MONOLOG

Yang kau sebut perempuan,

Tiada yang menawan dari perempuan, seseorang yang biasa saja dengan penampilan demikian adanya.

Tiada yang indah dari perempuan, seorang yang di cipta Tuhan untuk melakukan aktifitas tanpa beban dan suka mengeluh jika kecapekan.

Namun, tiada yang bisa memahami perempuan, seseorang yang bisa membolak-balikan perasaan dan terkadang membuat lelaki tunggang langgang mencari alasan untuk sebuah kata maaf.

Ketika kau bersedia masuk kepelukan perempuan, berarti kau siap untuk menjadi perindu yang kapan saja akan di hantui. Perempuan memang tidak menawan, namun dia memiliki seribu daya pikat yang membuat kaum adam tak berhenti terjerat. Perempuan memang tidak indah, sebab keindahan perempuan tidak tampak dari paras dan bentuk badan, namun nurani.

Perempuan, makhluk membingungkan yang tak jarang membuat kamu marah-marah. Sebetulnya, tak banyak yang seorang perempuan inginkan ketika dia demikian, dia hanya ingin kau duduk di depannya, mendengar keluhnya atau duduk di sampinya dan bersedia memberikan pundak kau untuk sandaran.

Sadarilah, perempuan hanya ingin di dengar ketika berbicara. Jadilah pendengar yang baik untuk perempuan yang sedang merasakan hantaman terluka dari hatinya, jadilah lelaki yang selalu waspada dalam situasi tak menentu perempuan. Sebab pada dasarnya perempuan memang demikian.

Yang kau sebut perempuan, adalah makhluk tangguh. Apakah kau menyadari satu hal darinya ketika kau lukai? Dia akan diam saja dan menangis sejadi-jadinya di belakang kau. Ketika kau sudah membuat dunia perempuan pora poranda, ketika itu pula kau telah menghancurkan dan melukai hati satu dari duaratus milyar perempuan di muka bumi. Padahal, perempuan hanya ingin di mengerti bukan hanya kau iming-imingi ucapan cinta dan sayang setiap hari.

Mungkin, masih banyak hal yang tak bisa kau mengerti dari seorang perempuan. Makhluk mulia yang Tuhan turunkan di bumi untuk melengkapi tulang rusuk lelaki. Mungkin juga masih banyak hal yang kurang kau sadari dari seorang perempuan, namun yang jelas dan pasti, apapun pangkat, keadaan dan kenyataan yang kau terima, tetap hargai perempuan yang kini bersanding atau sedang ada di pelukan kau. Sebab … cinta perempuan itu tulus dan suci, setulus dia mengucap rindu setiap malam ketika kalian tak sedang dekat.

-AKSARAmadhani.

Iklan

MONOLOG

Kepada hujan,

Malam hilang hari ini, santapan buku terdampar di kasur dengan seprai warna hijau. Beberapa lembar uang kertas berhamburan di meja rias bersama kosmetik dan kupu-kupu kertas yang beberapa hari ini menjadi hiasan pemanis kamar.

Diam …
Dengar …
Rasakan …

Hujan seperti memanggil-manggil nama kamu untuk bersetubuh dengan kasur, dia seperti hidangan menggoda yang siap di santap dengan lalapan bantal serta selimut tebal. Hiraukan perasaan tak karuan, malam ini seluruh lelah milik malam dan kamu tak akan pernah bisa berhenti bermandikan mimpi.

Ketika laju waktu bagai kereta api, tepat di bawah arloji aku menghitung waktu untuk menyempatkan diri bertanya kepada kantuk. Sebab dia selalu setia datang pada pukul 10.00 mlam. Seperti ada magnet yang mengharuskan untuk segera tumbang tanpa aba-aba padahal mata masih ingin bertemu dengan teman dunia maya. Telinga masih ingin mendengar nyanyian hujan dan kulit tubuhku masih ingin merasakan pelukan dingin.

Dengar ‘kan apa yang semesta nyanyikan? Mereka bagai orkestra singgasana yang apik dan mulia, tak perlu di mainkan dan repot-repot kamu petik atau pukul tapi cukup kamu dengar. Air yang jatuh tak berdosa bersama gelegar halilintar yang samar menambah suasana malam bagai keadaan ternyaman yang belum pernah dirasakan.

Namun sayang, aku tak hidup di dekat sungai yang biasanya ada banyak katak bernyanyi riang menyambut hujan datang. Ah … mereka pasti bersahut-sahutan dan iramanya indah. Tak apa … aku sudah cukup bersyukur begini tanpa harus begitu.

Cukuplah …
Dingin telah menembus kaos tipisku, dan kamu pasti mengerti apa yang akan kami lakukan; meringkuk di dalam selimut sambil menunggu balasan pesan kekasih pujaan.

-AKSARAmadhani.

KEKASIH

Perempuan yang memeluk ragamu dari kejauhan,

Mungkin, ini adalah syair pungkasan yang aku tuliskan untuk kamu, kekasih. Sebab aku telah banyak menguburkan rindu kita pada bait-bait tulisan aku. Dan barang kali, suatu senja nanti syair-syair ini akan kamu ulang kembali untuk mengingat aku yang lebih dahulu mati dan meninggalkan anak-anak kita yang telah menjadi anak orang lain.

Dimalam yang sendu akan hujan hari ini, setulus rindu dan sayang dari dalam hati biarkan kasih-kasih kita bemerkaran seperti kelopak melati dan mawar di taman. Kau akan terus menjadi nyanyian-nyanyian sukma yang berkembang biak di dalam hati kekasih. Meski kadang iramanya tak selaras, tapi percayalah kekasih, semua terjadi hanya untuk menguji agar kita mau kembali belajar dan tak gegabah soal masa depan.

Aku memeluk ragamu dari kejauhan, aku menyemogakan temu, rindu, kasih dan sayang yang akan terus aku seduh di pagi hari bersama teh yang akan kamu nikmati dengan roti. Agar kamu mengingat kita meski semesta belum merestu akan bertemunya rindu dan kecup kita.

Sekarang kekasih, lembar demi lembar cerita yang tertulis rapi adalah bagian-bagian kisah dan kasih kita. Tak banyak yang bisa aku berikan untuk membalas seluruh cintamu selain bingkisan syair dan tulisan ini. Sebab, kau tak hanya akan menemu diri aku tapi seluruh debar dan debat hati dengan rindu yang berulang kali membuat aku kalah.

Sekali lagi kasih, selamat atas pertemuan yang sangat manis ini. Kamu bahkan telah menempati jantung dan hati hingga nantii sampai nanti, kamu tak akan tergantikan oleh sebab-sebab yang belum tentu terjawab.

Peluk terhangat dari aku, perempuan yang rela di setubuhi rindu setiap hari, berulang kali.

-AKSARAmadhani.

KEKASIH

Kenapa harus rindu?

Tidak ada pesan hari ini.
Sesiapa dari aku dan kamu sibuk mengucapkan selamat datang namun tak mau mengucap perpisahan.

Tidak ada kata manis hari ini.
Sebab, kata-kata manis akan berakhir tragis dan mengiris-iris.

Tidak ada sapa hari ini.
Karena siapapun dari aku atau kamu telah di tikam sibuk yang bertumpuk-tumpuk.

Namun, ada rindu hari ini.
Sebab tiada pesan, kata manis dan sapa rindu lantas bermunculan bagai kuncup pada kacang hijau yang sedang mencoba menyesuaikan diri dengan dunia.

Sebab rindu berkembang biak cepat dan aku menyadarinya terlambat. Mungkin memang demikian. Dan aku akan kembali kalah dan kamu menyerah.

Namun …
Tak lantas berpisah, sebab rindu akan mengembalikan pelukan erat kita kembali.

Kekasih, berkabarlah. Aku menunggu hingga kantuk menjemput mimpiku.

-AKSARAmadhani.

KEKASIH

Selamat malam kekasih,

Aku sedang merebahkan lelahku di atas ranjang malam ini. Baru saja lelahku tersungkur setelah seharian di hajar banalitas dan keramaian jalan yang tak henti-hentinya merebut perhatian aku dari kamu.

Apa kabar kamu hari ini kekasih?

Maaf, aku sedang memperjuangkan masa depan kita. Kamu tahu bukan aku ini anak kerja, yang kadang waktu untuk kekasih rela di bagi dengan tumpukan kertas-kertas dan dokumen.

Aku tahu kamu juga demikian, jadi kali ini kita impas bukan?

Minggu ini. Mungkin waktu berbagi pesan atau menanyakan kabar atau makan akan sedikit kurang intens. Sebab kesibukanku sedang manja dari pada kamu. Aku selalu berharap kamu juga demikian disana. Menyibukkan diri, bukankah kamu ingin pesta perkawinan kita dilaksanakan segera? Jadi … jangan malas bekerja.

Aku tahu jarak itu menyakitkan, apalagi kita tak berkabar. Namun kasih, kesibukan membuat diri kita terpisah sementara meskipun nanti pelukan kekata menyatukan kembali seperti semula.

Sekarang, rebahakan saja rindu kamu. Rebahkan lelah kamu setelah seharian sibuk kembali dipeluk pekerjaan. Jangan lupa siapkan stamina agar esok tak kembali terpuruk dan hujan tak membuatmu batuk. Sebab sehatmu adalah salah satu kebahagiaan yang aku tunggu.

Sudah ya … aku juga akan beristirah. Samapai jumpa di perempatan mimpi, jangan lupa kecup kening aku ketika bertemu nanti, agar aku merasakan dirimu tak pernah hilang dari sisi.

-AKSARAmadhnai.

KEKASIH

hujani rindu-rindu kami yang masih utuh.

Di kota ini, hujan berebut datang dengan mentari. Dan malam ini hujan menepi kembali, ladang, jalan dan rumah basah juga pipi aku. Apakah hujannya menepi pula di pipi? Iya … kamu datang menjinjing berita keseduan sebab waktu pertemuan yang semakin menipis dan kamu akan pergi kembali esok hari.

Tak apa kekasih, tak apa.
Kewajiban kamu sebagai anak belum pupus sebelum kematian. Dan orang tua kamu layak di bahagiakan sebelum kamu membahagiakan diri aku suatu hari nanti.

Esok hari …
Adalah perpisahan sementara, dan temu yang disemogakan sudah sama-sama kita simpan di kantong celana. Jangan lupa kasih, rindunya di bawa agar mampu kamu kumpulkan kembali. Siapa tahu dapat souvenir setelah banyak nanti.

Kekasih,
Perpisahan adalah sesakit-sakitnya luka, namun hal yang paling melukai adalah ketika kita tak pernah ikhlas melepas. Lagian kamu pergi hanya sementara, bukan untuk tidak bertemu kembali, namun untuk meramu masa-masa yang suatu hari nanti sama-sama kita amini.

Kembalilah ke pelukan pekerjaan kasih. Aku akan selalu sabar menanti pertemuan dengan hidangan rindu beberapa bulan. Jangan lupa kasih, jangan lupa, sayangnya di ikat di hati dan cintanya di simpan di batok kepala aku dan kamu hingga nanti. Sebab … pegangan kita bertahan hanya ini dan kepercayaan yang di genggam tangan kanan dan kiri.

Sebab kasih,
Kamu adalah debar semesta yang berebut rindu dan cinta. Yang akan hidup tanpa harus di siram air huja. Yang akan selalu demikian hingga tangan Tuhan berkata pisah.

-AKSARAmadhani.

KEKASIH

Lorong waktu,

Waktu adalah misteri yang di dalamnya mengandung banyak elegi atau kisah sambung menyambung yang akan terus demikian jadinya. Kita tak akan pernah tahu ujung atau pangkal dari cerita atau perkenalan. Kita tak akan pernah tahu kisah terakhir kali yang akan kita alami, dan kita tak akan pernah memikirkan sebelumnya jika aku dan kau yang terseret lorong waktu hingga sejauh ini.

Mengenali kau dari waktu yang Tuhan izinkan. Menjabat erat tangan kau pada langkah-langkah yang menyesatkan. Memahami rindu yang tumbuh bermekaran bersama kasih yang tiada henti meski musim gugur sekalipun.

Beberapa hal selalu ingin aku ulangi, meyusuri lorong waktu dengan segala masalah dan keadaan yang melukai membuat aku ingin berhenti memperjuangkan. Memperjuangkan untuk selalu bisa menggegam erat tangan kau misalnya. Atau berhenti mencintai kau yang semakin hari semakin aku rasa melukai. Bukan melukai karena kau tak melakukan hal selayaknya para pecinta. Namun kau terlalu indah dan aku menyadari kurang dan tidak mampunya aku melakukan hal yang sama dengan kau.

Kekasih, lorong waktu telah membawa sukma kita menjelajah pada keasingan waktu. Jalan terjal dan berlubang yang kita lalui, lintasan melukai dan beberapa ucapan-ucapan lain yang tersendat keluar mungkin semua itu hanya lentera untuk diri kita yang akan segera di bawa ke tempat paling agung yang sudah Tuhan siapkan.

Aku terlalu takut.
Takut kehilangan serpihan perasaan yang sudah lama aku jaga.
Takut kehilangan diri kau, rindu atau bahkan rasa kasih yang tak pernah sekali saja hilang dari pelukan.

Kau adalah jejak -jejak perasaan yang akan abadi, mengabdi pada kisah dan kasih yang utuh, satu kepada kau. Hanya untuk kau!

-AKSARAmadhani.