AKU EJA NAMAMU DIRUMAH TUHAN

Pada senja yang tergesa-gesa hilang dari hadapan mata, pada kumandang seruan Tuhan yang menyeret langkah para tetua menjalankan perintah agamanya. Dan di akhir bisikan doaku kepada bumi dan juga semesta. Telah aku tasbihkan namamu diantara gemuruh hati di bekap rindu tiada terkira.

DihadapanNya,
Dirumah paling indah milikNya
Namamu mengudara di langit-langit doa, meninabobokan selaksa rindu dan cinta tiada tandingnya.

Seperti kemarin, aku selalu ingin menceritakan senyumu, indahnya memilikimu, bersyukurnya aku mengenalmu, hingga menjadi bagian yang satu dalam hidupmu kepada semesta. Namamu selalu kueja di setiap bisikan doa, menyemogakan segala pertemuan termasuk restu pemilik semesta untuk rasa yang aku dan kamu jaga.

Gemricik suara air wudhu berkecipak, menyibak keraguan yang sudah mengendap di dada.
Suara alunan imam yang beradu dengan desau angin, ibarat alunan-alunan doa kepada Tuhan termasuk kepada diri kita.
Dan gema suara “amin” yang memenuhi sudut tempat ini, ibarat dedoa yang selalu disemogakan oleh sesiapa yang mendengar termasuk aku–menyemogakan kamu di sela doa panjangku.

Mungkin, cinta hanya tentang kepemilikan. Hanya tentang rasa kasih dan sayang. Tapi tidak, semua yang akan menjadi nyata dengan segala keindahan, harus selalu di adukan kepadaNya agar jalan yang di lalaui berakhir indah.

Seirama dengan lirik pada larik terakhir doaku. Biarkan aku selalu mengeja namamu dengan perasaan cinta kepadaNya. Biarkan aku selalu menjadikan namamu sebagai jamuan lima waktu dengan Tuhanku.

Biarkan sayang, sebab aku ingin mencintaimu dengan segenap keindahan, restu, dan kebaikan lainnya. Untukku, untukmu, dan untuk kita.{}

–AKSARAmadhani.

Iklan

ENIGMA KEDEWASAAN

Barangkali ada banyak hal yang akan kau tanyai mengenai rindu, cinta dan berbagai hal. Mungkin akan kau tanya kepada aku pula tentang mengapa dan kenapa kau bosan menikmati fase demi fase hidup yang begitu menyakitkan. Katamu, penat selalu memenuhi kepalamu. Segala hal termasuk rasa bosan menjadi dewasa, menjalani proses kehidupan yang bahkan kau percaya kepada Tuhan namun kau ragu kepada jalan yang di pilihkanNya, dan masih banyak lagi.

Kau selalu merasa tak pantas mendapat segalanya, termasuk kita. Kau tak pantas mendapat kebaikan Tuhan, kau tak pantas mendapat berbagai hal termasuk mendapat rasa kasih dan sayang dari sekitarmu.

Sebetulnya,
Jika kau mau sedikit membuka mata dan memahami, bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar menyayangi, mengasihi, mencintai, menyakiti, dan segala hal lainnya. Kau di ciptakan utuh, satu untuk mengobati segala resah, ragu dan sakit yang selalu kau terima dari orang disekitarmu. Siapa yang akan menyayangimu, tak pernah benar-benar ada selain dirimu sendiri. Mereka hanya menjalani apa yang sudah di titipkan termasuk mengasihi. Namun tidak untuk terus menerus melakukan hal yang sama.

Sesiapa dari kita hanyalah diri sendiri, keresahan yang dialami, bosan yang di rasakan, dan segala hal lain yang membuat bimbang adalah manifestasi dari keraguan-keraguan dari apa yang di pikirkan sebelumnya. Keraguan yang hanya akan mematahkan semangatmu, menghilangkan segala kepercayaan dirimu termasuk menjalani kehidupan yang di jalani saat ini.

Jika kau tak mengenali dirimu, dan hanya melihat dirimu dari sisi terburuk, dari sisi yang kau pandang jelek, kau tak pernah bisa menyayangi dirimu secara utuh. Bahkan mungkin kau hanya akan mendapati dirimu yang terus menerus demikian. Kita hidup dan hidupkan untuk sebuah tujuan, untuk sebuah hal atau berbagi hal yang mungkin sudah Tuhan rencanakan.

Fase menjadi dewasa dan mendewasa memang menyakitkan, terlebih jika kau tak pernah mengenali hatimu, dirimu, rasamu dan apapun tentang diri pribadi. Jadi, maafkanlah segala sikapmu yang lalu, mulailah melangkah tanpa pernah menunggu bantuan orang lain untuk memapah. Sebab segala hal tercipta dari dirimu sendiri, bukan orang lain.

–AKSARAmadhani.

: Dewasa adalah enigma
jika kau tak bisa keluar dari sekat yang diciptakan sendiri
maka selamanya kau akan terperangkap disana.{}

MENJADI HUJAN

*
Partikel air membahasahi angan kita siang ini. Mungkin dia membasuh kepanasan dan rindu yang riang datang bersama rintik di latar belakang. Atau mungkin memang sengaja hadir untuk memanjakan kita yang tengah di mabuk luka; asmara; duka dan lelah setelah seharian di hajar banalitas.

Aku mencium pipimu yang gembur di sela tangamu menengadah. Aku mencium matamu disela kacamata silinder yang kamu kenakan, disana kutemukan seribu enigma yang bersemayam. Dan mungkin rahasia-rahasia langit yang membisu dan tak mau kamu katakan.

Kau selalu berbahagia, ketika aku mengecup pucuk cemara. Meninggalkan embun yang akan kau precikkan ke mukamu ketika kantuk menerpa mata sayumu.

*
Kubasuh tubuhmu dengan basah, apakah kau menyukainya? Tentu. Kau selalu mencintai kedatanganku. Menyemogakan segala hal termasuk ketika kau menunggu kekasihmu datang. Namun belum tentu, kau selalu mengumpat ketika aku datang tanpa di duga. Bukankah itu kamu? Yang mengambil baju bekas cucian belum kering sambil menggerutu?

Maafkan. Aku hanya datang membawa bahagia untuk petani dan calon ibu. Sebab mereka akan sama-sama menanam benih meski berbeda cara dan tempat. Bukankah begitu seharusnya?

*
Aku selalu berharap kau mencintai datangku. Memberi waktu sedikit untuk menyambutku dengan senyumu. Atau malah membawa kekasihmu untuk bermain bersamaku. Jangan menangis karena kedatanganku, aku tak pernah ingin membuka lembar kenanganmu yang telah lalu, sungguh.

Pejamkan saja matamu ketika aku tiba mengecup keningmu, karena aku percaya kamu mencintaiku seutuhnya meski mulutmu membisu setiap bertemu denganku.

–AKSARAmadhani.

TIDAK ADA SENJA HARI INI

1/
Hari ini langit berparas muram. Menggegam asam garam serupa merah marah namun tiada yang bisa dikata, hanya rintik berjatuhan. Aku mengamati senyumu di balik retakan sayap Eros yang merasa berdosa mempertemukan kita. Meminjam segala bentuk ucapan menyakitkan untuk mengutuk segala pertemuan.

Aku tergetar, langit menggelegar. Dengan ritme sepersekian, mematahkan senja dan jingga yang datang menyempurnakan cerita. Tiada sapa manis hari ini, sebab di hapuskannya kemanisan dengan kemuraman kepada langit. Sumpah yang mendarah daging di gempur keegoisan dan indivisualis. Segala bentuk janji hanyalah angan tanpa ingin, hanyalah presepsi yang seenaknya berpraduga tanpa mau mempertanggung jawabkan.

2/
Tiada senja hari ini, sebab dihapuskannya satu persatu indahnya, dan di kemasnya menjadi bingkisan tanpa sampul. Mungkin senja akan dihilangkan, mungkin juga akan di remukkan. Senja yang berbisik kemarin, hari ini terdiam dengan bisu juga dendam. Senja yang kemrin berencana hari ini diam seribu bahasa.

Tidak ada senja hari ini. Dipatahkannya hati yang mencinta, dutusukkannya luka yang begitu dalam. Hingga segala yang sudah di rencana dibiarkan membusuk dengan belatung menggerogoti. Mungkin jingga akan menyempurnakan perpisahan, membisukan kekata, melupakan janji dan menepikan hujan di pipi.

3/
Aku melihatmu dari kejauahan. Menangis sendu dibalik jingga menyapa. Menangisi perpisahan kita? Terlambat! Aku sudah berhenti menitihkan air mata semenjak kita menjadi kata-kata. Aku merelakan segalanya yang telah menjadi kenangan. Termasuk hilangmu dari kenyataan.

Aku dulu juga demikian, menangisimu dalam bisu. Pada malam kesepian, pada jingga yang berpamit pulang, dan pada fajar tanpa matahari datang. Apakah sekarang giliranmu merutuki nasibmu atau kita? Tak mengapa, penyesalan selalu datang setelah segalanya berakhir.

Ingatlah, aku pernah sedemikan terlukanya. Terlebih menggegam ketidakmungkinan dengan sendirian. Mengharapmu dengan derai air mata, menyemogakan cinta yang sudah tak pantas di jaga. Dan kali ini giliranmu!

4/
Lihatlah sayang, lihatlah jingga yang hari ini tiada menyapa. Hanya harapmu mengudara yang siap meluncurkan air mata. Namun segala kata dengan dalih pisah, adalah cara yang mudah dikatakan. Mungkin kau dulu berbahagia. Tapi lihatlah sekarang. Kau mengutuk senja? Kau mengutuk Eros? Siapa lagi yang kau kutuk? Bahkan tawaku masih bisu di kerongkongan melihat segala caramu mengucap penyesalan.

5/
Hari ini biarkan saja senja bermuram durja, biarkan senja mengembalikan cerita manisnya kepada kita. Di tengah kota, dibukit berbunga, di kedai cokelat, di setiap persimpangan kenangan. Biarkan senja menyimpan segala dengan caranya. Tak usah kau menangisi penyesalan atas nama pisah.

Sebab, detik yang menggema di telinga. Detak yang berbisik dan menyapa. Adalah obat penyembuh luka dan duka asalkan kau mengikhlas dengan melepas tanpa mau kembali mengemas.{}

–AKSARAmadhani.

KEPADA SENJA, DAN RINDU TIADA JEDA

Sambil melirik jingga mengikis langit kota, aku menikmati secangkir cokelat panas bersama gitar di tangan. Aku tak selalu menghitung waktu sudah berapa bulan dirimu tak hadir kemari. Sejenak suaramu menggema di telinga, petikan gitarmu kembali mengudara dan sapamu menyita rinduku yang sudah tak tahu harus aku simpan kemana.

“Aku rindu, Mas,” ucapku tipis.

Ini senja ke sembilan puluh dua semenjak kamu memutuskan untuk meninggalkan separuh hatimu disini. Berpamit pergi demi cita dan cinta yang sudah kau genggam dengan pasti. Setiap waktu adalah penantian, bagi aku hal tersebut adalah sebuah kehormatan. Mengingat sejauh ini kita tak pernah berpisah selama ini.

Mengeja namamu pada jam dinding yang mentertawai setiap pagiku. Memberi bulatan tanda merah di kalender meja kerjaku. Menghitung setiap hela nafas setelah kepergianmu, dan menjalani segala aktifitas dengan membawa rindu yang tak pernah memberi kebebasan.

Apakah engkau juga merasakan sesak yang sama? Seperti aku yang selalu menanti kedatanganmu di beranda. Meneriaki kehampaan dengan sunyi yang menyita banyak perhatian.

“Mas Rahman, kapan pulang?” bisikku disela hela nafas panjang.

Sejenak, dering handphone membuyarkan lamunanku. Membuat mataku berbinar setelah membaca nama yang tercetak jelas di sana. Sedikit gerakan, dan suara yang aku rindukan terdengar dari kejauahan.

“Selamat sore honey. Sudah berapa rindu yang kamu katakan pada senja hari ini?”

–AKSARAmadhani.

EMIGRASI KE OTAK KAU

Aku selalu membayangkan bisa hidup di kepala kau. Berteman dengan angan serta harapan juga beberapa ratus pemikiran yang tumbuh subur di ladang otak kau. Disana aku akan menanam beberapa tumbuhan, disana aku ingin hidup berdampingan dengan segala bentuk cinta, cita, dan sayang yang bermekaran. Serta ilusi dan imaji di otak kau yang tak pernah surut berbuah masak dan beranak pinak.

Mungkin di kepala kau, aku tak akan pernah bosan menjalani hidup. Tak pernah bosan menghirup oksigen bahkan jika itu hanya rutinitas aku setiap hari, aku tak akan bosan. Sebab di otak kau segala hal bisa tercipta sendirinya. Laut berombak rendah, senja berwarna jingga, gerimis yang menepi bahkan beberapa bunga mawar mampu aku temukan disana. Namun terkadang di kepala kau, aku tak menemukan apa-apa selain kehampaan. Kesunyian. Dan keresahan. Kau terlalu kaku dan berdiam diantara remang, menikmati sentuhan imaji tak terkendali yang datangnya dari semesta. Memberi jarak antara diri dan penat di kepala.

Sesekali, datanglah kemari-ketempatku- akan aku tunjukkan beberapa sepi yang mungkin sama-sama kita cintai.

Pada setiap kepala yang pandai berekayasa. Pada setiap rasa yang pandai berkata-kata. Pada setiap sepi yang menjelma. Pada setiap imaji yang liar menyapa. Disana ada kehampasunyian yang mungkin kau cari di tempat terhikmat. Mungkin untuk menyatukan raga, atau menyatukan kembali pikiran yang kemana-mana. Atau mungkin untuk menepis dan mengembalikan fungsi otak pada tempatnya.

Kepada kepalamu-atau isi otakmu- atau di dalam kepalamu.

Aku ingin hidup disana, menemani kau dalam kesunyian luar biasa atau menjadi pelaku utama di setiap cerita yang kau perankan. Apa yang kau dengar ketika sunyi menepi di hati dan jantung kau? Apakah suara resah kau? Apakah suara derap langkah aku? Atau suara-suara dari masa silam yang kembali mengompori rindu kau untuk kembali mengulang?

Ah, sudahlah.

Sekarang, izinkanlah aku hidup di otak kau, sebab aku ingin memonopoli segala bentuk kejadian termasuk menjadikan aku tempat pulang paling sunyi yang kau cari ketika tak tahu lagi kau harus kemana pergi

–AKSARAmadhani.

Disalah satu bagian tubuhmu aku hidup
Disalah satu bagian hidupmu aku tumbuh
Dan di kesunyian paling suci aku menepi

Bersama nafasmu
Bersama aliran darahmu

: Aku hidup dan tumbuh diantara itu.

Obituari ; Ucapan Selamat Tinggal yang Belum Sempat Terlontarkan

Aku bahkan masih merasakan detak jantungnya berada di pelukanku. Hembusan nafasnya di leherku dan beberapa ucapan-ucapan yang terus menerus menggema di telingaku.

Waktu melambat memutar hari ini, berhalangan mencari jati diri diantara deras tangis yang membias senyuman-senyuman getir dan gaung doa, merasakan seruan lantang ibu yang siang ini ditinggal pergi gadisnya. Seperti mengulang luka, sakit menjelma menjadi parodi yang terus menerus mengabai ucapan meminta iba. Tangis menderas. Jantung memanas. Resah mengemas derita menjadi nestapa-nestapa kehilangan.

Mengingat kepergian setelah sadar merekah, membina ulasan kisah yang tersimpan rapi di ujung peti matimu siang ini. Gemuruh halilintar kemarin, hanyalah nyanyian alam yang mengantarmu pulang sebelum bumi meneteskan airnya mengiring nafasmu yang tersengal-sengal. Sedangkan tawa disela derita kemarin senja mungkin hanya serangkaian ucapan selamat tinggal yang belum sempat kau katakan siang ini.

Tidak … aku bahkan tidak percaya dengan rangkaian peristiwa seminggu ini. Ketika yang kudapati hanyalah tubuh lemahmu. Ketika yang kudapati hanyalah tubuh lebammu. Ketika yang kudapati hanyalah runtuhan-runtuhan semangatmu yang mulai hilang di rampas keadaan. Aku membuatmu tertawa, tapi hatimu menangis terluka. Aku menyuapkan makanan, tapi otakmu penuh penolakan. Aku ingin belajar matematika dengamu, sebab ujian nasional akan berlangsung, namun kau masih tertergun memandangku kosong dengan anggukan lemah–tanpa stamina.

Hingga, sergahanmu sore kemarin untuk tidak meninggalkanmu masih saja tergesa-gesa menyeret otakku untuk tidak melupa. Aku masih mengingat segalanya, bahkan hingga terakhir kali kakiku kaku meninggalkan ranjang tempatmu menghabiskan waktu. Dan beberapa ratus ucapanmu sebelum hari ini mengutuk kita berpisah secara jiwa dan raga masih tersimpan di antara rekahan otakku yang mudah lupa.

Hingga raungan luka yang menyayat-nyayat pelayat dari ungkapan hati ibu hari ini di samping jenazahmu, terus terputar. Mengitari sadar dan benar menyempurnakan duka atas kepegian tanpa ucapan selamat tinggal.

Sedikit saja waktu yang bisa aku curi diantara takdir Tuhan hari ini, tak akan kubiarkan kemarin kakiku pergi dari depan netramu, tak akan kubiarkan hujan mengiring lukamu, tak akan kubiarkan segalanya membuatmu hilang dari depan mataku.

Lalu tanah, menutup rapat tubuhmu. Lalu tangis memecah diantara itu. Dan kita berpisah di antara pikiran yang masing-masing menyimpan kepedihan.


Sesaat kemudian di tahun ke empat kepergianmu, hujan mengguyur deras. Tubuhku basah dengan nisanmu yang juga mulai basah, lantas bunga yang kutabur terkoyak menghilangkan jejak kedatanganku.

“Aku pulang sahabat, persetan kau telah mati yang kutahu kau abadi.”

–AKSARAmadhani.