Rinduku Patah Hati

Tulisan adalah sebagian rinduku yang patah hati. Dia menjelma menjadi beberapa diksi manis sebagai ujud diri yang abadi. Pada rindu yang terus berulang setiap waktu, tulisanku tak pernah mati meski di telan pusara dari waktu ke waktu. Bagai rindu yang terus tumbuh dengan tunas-tunas baru, tulisanku adalah rinduku yang tak sampai berpulang kepadamu.

Pada sebuah pepat perjalanan, kutemukan tulisan dan rinduku tercecer pada narasi mati pujangga patah hati. Mengiramakan duka yang setiap detik mencibirnya dengan rindu keterlaluan dari hatinya.

Kepada siapa rindu akan berpulang, jika lagu sendu hanyalah ke-amsalan dengan degup rindu yang terus saja membuncah; pecah.

Rindu adalah bahasa jarak yang hanya mampu di pahami oleh angin. Menabirkan jejak setapak pada kerumunan bait-bait senja berbalut air mata. Sajakku merindukan rindunya. Rinduku lupa jalannya pulang. Langkah gontaiku tergopoh-gopoh, mengejar rindu agar mau berpulang kepada keutuhan hati bertuan.

Jika pada akhirnya rindu mampu membuat penaku sekarat. Jika pada akhirnya rinduku hanyalah kebisingan pada telinga para pujangga, birkan rinduku mati saja. Biarkan rindu tak pernah lagi berpulang, meski aku menunggunya pada jalan-jalan petang nelayan.

–AKSARAmadhani.

KETIKA PAGI BERPAMIT PERGI

Pernahkah pagimu hambar? Saat kau terbangun, memandang langit-langit kamar, kau tak mendapati apa-apa selain kehampaan yang sektika menikam dada dan ngilu yang luar biasa tercipta.

Pernahkah pagimu hampa? Tiada ucapan selamat pagi dan teriakan dari ibu atau ayahmu yang mencoba membangunkan.

Pernahkah di suatu pagi kau merasa tersudut, sendiri tiada apapun selain dirimu sendiri. Mengucap selamat pagi, membuka jendela dengan hanya matahari yang menyapa.

Pernahkah kau?
Pernahkah?

Seperti itu jugakah pagimu?
Setelah semua berangsur menghilang, pergi dan hanya kembali membawa bayang tak abadi.

Semakin hari, jantungku di peluk sengsara. Ntah mengapa gulana, gulita, dan semua rasa terasa mengeja hidup dan mengulanginya kembali.

Remuk, terpuruk, hancur dan tiada apapun yang bisa kuselamatkan selain; cinta.

Ketika kehilanganmu begitu nyata, dan resah yang terus tergesagesa memeluk langkahku yang terengah. Aku dengan luar biasa mencoba melupa, berjalan mundur selangkah demi selangkah.

Apakah kau juga merasakannya? Atau hanya aku?

Pagiku tak kembali ceria setelah cerita terlalu menyebakkan dada dan mengurung senyuman pada saku celana.

Ini bukan pagi, bukan pula ucapan selamat pagi. Ini hanya ucapan selamat datang kembali, pada kenyataan kehilangan yang harus diterima meski menyakiti lagi, lagi dan lagi.

–AKSARAmadhani.

Biarkan Dalam Harapan

1.
Pelukan kita retak. Jantung kita terlonjak. Dan sewaktu yang menderu menyirat hasrat pekat lewat sesapan dingin menyayat.

2.
Degup dada kita berkelana. Siapa penabur bunga senja yang tega memberi duri kepada wanita?

3.
Batang rokok yang telah bertemu asbak, atau cerita yang kini menjadi bualan malam. Merutuki setiap sendi kerinduan yang hanya tinggal kenangan.

4.
Kita telah hanyut pada beberapa harap yang mati sebelum fajar mengembang. Dan pada runtuhnya percaya yang hilang begitu saja, kutemukan asma kita berpelukan mesra tak mau lepas.

5.
Rindu telah berpamit pulang, bersama rasa yang kian menghambar, menghambur tak tentu arah dan panah.

6.
Sediakah kiranya kita melupa–ingat dan rasa. Sembari mengucap selamat jalan perlahan sebelum jantung kembali ingin menyatukan.

7. Apakah perlu aku mati dulu agar kau paham aku ini menyayangimu?

8.
Dentuman pagi kembali menyapa, menyalakan lilin pada remang hati yang dihiasi setalakit dan setalakmit rindu dan kehampaan.

9.
Sebelum pada akhirnya hilang dan melupakan. Baiknya kita berpelukan, anggap saja yang terakhir dan tak akan terulang.

10.
Atau mungkin, masih dalam sebuah harapan?

–AKSARAmadhani.

MERDEKA BUKAN DERITA

Saban hari hanyalah kenestapaan
Pada dinding dingin beralas tikar kaum papa
Ini tentang penguasa elit tirani
Yang hatinya telah suri–
Mati
Tanpa punya rasa peduli;
Hati nurani

Lalu bagaimana nasib negeri
Terlempar ke sana, ke mari
Kaum mereka hanya mengenyangkan diri
Menggemukan lipatan kulit di saku; kiri

Bagaimana?
Bahagia?
Lalu apa kabar mereka yang tak mampu makan
Sedangkan makananmu kaubuang-buang
Mengambil hak sewenang-wenang
Demi anak istri ikut senang
Tutup telinga akan jeritan kaum tak berdaya
Membutakan mata
Menipiskan iba
Mereka pendusta!

Orasi merdeka
Kata mereka
Yang mempunyai emas dan tahta
Bukan masyarakat jelata.
Merdeka hanya pengobat sesaat duka
Aksara tanpa fakta
Realisasi semu, janji bahasa tak bermakna

Kini kemerdekaan sudah pada usia;
Tujuhpuluh dua
Dan negara masih saja sama
Memerdekakan mereka yang sudah merdeka
Semakin meenyengsarakan papa yang sudah terlunta
Ini negara yang sudah menua
Atau manusia yang semakin tak memanusiakan manusia?

Wahai penguasa
Buka matamu!
Tengoklah,
Sudut negera masih jauh dari kata sentosa
Kedukaan tercetak jelas pada kerutan di pipi mereka
Di hela nafasnya
Di tiap jengkal langkahnya
Pun di irama debar denyut pada tiap detiknya

Lepaskanlah, dekap mereka dengan kemerdekaan tanpa siksa
Rengkuh mereka tanpa niat meluka
Lukislah sebuah harapan nyata
Serupa tameng sang garuda.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa (rermasuk mereka yang ada di dalamnya) dan oleh sebabitu, maka penjajahan (kemiskinan, penderitaan) diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
.
.
.
.
–AKSARAmadhani & Nimo

KETIKA JARAK MEMBAWA RINDU

Lembah memisah serapah
Rindu membelenggu kalbu
Risau bak angin lalu
menggebrak seluruh rasa–
Sendu

Debar semesta berirama
Menyanyikan lagu gulana
Pada rengkuh dan setapak peluh
Rindu menguap di angkasa
Berbisik–
Menggelitik

Jarak menjembatani temu
Rasa bertalu, menderu

Dia datang hanya bayang semu
Diam lantas membisu
Padahal … aku hanya ingin tahu
Masih jauhkah jarak untuk di simpan pada saku?
Ketika rindu tak lagi mau tahu.

–AKSARAmadhani.

: Sebab perihal jarak, hanya akan membawa rindu dengan kemasan rapi. Dan sesiapa dari kamu harus mengerti, jika jarak tak hanya hitungan angka tapi kata yang membuahkan rindu tanpa ujung; selain temu.

SEBAB AKU TERSIKSA KARENANYA

Begini …
Aku ingin berlari sejauh mentari tumbang, mengemas beberapa temu yang justru menjadi bomerang. Atau bahkan kembali pulang pada pelukanpelukan terhangat dan atau bahu yang masih mau menerima isi kepalaku tanpa merasa aku membuatnya lebih terbebani.

Misalnya saja seperti ini, aku hilang dan tak mampu kembali di temukan. Apakah semestamu juga merasa hilang dan terguncang? Kita bukan bocah kemarin sore yang baru belajar jatuh cinta bukan? Kita sudah berada pada titik kedewasaan yang memaksa kita menjadi manusia seutuhnya manusia, bukan lagi anak kecil ingusan yang tak malu pakai sempak dan baju dalam kemanamana.

Sebetulnya, rasa sayang dan cinta tak pernah bisa di salahkan perihal apapun. Akupun juga tak pernah menyalahkan sesiapa dari kamu, kalian atau mereka untuk menjatuhkan rasa sayang dan cintanya kepadaku. Namun … diantara kebebasankebebasan tanpa batas tersebut. Kita selalu punya kebijakan untuk memutuskan dan memantaskan, kepada siapa kapal akan berlabuh.

Duniaku terasa diobrakabrik oleh beberapa sapa hangat yang selalu aku pikir biasa. Duniaku hancur oleh beberapa senyum yang aku rasa tak bermakna namun amat sangat di maknai oleh mereka.

Jika kau bertanya apakah aku terluka? Aku akan menjawab lantang dengan mantap bahwa di antara bahagiamu menunjukkan rasa sayang yang bertubi itu, disini ada segumpal darah yang sudah mendidih dan siap meletup jika sekali lagi terkena sentilan.

Dan aku ingin dirinya menyadari dengan segera, jika cinta, sayang dan obsesi itu beda tipis. Hanya saja kita sama memaknai. Jika kau masih saja bertanya aku kenapa, ingatlah. Aku baikbaik saja, hanya hati, rasa dan duniaku yang berangsur berubah. Mungkin berbenah atau mungkin mulai menyerah dengan diriku yang kini entah.

–AKSARAmadhani.

Kebersahajaan Menanggapi Perubahan

Stempel bekas atau bahkan bolpoin yang sudah habis tinta, tuts keybord komputer usang atau beberapa deret kertaskertas yang terhambur ketanah dan aku yang masih terus disana memandang jengah apaapa yang kusebut perubahan.

Bersama rambut ibu yang mulai memudar dan beberapa gincu tanggal di atas rak lemari kayu, disana kutemukan sepasang kata purba yang bermanka ganda. Berderet bagai kekata yang sengaja dengan rapi tertata atau mungkin memang sengaja diletakkan di sana.

Segalanya berangsur menjauh, bersama mentari yang menua atau bahkan malam yang kembali pagi. Aku menyeru dengan suara radang, memanggil asma pemilik semesta seutuhnya. Menanyakan apa kabar tanah yang kini telah menjadi rumah. Kuburan yang menjadi restoran bahkan sawah yang menjadi gedung megah. Apakah ada kebahagiaan di sana? Atau hanyalah sebuah kesengsaraan yang perlahan termakan zaman dan kita mencoba menutup telinga rapatrapat.

Setelah beberapa kenestapaan mengudara, kearogansian menyeruak diantara bentangan manusia yang lupa akan rumahnya. Menjadikan hotel sebagai istana dengan menyewa wanita padahal keluarga di rumah menunggu dengan sengsara. Saban hari hanyalah kedipan netra dengan dompet tebal si pendasi, mencibir si papa yang tinggal tulang belulang menghidupi keluarga dengan dagang kaki lima.

Perubahan begitu cepat mencicipi setiap sendi kehidupan. Tiada yang bisa menolak akan hal tersebut kecuali diri pribadi. Kita yang mau mengingat atau kita yang dengan baik mengingat. Ini bukan masalah menolak lupa atau membunuh kemajuan zaman, tapi metani, seleksi dan menjembatani diri akan perubahan pesat yang menyeret kearus kesalahan dan kerugian.

Dengan bijak ke-ber-sahajaaan di pertaruhkan, anak yang sudah dewasa menjadi punggung negara yang harusnya di didik sedemikian rupa bukan hanya tahu adegan ciuman memanas artis ibu kota, namun di gembleng menuju ke mandirian. Menuju beberapa kebajikan yang harusnya di tata dari sekarang.

Ini bukan tentang sebuah perlakuan, namun kesadaran. Kita diberi pilihan, tetap tinggal pada perubahan namun selektif memilihnya atau hanya mengikuti arus tanpa tahu tujuannya.

–AKSARAmadhani.

aksara pena biru