MANUSKRIP 17 FEBRUARI

Tidak ada bedanya tempat ini, masih sama seperti satu tahun lalu ketika aku terpaksa mengemasi barang-barangku dan melarikan diri dari sekapan cinta-cintaan yang melenakan. Sebetulnya … bukan karena itu aku pergi, tapi orang tua bersikeras memisahkan hati yang masih hangat memasak hidangan kasih dan sayang. Aku sebagai anak, tak banyak yang bisa aku lakukan waktu itu selain menuruti dan menjadikan hati aku yang sedang berbunga gresang begitu saja.

Figura dengan foto kita berdua di setiap sudutnya, jejak langkah-langkah samar aku dan kau yang beriringan, serta tawa-tawa renyah di ruang tengah. Semua masih rapi tertata di sana seperti memiliki nyawa dan membuatnya bertahan meski sudah berbulan-bulan lamanya di tinggalkan. Aku dan kau sangat bahagia dulu. Kau ingat ketika kita berkenalan? Di foto yang terletak di meja dekat vas bunga sebelah kiri itu, aku melihat kita sedang memasang muka bahagia meski masih sama-sama malu. Bukankah itu … ketika kita makan es krim saat hujan tiba-tiba datang sebelum kita memutuskan berpisah? Ingatanku belum memudar ternyata.

Mungkin lain kali, aku akan berkunjung kembali, percayalah aku hanya ingin memastikan jika kenangan kita belum terkubur sedalam percakapan kita saat ini. ‘Ntah sendiri atau dengan pasngan aku, atau dengan anak aku nantinya. Yang jelas aku akan tetap kesini, bagaimanapun juga tempat ini pernah menjadi saksi atas mimpi kita untuk masa depan. Sebelum akhairnya seluruh perasaan lenyap dari gegaman.

-AKSARAmadhani.

Iklan

BALADA SEPEDA TUA

Desingan peluru rindu

Beberapa waktu lalu di tempat ini, hati kita hampa oleh amarah yang di bawa dari rumah. Kamu diam, akupun membeku dalam bisu dan bahasa-bahasa hati yang tak mampu termaknai. Sementara rindu menggebu di ulu hati, bising lalu lalang bisikan samar-samar datang dan pergi. Semacam parodi dan keluh kesah atas dua jiwa yang memilih egonya masing-masing.

Pentingkah itu kita lakukan? Sementara darah kita telah mendidih oleh pertemuan? Dan di bawah senjakala hari ini kita lebih diam–mematung— sambil menduga-duga siapa yang lebih dulu berkata-kata. Namun … aku kalah, kepalaku penuh desingan senapan kerinduan yang terus melepaskan peluru-pelurunya hingga aku tak mampu– tak mampu berlama-lama dalam keheningan– sementara semesta terlalu indah jika kita lewatkan.

-AKSARAmadhani.

#empat

BALADA SEPEDA TUA

kaleidoskop 10 Februari pertama

tepat di tanggal ini, dan di hari ini juga beberapa tahun yang lalu. ingatkah kau, kekasih tentang pertemuan manis kita di jantung kota? setelah lelah berkeliling kota dengan sepeda tujuhpuluhan, aku dan kau beristirahat di sana. ketika itu bintang bertebaran di langit, di mata kita bahkan di hati kita masing-masing. masih ingatkah ketika kau mengucapkan rasa sayang berlebih itu? dan rasa rindu yang kau simpan rapi di jantung persegi lalu kau ungkap dengan beberapa patah kata manis. kau bahkan terlihat lebih sempurna dengan rambut klimis yang kau sisir ke belakang serta kaos oblong warna hitam pekat. aku masih mengingatnya dengan baik –baik sekali– sebab kisah-kisah kita bermula dari itu, ketika senja redup dan pendar bulan –yang harusnya lampu jalan– berlomba memancarkan indah sinarnya.

-AKSARAmadhani.

#tiga

BALADA SEPEDA TUA

Ketika nanti,

Kelak, ketika kau mati sebelum anak-anak kita tumbuh menjadi dewasa. Aku akan menceritakan perihal kau kepada mereka sambil mengingat-ingat sepeda keluaran tahun tujuh puluh yang pertama kali menemani kita menyusuri rindu-rindu seminggu yang kita simpan di saku baju. Aku hanya ingin mereka tahu jika dahulu kita adalah sepasang kekasih yang sama-sama menerima keadaan tanpa menuntut apapun selain kesetian.

-AKSARAmadhani.

#satu

BALADA SEPEDA TUA

Sesederhana itu …

aku akan pulang ketika jam digital di kantorku menunjukkan pukul 15.00. kau jangan lupa jemput aku sembari membawa mantel, takut jika nanti aku dan kau kehujanan ketika menuju rumah. kau tahu, ‘kan? aku dan kau belum mampu membeli mobil yang bisa menghindari perjalanan dari terik mentari dan air hujan. bersabarlah … aku tahu, gaji aku sebagai tukang tulis dan gaji kau sebagai buruh pabrik telah habis ketika orang tua aku meminta membuat sebuah rumah untuk aku dan kau tinggali. jangan sungkawa, kasih. bahkan bersepeda akan lebih romantis, apalagi dengan kau. jangan malu, lusa jika gaji aku dan kau naik dan tabungan sudah kembali memadai, aku dan kau bisa merencanakan untuk membeli mobil kembali. bukan hanya untuk aku dan kau, namun juga untuk anak yang sekarang tidur di dalam rahim aku.

-AKSARAmadhani.

#dua

LAKUNA

Rindu yang kehilangan Tuan,

Deras kekata yang muncul dari batok kepala bermuara pada sajak-sajak yang kehilangan nyawa. Mereka datang lewat jendela-jendela ingatan yang terbuka ketika fajar menyeka pelupuk mata. Sedangkan garis cakrawala membentuk tawa manis di ujung sana, menatap sepasang jantung yang rela di hitamkan untuk menampik sebuah pengakuan.

Rindu; terpisah menjadi dua yang sempat bersatu, luka terberai diantara tangis dan kenangan. Membenak duka mendalam yang mengoyak dada, hingga sebak menghantarakan senyawa lara. Kelam, tiada yang mampu merumuskan keadaan. Tuan telah pergi dari gelanggang kasih sayang, meninggalkan jejak-jejak perpisahan di pintu selamat datang. Tiada yang mampu membuat Tuan kembali sekalipun rindu menusuk setengah mati.

Fajar hari ini mengayomi langkah gontai Puan Melati, membawa air mata yang tumpang tindih bersilaturohmi kembali dengan perasaan perih. Rindu adalah perasaan suci yang kini rela di bunuh secara keji. Sebab … datangnya hanya akan membuat kenangan kembali membumbung tinggi di ingatan dan Puan harus rela mendekap lukanya sendirian. Rindu telah kehilangan Tuan bersama ucapan perpisahan di persimpangan fajar. Tak ada lagi apa-apa yang perlu di perjuangkan selain mengikhlaskan. Cerita kemarin adalah luka hari ini yang rela di nikmati tanpa sekalipun perayaan dan menjadi makhluk tega adalah sebuah keharusan jika tak mau terus menerus menikmati ketiadaan.

Tuan, rindu kini telah menjadi jarak. Mereka meramu luka mendalam, di debar fajar aku mengucap selamat tinggal untuk sepasang jantung yang telah kehilangan perasaan. Waktu akan kembali di hari dan jam ini, namun tidak untuk rasa di hati.

-AKSARAmadhani.

LAKUNA

Jiwa-jiwa yang lupa pulang,

Aku tak pernah benar-benar hilang, disepi yang mencekam ingatan dan ketakutan yang merasuk tulang. Aku tak pernah benar-benar pulang, raga telah berpisah sebelum kekata ini lepas terbang ke otak pemburu sajak.

Aku tak pernah benar-benar hilang, pada kesepian dan ketiadaan aku mencari kebahagiaan di resah yang menikam dada hingga terasa kelam. Aku tak pernah benar-benar pulang, dimanapun langkah kaki menyeret diri, disana aku datang dan pergi mencari apa-apa kesana kemari.

Aku tak lebih dari ketiadaan, sepi adalah karib sejati dan kematian adalah rumah berpulang untuk jiwa yang lelah di hantui pekerjaan dan kenyataan. Tak perlu bergandengan mesra dengan maut, sebab maut terletak di pundak kiri menunggui kapan Tuhan berkata harus kembali.

Aku masih di sana, mendekap utuh sajak-sajak ini sampai kau baca dan kau kelupasi isinya di kepala, hingga akhirnya kau lupa jalan pulang yang tinggal menyebarang ke arah utara.

-AKSARAmadhani.