Arsip Kategori: Tak Berkategori

Rengkuhan Ternyaman

Sepasang rengkuhan tangan
Berdampingan memeluk
Menjaga jiwa ringkih
Mengiring langkah tertatih
Kuukir namamu pada paras langit
Mengingat pelukmu dimalam dingin
Mengingat tangis nyaring di pekat malam
Dan mengingat timangmu disela kantuk mengutuk

Di kursi rotan itu
Banyak menyimpan cerita

Di meja makan itu telah tertoreh kasih
Dalam semangkok sup dingin
Beraroma sayang
Dan cinta tiada pamrih

Seirama malam dan detik berloncatan
Tergilas fajar dan siang bergantian
Derap kaki dan waktu berlomba-lomba
Menyempurnakan cerita
Seluruh aku
Adalah kau yang sempurna
Tiada tempat paling nyaman
Paling aman
Selain pelukanmu
Selain dirimu
Ibu

Iklan

Ketika Nanti

Bolehkah aku sedikit menyeimbangkan angan dengan realita? Mengukir secara jelas cerita yang akan kita tapaki di usia enampuluh atau tujuhpuluh. Dengarlah, doaku tetap sama semesta menyatukan kita dengan bijaksana. Dan jika sebelum usia tersebut salah satu di antara kita telah tiada, berjanjilah untuk tetap setia. Karena aku yakin kita tidak pernah berpisah secara hati namun tempat. Anggaplah kita sedang diuji untuk longdistance dan suatu ketika nanti kita akan bertemu kembali.

Aku selalu menyemogakan segala hal termasuk menemanimu diusia yang tak lagi muda. Kau percaya cinta bukan? Dia tak akan pernah melihat tubuhmu yang mulai keriput dan rambut putihmu yang semakin kusam. Dia tidak pernah mau tahu tentang dirimu yang semakin lemah atau bahkan tidak mampu kembali menemani menapaki jalan yang dulu pernah kita lalui. Cinta tidak pernah menuntut untukmu menjadi orang lain, percayalah itu.

Suatu saat nanti, di hari yang ntah keberapa diusia kita yang mulai senja. Kuingin mengukir kembali nostalgi yang perlahan hilang di telan waktu berloncatan. Di taman ini, di tengah jantung kota yang dulu menjadi tempat kita berbincang kesana kemari, kuingin kembali menghadirkan namamu diantara riuhnya anak muda berfoto selfi. Mengindahkan apaapa yang ada disekitarnya termasuk cerita kita yang dulu juga kita ukir di tempat ini.

Mungkin, kita tak lagi mampu berjalan tegap. Mungkin kita akan lebih rapat menggandeng tangan karena ketidak mampuanmu atau aku yang sudah punya sakit sendi. Mungkin kamu akan membawa tongkat kayu, atau malah aku? Ah … itu bukan masalah, yang jelas aku bahagia kali ini menemanimu menghirup udara dengan bebas. Ternyata benar, kepandaianmu menjaga jantungmu dan hanya kau isi dengan cinta serta kasih untukku sangat berharga, buktinya kau tak pernah mengeluh mengenai jantungmu sesak atau lainnya.

Setelahnya, aku ingin merapikan syalmu yang mulai berterbangan. Membenarkan kacamatamu yang akan terjatuh bahkan menyuapkan makanan kedalam mulutmu secara konstan sembari melihat anak dan cucu kita berlarian.

Bagaimana, apakah kau ingin? Sungguh aku menginginkannya, menjadi pendampingmu dari usia muda hingga renta, tak pernah sedetikpun hilang dari sekejap mata, dan menjadikanmu bahanku berbincang dengan pemilik semesta.

Aku ingin mencintaimu dengan segala kesederhanaan, menemanimu diusia senja dengan kebahagiaan melihat putra serta putri kita menjadi orang terdepan. Aku ingin menjaga cintamu dengan utuh setelah segalanya kita bagun dengan peluh. Aku ingin kita terus begitu, hingga waktu yang tak kembali merestu, hingga semesta memisahkan dua yang telah menjadi satu.

–AKSARAmadhani.

Aroma Elegi Pagi

Saya berjalan menyusuri pagi dengan embun kerinduan yang terus berloncatan di kepala, kaki dan juga saku celana. Saya merasakan pelukanmu di antara geliat dedaun mencari secercah cahaya mentari. Terkesima akan sederet lagu alam, melucuti melodi merdu rindu tanpa perantara. Tersebutlah saya diantara langkah menuju mentari. Melewati sekalimat tertahan di tenggorokan tanpa mampu dilukiskan kenyataan. Dirimu, masih jauhkah jarak serta kenyataan yang menahan diri kita untuk saling memeluk, pada kenyataan cinta terkutuk!

–AKSARAmadhani.

Tercekik Elegi Pelik

Detik berhamburan jatuh dipelupuk waktu. Berdesir mengemas potongan irama pada langkah kaprah puan beraroma melati.

_________

Melati oh melati …
Wangimu yang mewangi bagai pengikat, pria mana yang tak terpikat harummu semerbak membuat tak jinak. Siapa tuan yang akan tahan oh … Melati.

(Sementara diruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Mengutuk dirinya yang jelita namun di rindukan pria tak berwibawa)

Melati oh melati …
Seperti apa tuan akan mengagumi, merapal namamu sambil onani. Mengingat senyummu sambil gigit jari, dan membayangkan dirimu bagai perempuan murah yang siap ditiduri.

(Sementara diruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Merusak gincu merahnya, merusak alis tebalnya lalu menggoresi tangan kanannya sambil membayangkan seorang pria)

Melati …
Senyumu yang menawan hati, buatku ingin menjelajahi. Satu lembah dan dua gunung indah. Melati oh …

(Sementara di ruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Menangisi nasib dirinya lalu perlahan mengucap nama sang pria dengan keras penuh amarah)

Melati …
Elok bibir merah membuat darah mendidih. Desir jantungku terus berloncatan, bagaimana jika kita berpagutan? Melati ah …

(Sementara di ruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Sambil terus menangis dan terus mengucap serapah nama pria yang dia sebut tanpa henti. Mengulanginya berkali kali, mengucapkannya tanpa mau berganti.

Melati …
Teruslah menari diatas tubuh kecilku ini, rasakan hujaman senjata yang sudah dua kali menghasilkan buah masak ini. Hiraukan istriku yang telah pergi, jangan pikir kau menjadi pengganti karena cinta untukmu sampai mati. Aah …

(Sementara di ruang tiga kali emapat, ada perempuan melompat dari kursi lipat. Esoknya, pelayat datang mendekat, membawa air mata dan beberapa cerita murahan tak berupa)

Melati …
Sediahakah kiranya kau menjadi pendamping dari pria beranak dua seperti aku ini? Sungguh indahmu tak boleh hanya dinikmati namun harus menjadi milikku abadi. Oh Melati …

(Sementara perawan sudah dimakamakan, dengan beberapa wasiat dimeja kamar, jika dia lebih baik mati sia-sia dari pada hidup dengan pria anak dua yang sudah tak punya rasa welas dan wibawa)

–AKSARAmadhani.

Setelahnya~

Setelahnya, tiada lagi yang tersisa selain cerita. Perihal kita yang telah jadi kata, atau kita yang tak mampu kembali berkata-kata. Semesta memang hebat, memisahkan dua manusia yang selalu berdebat.

Tiada yang salah kali ini, hanya saja terkadang kita lupa jika diantara cinta dan kasih yang berotasi ada beberapa sayang yang juga mengitari. Ada beberapa jabat hangat yang selalu membuat erat, bahkan ada senyuman yang melumat kenyataan dengan hebat.

Terkadang, aku tutup mata. Mengenai beberapa hal, termasuk menyadari jika tiada lagi apaapa diantara kita selain penyesalan dan kenangan. Terkadang juga otakku tidak berjalan sesuai biasanya, ingatan tentangmu yang terus mengitari membuat sesak pikiranku, padahal oksigen cinta yang kau beri kian menipis dan aku semakin tak tahu harus seperti apa setelahnya.

Kenyataan memang terlalu getir di pahami. Bagai pengidap sakit maag yang dipaksa menelan mentahmentah lidah buaya sehabis di petik padahl belum dimasak. Nanun kenangan tetaplah kenangan, tetap menjadi angan dan tak akan menjadi masa depan.

Semuram mendung pekat malam hikmat, cinta perlu berhenti berotasi setelah segalanya susah dimengerti kembali.

–AKSARAmadhani.

Melukis Senja Merakit Rindu Mengudara

1/
Memoar berjatuhan di usai cerita sejarah menikam gelisah.

Kukuliti remang wajah kangen di tempias senjakala. Mengulang kembali kenangan yang kian mengudara terbawa angin utara. Sementara semerbak aroma petrichor menggungah angan yang telah terlelap. Merusak pertahanan jiwa dalam semburat mahadaya resah setelah pisah berpendar dalam kehikmatan.

Kuracun angan tentangmu di sepi tak berkesudahan. Menimang risau bersama retakan palung inti hati terdalam. Sebelum akhirnya kita menjadi kata, pendar diriku bagai mentari tua, tak takut surut meski mendung menggelayut. Tak goyah meski terus digugah oleh gentar pendar bulan berganti malam. Hingga akhirnya mendung pekat menyepi di ujung mataku, membuat tetes air hujan yang terus menghujam bayang-bayangmu meski tak tentu.

2/
Sudah …

Caramu melukaiku begitu indah, meski pisah adalah jalan baik untuk berhenti mengasih. Namun tidak dengan cerita masa lalu yang terus melagu dalam kalbu. Kusepuh kepulan asap beraroma minyak wangimu di hidungku. Kusesap kopi beracun buatanmu malam itu. Kusingkap segala catatan manis tentangmu, dan hanya kusisakan pahit di dasar cangkir jantung persegiku.

3/
Selembut awan, sejahat kenangan.

Terkoyak sendu dipias wajah nirwana, memuisikan dirimu didebar semesta bercerita. Musabab aku yang masih saja hidup dimasa lalu, aku rasa itu bukan urusanmu. Aku hanya melukiskan kenangan diatas kanvas warna hitam. Tetap merengkuh ragamu dari jauh meski kita tak lagi bersamaan.

Biarkan aku mati disini saja, bersama gagak yang akan mencabik derasnya darah serta nanah pembinasaan cinta yang kalah. Aku tak mengapa, karena bagiku mati memeluk kenangan sendiri jauh lebih mulia dari pada meneguk racun madurasa.

–AKSARAmadhani.

PENDAR DUKA; SEMESTA BERCERITA

Dekaplah harap didetik runtuhan karang terkoyak ombak lautan. Rasakan hantaman bertubi datang mencakar sadar, meluluh lantahkan derai kedukaan yang menganak sungai di hati paling inti. Dengarkah kau pada bisikan pesakitan di dada, risau yang tak berkesudahan, mendamba yang tak pantas di damba, menunggu yang tak pernah tahu, mengharap yang tak pernah mau didekap.

Sedalam kesal, sedangkal sesal jatuh di belakang catatan cerita kucal. Manis hanyalah cecap pada madurasa beracun, mematikan, merusak ingat yang belum sempat tersirat. Diujung sempit decit kerikil yang terus terhimpit, bagai pendar pucuk pengharapan yang kian mengudara. Sederet musik semesta melagu digendang telinga. Menyurat isi hati yang hebat terjerat sumpah bernanah penuh darah.

Detik yang bergerilya di palung jantung paling ujung, menerka rekahan luka yang hanya akan berpangkal pada duka. Merampas, mengemas, menebas segala indah yang hanya sebuah ucap tanpa sikap.

Sedangkan kali ini, di damba kearifan semesta yang mengeja rupa senjakala. Kuhadirkan kembali manifestasi rasa yang mengalun bagai gita gitar tua. Semerbak lagunya mengitari, menyudahi segala bentuk nestapa dan derai air mata. Kusam dan lebam, merusak hingga menggegam dengan geram. Kusudahi luka yang tiada kira, kupeluk semesta yang terus menawarkan cinta tanpa takut celaka. Rapuh … peluk aku dalam peluh, sudahi duka, kembali mengudara, semesta mengucap bahagia.

–AKSARAmadhani.