SEMESTA DAN CERITA DI DALAMNYA

semesta menghidupi segala bentuk jiwa yang hidup di dalamnya. pembeda dan pemisah ada karena aku dan kamu sendiri yang menyekatnya. keadaan menjadi si miskin, si kaya karena aku dan kamu sendiri yang menyekatnya. kasta di bagi karena aku dan kamu sendiri yang menyekatnya, serta segala hal terjadi karena kita sendiri yang membuatnya. tiada pembeda antara aku dan kamu, mereka yang mencari makan di kolong jembatan, mereka yang mencari makan dengan membual, mereka yang hidup di bawah injakan pemerintahan dan mereka yang hidup dengan menjual badan.

ketika kita di cambuk untuk sadar bahwa hidup sangatlah sederhana jika kita memaknainya, maka hal apakah yang membuat kita sadar?

kematian?
orang yang kurang beruntung?
atau kehidupan yang akan berbolak balik sesuai kehendakNya?

kematian hari ini menjelma menjadi ketakutan yang dikirikan. semua orang berebut tahta dan kekayaan dengan segala hal yang diusahakan. baginya, yang membuat mereka naik satu tingkat dan dihargai oleh sebayanya adalah kekayaan dan jabatan. namun, bodoh! manusia dihormati dan disegani bukan karena hal-hal demikian tapi bagaimana mereka memperlakukan orang lain, bagaimana cara mereka menghormati sesama dengan segala caranya.

kematian berubah tempat hari ini, setiap orang mampu meramal kapan dia akan mati dan dimatikan tanpa menunggu persetujuan Tuhan. tak perlu yang tua terlebih dahulu, sebab yang muda sudah banyak di bunuh dan mati. bukan hanya oleh Tuhan tapi oleh keadaan dan dirinya sendiri.

orang yang kurang beruntung,
semua orang hidup dengan sebuah keberuntungan. mereka dibekali kemampuan Tuhan yang sedemikian rupa untuk dikembangkan. sederhananya, tidak ada manusia yang kurang beruntung. tinggal bagaimana mereka membuat kesempatan menjadi ajang menaikkan taraf kehidupan. meski masih banyak orang yang tak paham namum semua yang ada hari ini adalah apa yang tak pernah di sadari. hal arif dan bijak lama lama hilang tak termaknai sebab keadaan kurang beruntung mengendap dan membuat manusia tersendat oleh gagasan.

beruntung tak hanya tentang mereka yang sukses dan bisa membangun rumah tingkat lima. bukan tentang mereka yang rapi kesana kesini naik mobil dan diantar sopir. tapi beruntung hari ini adalah tentang kita yang masih dipercaya Tuhan untuk melanjutkan kehidupan. beruntung hari ini adalah tentang kita yang masih bisa bersua dengan orang yang di sayang tanpa sebuah hambatan. sehatmu itu sebuah keberuntungan. jadii apakah yang kurang diberuntungkan?

kehidupan akan selalu berbolak balik sesuai keadaanya. semesta akan melalui perubahan dengan pesat tanpa kita sadari. dan apa yang bisa kita lakukan? menyadarinya. bukankah segala hal memang harus disadari? termasuk keadaan yang sedemikian peliknya, termasuk sekat si miskin dan kaya yang selalu menjadi propaganda antara kita, yang sudah menggulung peradaban dan membuang kita jauh terlontar ke keadaan dan masa di mana anak anak lebih baik dipegangi ponsel pintar dari pada main keluyuran.

kematian dan pembodohan di mulai hari ini. ketika rasa kasian dan kemanusiaan hidup di hati tapi kita memandangnya dengan mata kiri. terasa aneh memang, namun itulah kenyataan yang dihadapi. di tahun ini dan di hari ini. siapa yang salah akan hal ini? mari tanyakan kepada hati nurani.

– perempuan aksara.

Iklan

KEPADA YANG BERPULANG HARI INI

kecamuk bedebat hebat hari ini. telanjang perasaan yang melompong di himpit kedukaan teramat menyekap. perpisahan menjemput di depan pintu. berpesta pora mengelilingi tubuhmu yang terbujur kaku tak bersuara. sayatan-sayatan luka mengiris isi kepala, belati senja menyingsing di kesepian inti sanubari yang tak jua merdeka. tangis tak berkesudahan.

kekata melankoli dan nyanyian surgawi menyeruak di ruang ini. aroma bunga-bunga melati, mawar, kamboja hingga daun pandan berselisih tempat di indra penciuman. perabaku gigil. di depan tubuhmu yang gagal kupeluk sebelum mata tak kembali saling menunjuk. sedangkan rohmu yang kudus telah berpamit. meninggalkan aku yang masih terbisu menerima kenyataan kepergian.

katamu kala itu aku harus tegar. tapi kataku saat ini, tidak. aku rapuh. aku terjatuh. jiwaku melongo menerima kepulanganmu yang tiada berpesan. mempermainkan keadaanku yang semakin terjerembab kedalam rasa berduka tiada kira. kemarin hari, kamu masih tertawa. terbata. mengeja nama-nama anak kita, yang kelak akan kamu sandingan dengan nama kamu. kemarin hari,

kamu masih tersenyum menatapku. merapal kalimat sayang dan kasih untuk aku. menyentuh puing-puing air mataku yan sudah layu. kemarin, semua belum seburuk hari ini. kemarin semua masih dalam keadaan senantiasa mencintai. tubuhmu yang ringkih di topang tubuh berisiku. kamu masih menyelipkan ungkapan lapar dan haus. masih sempat tersenyum dan melambaikan tangan ketika aku berpamit.

lalu, semua terdiam. menatap ragamu yang telentang di pembaringan. tersenyum. penuh kehangatan. terakhir kalinya dan tak akan pernah kembali kusua. senyuman yang masih mampu aku raba di sisi kanan dan kiri pipimu, yang telah rata tanpa ada bulu. sekali lagi, kekasihku berpulang hari ini. raganya lebur di dalam ragaku yang selalu mencintai. perasaannya utuh tersemat di dalam altar firdaus jantung milikku.

kamu berpulang, terbang kelangit langit keabadian. mengubur cinta suci kita yang telah larut di setiap hembus napas. selamat jalan, kasih. sampai jumpa di rumah Tuhan. nantilah aku membawa cinta kudus kita. terlelaplah. semesta lebih mencintai tubuhmu itu dari pada aku; kekasih yang terbata mengeja namamu.

– perempuan aksara.

JERUJI RESAH DI DALAM JANTUNG

kidung malam, bersama almanak yang telah tanggal di tinggal hari. atau bersama nama perpisahan yang telah di kelupasi. dibukanya kembali sudut-sudut ruang jantung yang mati rasa, desir senyawa rindu dan kenangan menguar di antaranya. sepersatu di buka secara nyata dan maya di depan mata. pada bisikan lelagu angin yang berdesik, merisak perasaan yang sudah berhenti merotasi. pada luka. pada rasa. pada panca rasa yang tiada pernah berhenti mengoyak-oyak dada. kutitip pedih. biar dia menyemai kedukaan yang telah meradang setelah kepergian.

aku telah terbunuh belati. pada malam itu dan tak mampu kembali. simposium akronimkan kehilangan. jelita rupa dewi malam tiada merupa. tertikam desakan noda pada dada sudah lama. hanya kenangan yang masih betah. di dalam sukma yang tiada pernah mau memberi kebebasan atas segalanya. aku menjuh. tercenung pada duka yang di terima sendiri tadi pagi sehabis mandi. lalu kamu menertawai. pertanyaan konyol yang di jawab oleh mulut-mulut yang penuh dosa dan doa yang mati rasa. sekuntum kamboja. sebuah jantung yang teronggok diam penuh darah dan nanah. mengertikan, mengartikan ketiada mampuannya ditikam duka.

seandainya aku mampu. aku ingin membunuh resah tentangmu yang masih seenaknya mempermainkan perasaan. menjadi budak perasaan yang tidak tahu akan di pastikan hanyalah luka. seharusnya. dibunuh saja rasa yang telah meradang itu agar jantung tak merasa terluka. resah yang dikandungnya. segala rasa yang di rasakannya adalah desakan-desakan pertanyaan tentang hati dan kepastian. di pucuk penyesatan jantung, tersimpan berita kelukaan yang semestinya kamu dengar. debar yang terbubuh resah menjadi pundi-pundi kesenyapan. yang sesekali membuat sesak. membuat luruh dan luka penuh.

tuhan tak mengizinkan. jantungku hanya di koyak koyak tanpa pernah di jaga. hanya di tusuk oleh rapair. hanya di bekukan oleh namamu namun kamu tak pernah mau tanggung jawab atas itu. malam adalah karib kesedihan yang paling setia. di jaganya seluruh pedih yang telah letih berbagi. di rawatnya seluruh kisah yang mati. agar malamku damai tiada sesiapa yang bisa membuatku merasa tercanam oleh kesakitan. cuma percakapan sepi yang sesekali tercipta oleh mulut rahasia. jantung telah terbunuh. telah mati. telah di sayat belati naga. dan aku tiada pernah bisa apa apa selain terdiam. terduduk.

lantas menyumpah serapah perihal kita yang tiada lagi apa apa
selain kenangan
perasaan yang berkedut tiap kali kemelut menyusup. membuat seisi jantung berdarah darah dan
meronta ronta.

ucapkan perpisahan dan mari pergi saja. perihal jantung yang telah suri dan penuh noda biarkan. semuanya tercipta untuk di abadikan. sebagai cerita bahwa cinta pernah membuatku tidak sadar. berkali-kali. berulang kali di jantung hati.

– perempuan aksara.

MENJELMA MENJADI KESEMPURNAAN YANG SALING MENYEMPURNAKAN

kasih, lihatlah bola lampu yang berderet di jalan itu. lantas tataplah bulan di langit sana.

pernahkah mereka mengkhianati malam? atau pernahkah mereka meninggalkan malam ketika gulita yang tiada perasaan datang? pernahkah mereka demikian?

tidak, kasih. tidak pernah.
mereka selalu setia kepada satu tempat di mana dia merasa nyaman menetap. seperti bulan dan bola lampu yang nyaman ketika mereka ada saat malam hari. mereka lebih hikmat dan lebih pas ketika ada di remang. meski terkadang hilang tergantikan mendung namun dia pasti akan kembali.

demikian pula kita, dua anak manusia yang masih belajar mencinta. yang hanya bisa berupaya untuk menyempuranakan dan saling mengisi kekurangan. ibaratkan bolam lampu jalan dan bulan yang aku sebut tadi adalah kita. maka lama kelamaan diri akan sadar dan paham, untuk apa jiwa kita hadir dan disatukan. tidak ada yang sia-sia perihal takdir Tuhan, kasih. semua pasti memiliki arti untuk kita pahami. semua memiliki makna yang kadang tak kita sadari adanya.

selama aku masih mampu mencintaimu dan kamu masih mampu mencintaiku. bukankah lebih baik kita saling menjadi pengisi. bukan hanya hati tapi juga hari. bukan hanya bahagiaku tapi juga bahagiamu. debar, debat, denting renjana kasih yang mengudara pada pemrecik api yang luluh lantah. telah membawa kita pada koyak moyak perasaan tiada kira. dan apa yang bisa kita lakukan

hanya mampu membuka lebar-lebar hati agar mau di isi oleh rasa yang tumbuh subur di dalam jantung. tiada yang sempurna, kasih. tak pernah ada. namun aku percaya, seseorang yang telah di berikan Tuhan mereka bertugas menyempurnakan dan menutup kekurangan.

beberapa orang berkata dengan fasih mengenai cinta, tapi mereka tak pernah paham arti setia. beberapa orang paham arti setia tapi tak pernah paham artinya kebersamaan. mereka hanya pandai merasa tapi tak pandai berfikir secara tepat untuk perasaan yang dititipkan Tuhannya. jika seandainya seluruh pasangan mampu paham arti mereka berkasih kisah, tiada perpisahan di dunia ini. mereka hanya belum paham arti bulan dan bola lampu juga merpati yang melambang kesetiaan dan saling menyempurnakan.

bukankah begitu seharusnya, dan sudahkah aku dan kamu demikian? maka dari sekarang mari kita meleburkan perasaan, mempercayai pasangan untuk menajaga dan memastikan hati jatuh di orang yang tepat bukan di sembarang tempat.

– perempuan aksara.

PADA SETIAP UCAPAN PERPISAHAN

ada ciuman-ciuman yang telah di tinggalkan, di mata, di hidung, di jidat, di pipi dan bibir, kekasih. setelah ucapan perpisahan menggema di sudut-sudut telinga, lalu lolongan sirine penjemputan jiwa yang melompong semakin mendekat. lantas membawanya ketempat antah berantah yang tak ku tahu namanya. ada juga rasa yang tanggal setelah kekata itu mendarat di telinga dan disampaikan kepada otak. dan setelahnya keadaan berangsur senyap, hati bagai kota mati tak berpenghuni, bagai malam yang mencekam perasaan dengan heningnya. aku telah

dibunuh berulang kali di jantungnya. tepatnya setiap kali ucapan perpisahan dan pelukan itu mendarat secara bersama sama di tubuh dan telinga. ketika itu juga nyawaku seperti berada di ujung kehidupan. tidak ada ada apa-apa. hanya ada kemurungan yang menjelma menjadi raungan kehilangan. mengisap seluruh rasa sadar dan nalar, beriringan lurus dengan keadaan yang semakin hari membuat aku semakin meruduk dalam duka dan doa yang panjang. setiap kali kamu mengatakan, setiap itu juga dada bagai di tikam ngilu luar biasa. dan aku tidak bisa apa-apa selain menangisi dan memelukmu dalam doa-doa. ada rasa

aneh yang tidak biasa aku dapati, dan kadang aku rindukan setelah kepergianmu. bibirmu misalnya yang hangat dan penuh di bibirku. atau matamu misalnya, yang selalu menenggelamkan aku berulang kali namun tidak mati. atau tanganmu misalnya, yang tak pernah bosan menyanding dan gandeng tanganku setiap kali berjalan. juga pundakmu, yang penuh dengan curahan hatiku setiap kali kita bertemu, atau air mataku yang tetiba datang dan membasahi pundak. mas apa kamu lupa?

dan apa kamu akan terus melupa?

ini sudah januari kedua setelah kamu melepaskan diri dari genggaman tanganku. jauh … jauh sekali kamu berteduh dari badai dan mentari yang sudah lumpuh. meninggalkan aku dan sepasang perasaanmu yang semakin layu tanpa siraman air surgamu. kembalilah, mas. pulanglah menyapa segala perasaan kehilangan yang berulang menyebut namamu di setiap keadaan. duka ini tiada pernah mengabadi jika kamu datang dan membawa bahagia yang akan kamu namai oleh-oleh untuk di bagi di ranjang atau di malam penuh peluh dalam decitan ranjang.{}

– perempuan aksara.

SERENADE SENJA

untuk sebuah kata cinta; cita.

kunyanyikan lelagu artistik yang bergema pada ruang telinga kau hingga sungguh-sungguh arif dan bijaksana kau dengar ketika sekujur tubuh aku dan kau bermandikan cahaya jingga pada senjakala yang berkecak pinggang di ufuk sana. separuh waktu pada aksaraku telah melahirkan diri kau –seorang lelaki perkasa yang menyimpan eloknya di kepala. juga pesan-pesan penggugah sepi pada jiwa yang mati suri dan lupa pulang setelah berkelana ke negri antah berantah adanya. lelakiku berkarisma arjuna, menyesap seluruh rasa kasih tiada terhingga di jantung dan dada, beraroma kasturi dengan harum mewangi yang tak pernah hilang tujuh hari di batok kepala dan ruang imaji.

laksmi senja meluruh, perasaan-perasaan yang jauh dan gaung cecapan kata yang utuh. aku dan kau tiada berjarak, menyelinap tangan pada punggung dan rindu pada jantung. detak menjadi puisi dan bom waktu menjadi prosa, mereka hidup dan menghidupi diri kita yang penuh sanjungan kekata melankoli. jingga yang menyelinap mengerjap, dirasakannya ketiadaan yang membayang. yang sebentar lagi menjadi kenang. yang sebentar lagi menjadi pengingat. padat, penuh manusia yang juga bernostalgi dan berlari-lari mencari ceceran perasaannya sendiri, tapi kita disini menunggu perahu mendekat, yang akan menyekat jiwa aku dan kau menjadi dua yang berat untuk menyadari rasa yang hebat tertambat di palung jasad.

senyum kau halus, aku akan merindukan senyuman ini pastinya ketika raga kita tak kembali bersua. juga mata kau yang indah, menyimpan seluruh perasaan yang jujur adanya. dijantung kau aku berimpit mesra dengan raga kau, menjadi tulang rusuk yang mejaga utuh organ penting dalam tubuh kau. aku hidup disana. di mana kau merasakan detak jantung, disitu aku ada. yang berpisah kali ini adalah raga kita, yang menjauh dan bersauh adalah tubuh aku dan kau. bukan jiwa atau hembus nafas kau.

senja kali ini begitu manis, dengan air laut yang beriak di sepanjang ruang tunggu dan eloknya pemandangan nirwana sana yang mulai berpisah dengan siang. jabat erat. pelukan. dan serentetan peristiwa diruang tunggu juga air mata dari siapapun yang terpisah dengan sanak, saudara dan keluarga. apakah aku juga akan seperti itu? mungkin. sebentar lagi, ketika kapal besar itu mendekat dan merapat ke dermaga lalu corong suara menggema di sisi-sisi ruangan, lantas seutas kertas di saku kau memanggil untuk segera merapat kedekat kapal. dan aku hanya bisa tertegun dan menatap punggung lebar kau dengan air mata yang tumpah ruah.

mungkin demikian.

adalah seluruh jiwa aku yang limbung di terpa angin senja, dan dinginnya perasaan. kau akan menjauh, menjemput mimpi dan cita yang selama ini tega kau gadaikan. akan ada waktu dimana kita akan bersama kembali, disenja yang sama dengan serangkain peristiwa apik dan bijaksana. cepatlah pergi dan jangan lupa pulang, untuk jiwa yang ikhlas menunggu. untuk raga yang ikhlas menanti dan untuk calon buah hati yang tumbuh di rahim tanpa pernah kita sadari.

– perempuan aksara.

SEORANG LELAKI YANG MERAWAT KESEPIANNYA

coba dengarkan ini,

ketika senja berpisah dengan sore, aku selalu menjumpai malam dengan sepi yang tiada tertahan. semenjak kamu memilih hilang dari genggam, aku menjadi lelaki yang setia merawat kesepian pada kenestapaan. ‘ntahlah … perasaanku selalu dihantui ketakutan ketika menjalin hubungan kembali, bukan karena aku lemah. tapi aku tak ingin menjadi seseorang yang hanya disayangi sesaat dan sia-sia menjadi pecinta. sebab … aku susah payah meramu perasaan, dan kamu setelah aku pilih malah merusak keadaan. kesepian menjadi karibku, bersama catatan-catatan kecil tentang beberapa ratus hal yang masih tersemat dikepala –tentangmu. juga tentang perasaanku yang kamu hancurkan dengan begitu lekas.

sudah, tidak apa-apa.

semakin lama keadaan pasti berangsur menjadi biasa. kamu yang tiada lagi berkabar –mungkin sudah mati– dan aku yang sibuk memantaskan diri. namun … pada setiap kata sendiri selalu ada rasa sepi yang menggelayut di dalam hati. rindu untuk merasakan gejolak perasaan terkadang datang. dan aku merasa bahagia ketika seorang perempuan duduk disampingku, dia akan menangis tersedu ketika menceritakan kekasihnya yang egois, seorang perempuan yang akan menjadi sensitif ketika akan datang bulan, dan seorang perempuan yang kadang memakai pundakku untuk dijadikan sandaran. dan ketika itu aku merasakan bahagia, setidaknya pundakku ini tidak sia-sia diciptakan Tuhan masih terpakai untuk menyimpan kedukaan.

sepi … kesunyian tanpa pamrih, yang mengharuskan kita menahan perih setengah mati.

pada setiap kehilangan aku selalu mencoba mencari arti kepergian. memahami ucapan selamat tinggal yang mudah mereka katakan namun sulit untuk aku mengerti. sudah bertahun-tahun aku menahan, menikmati senyap tak berperasaan. merawat kesepian dengan ikhlas. menjadi perakit duka yang memahakan seorang perempuan untukku jadikan kawan berbincang. tapi itu sepertinya belum bisa aku lakukan meski berulang kali mereka datang ke pundak lalu pergi kembali. hingga aku mengurungkan niat untuk menitip hati.

karena hati tidaklah mampu kupaksa meski pada kenyataannya sepi membutku ingin tersesat. tapi ingatlah ini; setidaknya … aku pernah dan sempat mengasihimu sepenuh hati. sebelum pada kenyataannya aku harus merawat sepiku sendiri tanpa kamu yang pernah berjanji menemni sampai mati.

pada sebuah pengharapan –lekaki sepi–
-perempuan aksara-