DI BALIK POTRET SOSIAL MEDIA

senyum itu cerah, rekah dengan rona merah bagai bunga desember yang sudah lama merindukan geliat gerimis. matanya bulat penuh percaya diri, bersemu dengan tatapan mantap. sempurna tanpa cela. berlenggok, menapak dan tertawa. sungguh tak ada yang kurang bahkan curang.

potret itu tak luput dari puja dan puji mulut lelaki tak tahu diri. yang sedang bersama perempuannya tapi masih lirik sana-sini. juga tak luput dari beribu bintang dari jemari yang lebih pandai bersuara daripada mulut dan lidah tak bertulang. semuanya hanyut, pada paras dan senyumnya, pada rekah bunga pada bibirnya.

namun,
semua terhempas dan berbalik melukai ketika dunia semakin merutuki. kenyataan dan ketiadaan mematikan. menikam bahagia yang terulas di balik potret senyum sosialmedia. ada yang lebih kejam daripada sebuah parang yang menghujam ulu hati, yaitu kenunafikan. pembodohan yang diatasdasarkan kebahagiaan dengan imbalan yang tak seberapa besar.

memuasakan hasrat ingin tertawa dan merasa baik-baik saja kepada sesiapa padahal dalam hati kedukaan membanjir, tak terbendung dan membuat hati semakin terkurung.

semakin hari semakin buruk. semakin hari semakin terpuruk. orang-orang berlomba mencipta bahagia yang pura-pura. tak sungkan untuk menambah daftar foto senyuman dengan hati penuh sembilau menyakitkan. adakah yang lebih buruk dari kenyataan yang penuh kedukaan? sedangkan pada mata-mata mereka, pembohongan kepada diri sendiri gencar dilaksanakan.

tepat kepada kalian, senyum apa yang dilukis pada potret rona wajah, ketika hati terasa getir dan mata menyirat duka sedangkan otak ingin mendapat pujian luar biasa?

tenang saja, ini bukan puisi sindiran. hanya mengatakan kenyataan. senyum kalian itu mahal, jangan pamerkan kesembarang tempat nanti dicuri orang-orang tak terhormat.

– perempuan aksara.

Iklan

N A K E D

malam sudah malam, tetapi belum serupa pagi. masih tentang mimpi dan jatuh cinta yang bersamaan gugur di bulan November.

sosok itu …
perlahan-lahan datang. menawarkan cumbuan hebat yang memaksa untuk membalas setiap rayunya dengan benar-benar ikhlas seperti yang dia lakukan. perlahan, semuanya dihempaskan: tubuh; baju; dan perasaanku. semuanya tak kembali berada di diriku. tersihir, terhipnotis hingga benar-benar lupadiri dan jatuh tepat di dekapnya.

tetapi,
ketika permainan baru setengah perjalanan. dia memutuskan meninggalkan aku sendirian. memutuskan untuk membanting pintu dan mengemasi kecupnya yang masih tinggal di bibir. barangkali akan menanggalkannya kepada bibir perempuan lain. barangkali memang aku tak pernah benar-benar pantas untuk dititipi apa pun yang dia miliki.

semenjak itu,
perasaanku yang telanjang dan berlumur duka, masih mendekap sendiri dingin yang menggigit-gigit disetiap tulang belulang. aku tak pernah mencoba mengenakan perasaan itu. tak pernah mencoba mengenakan kembali apa yang sudah tersingkap. aku membiarkan perasaanku ditertawai kepedihan. kesendirian. dan kenestapaan yang bertubi.

di dalam hatiku,
tak pernah hilang rasa itu, masih utuh dan serupa apa-adanya semenjak dulu hingga hari ini. tetapi, setelah semua tertanggalkan. setelah semuanya dihempas dan tak pernah dikembalikan. setelah pelukan yang menghangatkan itu kehilangan tempatnya pulang. aku tak kembali mau menjamin kebahagiaan atas nama apa pun dari dirinya.

aku pikir,
biar telanjang sudah tubuh dan perasaanku. biar ditertawai sepi, biar semakin menjadi. dan biarkan aku bawa mati. sebab, pada suatu waktu nanti. aku akan terkubur di sini, dengan tubuh dan perasaan telanjang. tanpa satu helai pun benang dan hanya mendekap kenangan di jantung yang masih betah menikam. agar siapapun sadar,

perasaan besar itu tak akan pernah hilang, meski berulang kali ditanggal dan ditinggalkan.

– perempuan aksara.

CU KU P

hari ini aku meyakinkan diri untuk berhenti. lebih tepatnya berhenti berada di sampingmu juga berhenti menjadi orang yang tabah dengan segala gegabah perasaan. mungkin benar, aku memang harus mengikhlas dengan segera sebuah kepergian. sebab, seperti apa pun aku mencoba bertahan dan menggandeng tangan, badai perpisahan itu tetap agung menyekat kebersamaan yang selalu disemogakan.

bukan,
bukan aku berhenti mencintai robmu hari ini. tetapi, aku ingin membebaskan persoalan perasaan pelik ini. aku tak mau semua menjadi suri kembali, biar … biarkan detak jantung ini aku simpan sendiri. rasa ini aku pendam dalam-dalam. karena, untuk apa aku bertahan sedangkan kamu tak pernah mencoba untuk mempertahankan. aku hanyalah ketidakmungkinan, yang di matamu hanyalah butiran gelebu jalan. tipis, samar, dan tak terlihat.

semakin waktu bergulir, semakin aku paham perasaan ini tak pernah kembali kamu pikir. mungkin kesibukan yang melupakan pelukan di antara kita. tetapi, ada satu sekat tebal yang tak pernah kita bisa jelaskan apa itu maksudnya. kita yang sama-sama sudah berbahagia dengan keadaan masing-masing, yang sudah mengupayakan mati-matian perasaan. akan begitu saja sia-sia jika jarak ini tak pernah mampu kita hadapi bersama. sedangakan kamu, lebih berbahagia dengan ketiadaanku di antaramu.

meski aku menangisi ketiadaanmu, meski aku selalu ingin kamu di sini. tetapi, cukuplah. aku tahu diri untuk semua hal pelik ini. tak perlu kembali mengingat aku. tak usah menyisihkan waktu untuk menanyai kabarku. sebab yang pasti kamu harus tahu, aku baik-baik dan akan tetap baik-baik saja meski di dalam dada mendekap nestapa dan ketiadaan itu sendirian. tidak masalah …

aku akan lebih sakit hati apabila tahu apa yang sebenarnya. akan lebih menyayat apabila semakin aku mendekap semua dengan penuh harap sedangkan kamu menganggapnya buang-buang tenaga.

ah …
memang begitu bodohnya aku. cinta terasa sebak jika aku memujanya dengan melulu. dan aku pikir sandiwara ini cukup. cukup memuakan.

terima kasih.

– perempuan aksara.

MERUBAH CARA PANDANG MENGENAI LAGU LINGSIR WENGI

Lagu lingsir wengi menggugah setiap pendengarnya untuk tidak melepaskan telinga dari lagu tersebut. Namun setelah lagu ini menjadi soundtrack salah satu film horror, semua menjadi merubah cara pandang mengenai lagu lingsir wengi. Namun, sebelum pemikiran kita dibawa ke hal yang tidak sebenarnya, mari kita simak sedikit ulasan mengenai lagu lingsir wengi yang sebetulnya.

Kalian yang suka dengan film horror tentunya tidak asing dengan lagu lingsir wengi, bahkan ketika kalian mendengar pasti merasakan merinding karena aura mistis itu masih melekat di mindset kalian. Lalu tidak mau lagi mendengar lagu ini karena merasa lagu ini memanggil roh atau syetan atau kuntilanak seperti yang kalian lihat.

Padahal, lagu lingsir wengi adalah lagu yang hits pada masanya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lagu yang diperdengarkan di film kuntilanak bukanlah lagu versi asli dari lingsir wengi itu sendiri. Lagu tersebut diubah liriknya demi memenuhi keinginan si pembuat film dan tuntutan produksi perfilman.

Jadi siapa pembuat lagu lingsir wengi aselinya?

Lagu ini diciptakan dan dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga atau Raden Said. Lingsir wengi menggunkan pakem gending jawa yaitu macapat, gending macapat sendiri ada sebelas pakem dan yang digunakan dalam lagu lingsir wengi adalah pakem durma. Pakem durma sendiri memiliki ciri khas sangar, suram, sedih, atau pengungkapan sesuatu yang mengerikan. Lantas di dalam lagu lingsir wengi aslinya dituturkan dengan perasaan lembut, halus juga menyayat hati.

Sunan Kalijaga sendiri adalah salah satu sunan Wali Songo yang menggunakan media untuk menyebarkan agama Islam. Salah satu cara yang beliau gunakan adalah menggunakan lagu, lagu lingsir wengi dipakai atau disenandungkan setelah melaksanakan sholat malam. Yang digunakan sebagai tolak bala juga pengingat dan panjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lalu bagaimana lagu ini sebetulnya?

♥ Versi asli

Lingsir wengi
Sepi durung biso nendro
Kagodho mring wewayang
Kang ngreridhu ati

Kawitane
Mung sembrono njur kulino
Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno

Nanging duh tibane aku dewe kang nemahi
Nandang bronto
Kadung loro
Sambat-sambat sopo

Rino wengi
Sing tak puji ojo lali
Janjine mugo biso tak ugemi

Arti dalam Bahasa Indonesia

saat menjelang tengah malam
sepi tidak bisa tidur
tergoda bayanganmu
di dalam hatiku

permulaanya
hanya bercanda kemudian terjadi
tidak mengira akan jadi cinta

kalau sudah saatnya akan terjadi pada diriku
menderita sakit cinta(jatuh cinta)
aku harus mengeluh kepada siapa

siang dan malam
yang saya cinta jangan lupakan ku
janjinya kuharap tak diingkari.

♥ Versi lagu dalam Film Kuntilanak:

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet

Arti dalam Bahasa Indonesia:

Menjelang malam, dirimu (bayangmu) mulai sirna
Jangan terbangun dari tidurmu
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut

Bagaimana setelah tahu lagu versi asli dan bukan asli? Kedua lagu lingsir wengi ini sebetulnya sama, menggunakan pakem gending juga sama, hanya saja lirik yang dibuat oleh Sunan Kalijaga diubah menjadi berbeda dan lebih beraura magis dan horror, itulah yang menjadi orang takut ketika mendengar lagu lingsir wengi.

Padahal jika kita selisik lebih dalam arti dari lagu asli memiliki makna yang baik. Lagu ini sebetulnya meminta kita (manusia) untuk mengingat kepada Tuhan (beribadah) jika kita bangun tengah malam dan tak bisa tidur kembali. Lagu lingsir wengi juga memiliki makna untuk selalu cinta kepada Tuhan. Lagu ini sampai sekarang juga masih popular di kalangan masyarakat jawa dengan versi originalnya, hanya diubah genre musiknya karena memenuhi permintaan pasar.

Jadi bagaimana? Masih memiliki cara pandang negatif tentang lagu lingsir wengi? Terlepas dari semua itu, sebetulnya pemaknaan musik kembali kepada pribadi masing-masing, mau bagaimana terhadap musik dan memaknai musik itu sendiri. Namun, jika kita sudah paham dan mengerti akan maknanya, maka lebih baik pikiran negatif itu di hapus. [tabik]

TENTANG …

bisakah aku kamu ulangi, perihal perkenalan yang dulu sempat terpahat dengan hangat. bersama senyumu yang aku pinjam selagi sepi meregang nyawa di ujung rindu yang kehabisan upaya. atau, sudahkah sepantasnya kita melupa, perihal ini dan itu mengenai aku kamu yang tak pernah mampu terlupa begitu saja?

ketika aku diizinkan Tuhan mencintaimu hari itu, perasaanku adalah gelas yang sengaja aku tumpahkan isinya agar bisa menerima isi yang baru. sebab, aku percaya. sosokmu tak pernah mendustai apapun yang akan aku kamu rencana untuk kedepannya.

taukah kamu bahwa selagi mampu aku mencintai, aku selalu ingin kamu yang aku datangkan disetiap dedoa dan mimpi malamhari? pernahkah kamu bertekad untuk
menjadikan aku prioritas selain banalitas yang membuatmu melupakan segala aktifitas mencintaiku? pernahkah?

atau rindu hanyalah isapan jempol yang mudah sekali kamu katakan sedangkan kenyataan berbalik keadaan.

ohhh … rindu yang agung mengoyak-koyak sepi bertubi-tubi. hancur sudah dada dikelupasi elegi, pasrah terpuruk dibacok sembilau. sayat-menyayat perih dalam luka yang diturih.

ohhh … rindu yang laksana jeruji, pasrah aku. sakiti aku. lukai sekujur tubuh ingatanku. jangan ampuni, jangan …

gerimis masih membelai-belai sepi sedangkan kekasihku tak lagi mampu kupeluk diantara pedih yang mengiris.

ohhh gerimis … kuingin mengutuk kau menjadi sendu, yang terus menjatuhi aku dengan airmu yang terlampau luka menusuk tulang-tulang rindu yang merana.

lalu … ini rindu atau sebuah kehilangan. ketika kabar tak lagi bermunculan dikedipan ponsel pintar, ketika suaramu tak lagi mampu tererkam. ketika waktumu banyak tercuri oleh keadaan.

ini rindu atau hanya kemalangan. ketika kamu mencari di mataku yang ada hanya dinginnya air hujan yang serupa perasaan. beku. tak ada apa-apa, rasa, kita, cinta, karsa, tak ada. aku telah hilang dipagut waktumu yang bisu. yang menyeretmu menjauhiku.

maka biarkan aku perlahan membenci sibukmu, membencimu yang melupakan perkenalan kita, melupakan aku, melupakan janji kita, melupakan hari ini kita memulai semuanya, melupakan aku yang memeluk rindunya sendiri di bawah gerimis, melupakan jarak, melupakan senyumku, dan melupakan aku dan kamu yang kini menjadi sepasang yang telah lekang.

– perempuan aksara.

MALAM HARI DI ROTEMHAM STREET


Malam ini Rani terpaksa memberanikan diri pulang sendirian, di tengah guyuran hujan dan kekesalan yang memuakkan dia menangis sesenggukan sepanjang jalan. Pikirannya kacau, pun dengan perasaannya yang terasa terluka. Ada kecewa di sana yang tak mampu dia katakan. Dalam hati dia mengutuk kekasihnya yang hari ini bisa-bisanya membatalkan perjanjian yang sudah direncana seminggu lalu.

“Maunya apa coba anak itu? Dia pikir bisa senaknya gitu batalin janji? Aku hlo udah nunggu dari jam enam sampai setengah sembilan, tapi dia ga datang gitu aja. Sial!” umpatnya pelan sambil terus berjalan sembari memeluk jass hujannya yang sama sekali tidak mengurangi dinginnya cuaca pun hatinya.

Jalan Rotemham mulai sepi. Hanya ada lentera yang sengaja dihidupkan untuk menghalau jalan malam hari. Rani sedikit berjingkat ketika melewati genangan air, dan sesaat terdengar suara langkah seseorang di belakangnya. Dia pun membalikkan badan. Namun, tidak dia dapati apa pun. Setelah dirasa tidak ada apa-apa dia lalu melanjutkan jalannya. Ketika dia berbelok ke gang menuju rumah, kembali suara langkah patah-patah itu terdengar.

“Kok aku merinding,” ucapnya pelan, sambil mempercepat langkahnya. Air matanya masih setia menggenang di pelupuk. Kali ini tidak ada maaf dari Rani untuk Bara, kekasih yang sudah menemaninya selama tiga tahun.

“Ran.” Suara parau itu membangunkan malam sunyi. Rani lalu membalikkan badannya dan mendapati seorang lelaki dengan jaket kulit yang tertutup jas hujan transparan dengan membawa tas hitam di punggungnya, lelaki itu berbadan tegap dan berjalan cepat menujunya. Namun, Rani malah membalikkan badan lalu melanjutkan jalannya. Dia tak mau menemui lelaki itu, sungguh tidak mau. Beberapa menit lalu dia telah membuat hatinya teraduk-aduk.

“Kenapa ngekor sih?” ucapnya pelan.

“Rani, tunggu aku dong. Maafin aku, sungguh,” teriakan itu semakin jelas.
Rani lalu memberhentikan jalannya, “Kamu pulang aja deh, aku ga mau ketemu kamu, Bara,” ucapnya tanpa membalikkan badan.
Bara yang tadinya berjalan cepat ikut berhenti ketika melihat Rani juga berhenti. Baru setelah Rani berjalan, Bara ikut jalan kembali serupa tadi. Bara berjalan semakin cepat, dengan mengendap-endap. Dia pura-pura tak mendengar perkataan Rani, yang dia ingin sekarang hanya memeluk tubuh itu dan minta maaf.

“Udah, ga usah ngendap-ngendap semacam maling, aku tahu kamu udah ada di dekatku.” Rani semakin cepat melangkah.

“Ya udah aku berhenti,” ucap Bara lantang.
Seketika Rani berhenti dan terduduk dengan kaki ditekuk. Hujan semakin deras mengguyur dan kakinya semakin lemas. Antara dingin dan kelelahan.

“Nah … jangan lari-lari makanya, aku udah bilang.” Bara lantas berlari mendekati kekasihnya, “Aku bantu jalan ya?” Bara kembali mencari kesempatan.

“Ga mau, kamu pergi aja sana! Tadi kalau kamu ga kejar, aku juga ga bakal cape,” bantah Rani.

Tanpa diperintah, tangan Bara membantu Rani berdiri dan memapahnya. Sebelumnya Rani benar-benar tidak mau, kekesalan masih hinggap diperasaannya, namun semakin dia paksa untuk mengelak itu tidak mungkin karena kakinya sudah tak lagi sanggup untuk berdiri.

“Aku antar sampai rumah,” ucap Bara sembari tersenyum. Hujan deras berubah menjadi gerimis ketika sepasang anak muda tersebut berjalan dengan rapat. Dinginya malam ini tak lagi terasa.

Bisa aja nihh anak buat tersipu gini batin Rani.

Sesampainya di depan latar rumah Rani, seorang laki-laki dengan perawakan sama dengan Bara duduk di kursi sembari berbincang dengan Dharma, ayah Rani.

“Kok–kok kamu, Bar?” Rani bingung, “Lalu dia siapa? Di—“ lanjutnya sembari menunjuk seseorang di sampingnya yang tadi membantunya berjalan. Namun, orang itu sudah tidak ada di samping Rani sekarang. Rani mulai gusar.

“Siapa?” Bara yang ada di kursi duduk masih bingung dengan tingkah Rani, sedari tadi yang dia tahu Rani berjalan sendiri. Dharma pun juga ikut bingung.

“Ran, kamu tadi itu jalan sendirian. Sambil terpincang-pincang gitu kakimu, kok malah bingung,” jelas Dharma.

“Tapi, Yah, Bar. Tadi itu, ada Bara di samping aku yang bantu aku jalan.” Rani lalu menjelaskan apa yang dia alami.

“Sudah, kamu masuk sana!” Perintah Dharma. Rani yang ketakutan lantas melenggang ke dalam rumah dan meninggalkan Bara dan Ayahnya yang masih di depan.

_O0O_

Siang tadi, telah terjadi kecelakaan di jalan Rotemham. Korbannya seorang pengendara motor dan seorang pejalan kaki. Kejadian terjadi pada pukul 12.00 siang, ketika seseorang sedang menyebrang jalan dan dari arah utara pengendara motor melaju dengan lekas. Karena rem mendadak dan jalan licin, maka sepeda yang ditumpanginya terperosok ke dalam jurang setinggi sepuluh meter, dan penyebrang jalan juga ikut terpental hingga lima meter jauhnya sampai bahu jalan. Diketahui seorang laki-laki pengendara sepeda motor menggunakan jaket kulit warna hitam, dengan tas punggung hitam yang isinya satu bucket bunga mawar merah.

Suara pembawa berita sore ini cukup bersemangat menggema dari televisi ruang depan, Ranidae yang sedang bersiap-siap untuk kencan dengan Bara mendengarnya dengan angin lalu. Dalam hatinya yang ada hanya rasa bahagia sebab akan segera bertemu pujaanya setelah sekian lama menjalin hubungan longdistance. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar dengan dandanan yang cukup sederhana tapi sangat manis.

“Ma, aku pergi.” Sambil membanting pintu depan dia keluar.

“Lekas pulang,” seru Risma. Tetapi sudah tak ada jawaban dari Rani.

– serenade senja.
#cermin

MAS BARA BELUM PULANG

oktober jatuh di balik pagarpagar kemarau. panas di bumi juga panas di hati, mereka samasama butuh gigilnya dibasuh air hujan agar tak kepanasan. atau mungkin mereka samasama butuh pelukan agar semakin kepanasan?

birai langit senja menguning hari ini. terjebak di balik kusenkusen juga jendela yang sengaja dibuka lebarlebar agar angin kesepian dan kerinduan memasuki raga juga rasa dan ruang hampa.

“kabarmu bagaimana?” seorang perempuan berbicara dengan suara lembut, sambil menatap figura dengan penghuni seorang lelaki berwajah bundar. tawanya tetap ajeg, sedemikian rupa dengan dua gigi geligi besar yang ada dibarisan depan. perempuan itu lalu memeluk figura, sambil sesekali menyeka airmata yang kesepian.

“pulanglah!” umpatnya pelan.

rindu menjebak detaknya di ruang ini, mempertontonkan kronisnya rasa cinta yang semakin hari gigil dipeluk sepi. perempuan itu lalu bungkam, menangkup airmatanya yang jatuh tak karuan. rindu ini datang kembali menyapa ketika sepi bermuram durja, seperti menagih temu untuk rindu yang hampir sekarat di antara sekat.

sesekali isaknya terdengar, lalu berhenti. begitu terus hingga matanya hampir lebam.

“Put,” seru seorang lelaki dari luar. namun isak yang semakin sesak, menyumpal telinganya yang tak mendengar seruan itu. dan sekali lagi suara lelaki terdengar. namun perempuan tetap tak menjawab.

“Put, Mas Bara sudah pulang.” ketuk pintu dan suara itu akhirnya jelas terbaca oleh telinganya. senyum tipis dipamerkan. lalu perempuan itu menghapus sisa air mata dan berlari ke ambang pintu. tak sabar dia membuka dengan tergesa, namun.

benar …

Mas Bara sudah pulang, dengan besi selingkar yang menembus dadanya. dengan mata yang tak lagi mampu terbuka. dia tersenyum menerima kepulangannya hari ini, menyambut airmata yang sudah tak lagi mampu diingkari.

Mas Bara pulang hari ini, membawa rasa cinta yang agung di dalam hati.

Mas Bara belum pulang hari ini, sebab perempuan yang menangis itu mengisahkannya sekali lagi. hari ini.
[tabik]

– perempuan aksara.