dan membawa hati aku yang telah parah terlukanya mungkin itu pikiran-pikiran bodoh yang sampai saat ini masih hatiku harapkan.

Mas, selama apapun kita bersama dan saling mengenal semua hancur karena sebuah perasaan yang besar. Aku menyayangkan hal demikian, tapi apa boleh buat. Sepertinya kamu lebih tertarik untuk melukai aku dengan cara yang begitu mengesankan hingga aku benar-benar tak mampu berhenti terbelenggu dalam rasa jenuh dan keliru karena mengenalmu.

Mas Rahman, sesekali datanglah kemari kembali, tak usah membawa apa-apa. Aku hanya ingin kamu mendengar hati berkisah tentang kamu, tentang kasihnya yang tak pernah palsu, atau tentang cerita manis kita kemarin hari di warung nasi goreng. Cukup itu Mas, dan aku tidak meminta lebih. Sekiranya itu susah dan tak bisa kamu lakukan atau keberatan, tak apa. Tapi, Mas. Jangan datang kesini kembali, jangan pernah hampiri atau malah mengorek luka yang sama sekali belum sembuh. Aku hanya takut pertahananku hancur hanya karena sapa yang tak seperapa pentingnya.

-AKSARAmadhani.

MONOLOG

Kepada Mas Rahman,

Hari-hari adalah enigma, dimana penampakan air mukamu yang tiba-tiba datang di depan aku dengan senyuman yang sama persis kamu lakukan ketika kita berada dalam satu waktu. Harusnya, aku sudah melipir untuk menjaui itu namun sial! Aku malah menikmatinya sebagai pengobat rasa lelah setelah seharian berjibaku dengan kesibukan.

“Hay … apa kabar? Aku rindu.” Dan sekali lagi itu hanya bayang-bayang yang lantas hilang. Sepertinya usaha aku sia-sia melupakan dan menyibukkan diri hari ini, sebab di malam-malam begini kamu terus datang membungkus senyuman dengan keadaan yang tepat.

Tak kutampik! Aku memang merindukan, bagaimanapun juga kita telah dan sempat menjadi satu pada waktu yang tak singkat. Perubahan tiba-tiba kita berdua menjadi salah satu hal yang membuat aku terpukul sedimikan hebat. Bagaimana mungkin? Tapi semua memang mungkin.

Sudah hampir tiga bulan yang lalu hingga hari ini, hingga rasa itu masih ada di hati dan tak mau pergi. Hingga terkadang aku merasa kesepian dan sendiri, hingga tiada lagi yang tersisa selain sesak di dada.

Aku ingin mati rasa, tak lagi menyebutmu dalam doa atau mengingatmu dalam rasa berdosa. Seluruhnya hanyalah luka, luka yang benar-benar membekas di dalam sukma.

Bagaimana bisa dua orang yang memiliki perasaan besar lalu malah memilih pergi meninggalkan tanpa mau mempertanggungjawabkan?

Jika hari-hari yang akan datang masih tentang kamu, apakah sekiranya aku berdosa merasakan ini semua? Apakah aku memang tak berhak? Kau terlalu indah untuk dihentikan berotasi di dalam pikiran, dan mungkin otak aku tak mau berhenti menjadikamu poros yang nomor satu.

Namun, tenang saja dan percayalah Mas Rahaman, aku akan baik-baik saja. Meski dengan begini aku melukai hati sendiri tak apa, anggaplah ini konsekuensi atau hukuman sebab aku berani mencintaimu dengan keterlaluan. Jadi biarkan saja begini hingga rasa itu mati sendiri.

-AKSARAmadhani.

MONOLOG

Mendaur ulang hati,

Patah hati, adalah konsekuensi yang lumrah terjadi ketika kita dengan bangga menggadaikan perasaan kepada seseorang yang di sebut kekasih.

Akhir-akhir ini, menjadi diri sendiri dengan segala rutinitas yang menghibukkan membuat aku lebih paham arti kata sendirian. Sendirian bukan berarti tak berteman, bukan berarti tak memiliki sebuah tujuan, tapi sendiri untuk fase beberapa bulan demi mengembalikan kehancuran hati yang sempat redam oleh badai peremuk masa depan.

Semakin aku mencoba meninggalkan, semakin ingatan mencengkeram otak dan membuat pribadiku menjadi terasing dan acuh kepada orang lain. Aku tak perlu melupa sebetulnya, karena otak kita di fungsikan untuk mengingat hanya saja ini mengganggu. Padahal … patah hati adalah soal biasa, sebab ketika aku sudah siap jatuh cinta maka aku juga harus siap patah hati.

Beberapa hari lalu aku mendengar bahwa seseorang telah bunuh diri di dalam ruang indekosnya sebab di putuskan kekasih. Dan hal itu tidak hanya terjadi sekali bahkan dua kali kejadian namun dengan percobaan pembunuhan yang berbeda.

Aku pikir, kenapa harus demikian?

Patah hati lantas mematahkan segala harapan dan juga masa depan. STOP! Kita bukan bocah kecil yang sedang berlatih berjalan lalu menyerah bukan? Sejak kecil malah kita di ajarkan menjadi orang tangguh, misalnya: jatuh ketika berlari kembali berdiri dan lari lagi. Lantas jika dewasa ini kita memikirkan jatuh lalu mati saja, apa pelajaran di masa kecil kurang tertanam di pikiran?

Aku sadar, aku tak pernah bisa menyebutkan dengan siapa aku jatuh cinta dan patah hati. Sebab segala hal kembali kepada Tuhan Maha pembolak balik hati dan perasaan. Aku juga tidak pernah bisa meyakinkan kepada siapa saja bahwa patah hati adalah sebuah kesempatan menjadikan dewasa. Orang patah hati akan lebih menggunakan okol dari pada akal, dia melakukan segala hal demi berhenti mengingat mantan pacar.

Mendaur ulang hati, kau perlu itu untuk mencoba meraih mimpi kembali. Sesekali … setelah patah dan di cabut paksa tanaman perassan di dada kita memang harus mengolah media tanam perasaan kita kembali seperti semula, memantaskan diri kembali, mencari keadaan baru lagi, mencoba merasakan dan mempelajari kegagalan kemarin untuk kebaikan di masa yang akan datang agar segalanya tak kembali terulang.

Patah hati itu menyakitkan memang, maka dari itu. Segala hal yang pahit jangan di rasakan berkali-kali, tapi cukup sekali. Dan katakan pada diri sendiri jika kali ini tak akan gagal lagi.

Melangkahlah … di sini aroma kenangan memang pekat, jangan mendekat atau hatimu semakin sekarat di hajar olehnya. Menjauhlah … pergi, cari, dan curi, rawatlah media tanam perasaanmu jangan malah semakin dilukai dengan kelakuanmu.

Sebab kita-aku dan kamu- layak mendapat cinta dan sayang yang tepat dari orang yang datangnya tidak cepat namun kasihnya lebih berat.

-AKSARAmadhani.