Kursi Jabatan💐



Kaki kecil mengapal
Bertanda lelah telah menggumpal
Beradu dengan bengis jalanan
Demi sesuap nasi bisa termakan

Jatuh bangun mencari uang
Mendorong gerobak sepanjang kenang
Seucap merdeka belum mereka dapatkan
Layaknya orasi para perebut kursi jabatan

Ini yang kau katakan merdeka?
Padahal mereka masih tersiksa
Ini yang kau katakan menang?
Padahal perjuangan belum selempar batu tertuang

Hanyalah kursi jabatan yang mereka rebutkan
Demi mendapat sebuah penghargaan
Merasa bangga saat mereka diambang kemenangan
Padahal rakyat merapatkan sabuk menahan kelaparan

Fitri, Februari 2017

Pantun Kerinduan dan Seperangkatnya💐

/1/
Dari empang bawa ikan dan yuyu
Di olah mentah di jadikan satu
Hay pria dari Indramayu
Bolehkah aku berbalas pantun denganmu?
@aksaramadhani — aksaramadhani.wordpress.com

/2/
Dari laut bawa ikan tenggiri
Ikannya lepas tak ada yang tau
Hai wanita cantik dari wonogiri
Silahkan lanjut jika kau mau
@pdeni25 – puisidaninspirasi.wordpress.com

/3/
Dari Indramayu ke Wonogiri
Beli baju pengantin berwana biru
Apa yang kau mau mengerti?
Perihal hati atau urusan rindu
@aksaramadhani — aksaramadhani.wordpress.com

/4/
Ke wonogiri beli celana
Warnanya kuning dengan biru
Aku pun tak tau semua tentang rasa
Apalagi rasa yang bernaman rindu
@pdeni25 – puisidaninspirasi.wordpress.com

/5/
Bebondong rindu menyulam waktu
Semu biru tempias kelabu
Sudahlah engkau jangan begitu
Perihal hati mana ada yang tahu
@aksaramadhani — aksaramadhani.wordpress.com

/6/
Waktu berputar pada poros semu
Porosnya usang termakan waktu
Aku mau tau tentang hatimu
Pada siapakah kau akan berikan rindu mu itu?
@pdeni25 – puisidaninspirasi.wordpress.com

/7/
Bunga melati sedap di pandang mata
Tumbuh di tepi jalan berbatu
Jika aku boleh meminta
Biarkan si rindu hanya untuk dirimu
@aksaramadhani — aksaramadhani.wordpress.com

/8/
Mata berair
Terkena debu
Hatiku mencair 
Mendengar kata rindu mu
@pdeni25 – puisidaninspirasi.wordpress.com

/9/
Es lilin di makan di pinggir jurang
Beli satu dapatnya enam
Jangan mengucap rindu dengan girang
Perihal rindu tak selucu itu, Tuan
@aksaramadhani — aksaramadhani.wordpress.com

/10/
Eslilin beli di wonogiri
Esnya mencair jatuh ke muka
Aku tak tau pirahal hati
Hanya bahagia yang aku rasa
@pdeni25 – puisidaninspirasi.wordpress.com

/11/
Serumpun sastra tertata sama
Pada kidung bulan purnama
Apakah bahagia itu serupa cinta?
Jika iya, aku pun merasanya
@aksaramadhani — aksaramadhani.wordpress.com

/12/
sastra tertulis di kertas yang sama
kertasnya habis tinggalah dua
cinta dan bahagia memang terasa
namun terkadang punya arti dan akhir yg berbeda
@pdeni25 – puisidaninspirasi.wordpress.com

/13/
Dilema hati menunggu sang senja
Merong-rong deru dalam jiwa
Semoga bisa berakhir bahagia
Bukankah itu yang kita minta sebenarnya?
@aksaramadhani — aksaramadhani.wordpress.com

/14/
Senjaku tunggu berwarna jingga
Warna yg indah nan merona
Memang benar itu yang di minta
Tapi terkadang berakhir luka
@pdeni25 – puisidaninspirasi.wordpress.com

Trimakasih untuk kontriburor atas waktunya🙏 Semoga bisa di nikmati dengan hati bahagia😂🙏

Di Tepian Gelisah💐

Selaksa bulir air terjatuh
Menyuguh ulasan lengkung tipis
Bibir mengatup, mata berbisik
Mengisyarat cinta laksana candu
Otakku tak waras~
Namun,
Di tepian gelisah
Di derasnya rinai hujan
Di atas angkuhnya bayangmu
Yang terus menjelma dalam fikiranku
Aku sulam bait kekalahan
Terseok~
Membawa luka
Dan seperangkat rasa antah berantah lainnya
.
Serupa ilusi
Serupa mimpi
Tapi ini nyata adanya
Tanpa mengada-ada
Sudah berapa ribu air mata yg tertumpah
Menjadi saksi hati yg terjarah?
Hingga beku air mata ini
Menzolimi rasa yang terus membuat suri
.
Sepadankah ini?
Pantaskah ini?
Lalu apa guna aku menulis
Jika bengis api membakar?
Untuk apa aku membingkai
Jika figura akan remuk seketika?
.
Bangunkan aku, ini mimpi buruk untukku
Ini benar luka
Hingga setuhnya tertulis jelas
Dalam dekap mebekas
Seutuhnya, dalam hati penuh lara


Pada buliran hujan aku temukan dirimu di sana, menatapku dengan tajam, membisukan bibir berkata dengan mata. Melipat tangan dan membuang senyuman, kredil sekali otakku ketika menatap hujan. Namun. di hujan menderas itu, di tepian gelisah yang merajah hingga tandas, dan di sklebat bayangmu yang masih tetap angkuh di pikiranku. Aku sulam bait kekalahan, terseok membawa sayatan luka bersama seperangkat rasa antah-berantah lainnya.
.
Ini bukan ilusi, ini bukan pula mimpi yang ketika aku bangun semua akan berakhir. Tapi ini nyata adanya. Ini gamblang terjadi jelas di depan mata. Yang harus tetap aku jalani ketika aku membuka mata ataupun saat aku akan menutup mata. Sudah berapa ceritakah yang melibatkan air mata untuk di jadikan saksi? Sudah berapa ratus air matakah yang terjatuh untuk sebuah luka? Hingga beku sudah air mata ini, tak mampu terjatuh.
.
Sepadankah ini dengan sebuah jalan juang yang aku lakukan jika pada akhirnya precikan api-api mampu menghanguskan seluruh kertas cerita? Sepadankah ini dengan cerita yang aku bingkai dengan sedemikian indahnya lalu semua berujung pada pecahnya figura?
.
Bangunkah aku jika kali ini aku bermimpi, karena aku tak ingin bermimpi seburuk ini. Ini benar-benar luka. Bukan lagi cerita, bukan lagi cerpen yang aku tulis tujuh hari tujuh malam. Tapi ini lara yang lama kelamaan tertulis jelas jalan ceritanya, bukan di kertas. Namun, di jalan hidupku. Sutuhnya~

Fitri, Februari 2017

Kelam, Lebam, dan …,💐

​Haru, pilu
Perlahan mencekam
Membilur hancur
Merajam melebur remuk

Setetes luka merubah segala
Dalam lembah kelam
Lebam di hajar asa
Menumpah segala isi kepala

Meriuh mimpi semalam
Melempar hingga tenggelam
Cerita hanya tinggal kenang
Terlukis sangat gamblang

Dan seketika aku gigil
Tanpa rengkuh sang surya merajah waktu
Pagi pilu dalam dengkuran
Dengan seutas rasa yang tercipta aku bertahan

Fitri, Februari 2017

“Cinta, Perbedaan dan …,💐

Lembayung kesakitan menukik, menerkam hati yang di rundung bahagia. Melumat utuh barisan-barisan pertahanan cinta suci yang di bangun dari tembok yang tebal. Cinta tak pernah bersalah perihal apa pun, karena dia suci tak pernah tertandingi. Perbedaan lah yang membuat anugerah itu menjadi hal yang tabu, menjadi hal yang tak mungkin. Padahal cinta tak pernah mau tahu soal perbedaan, cinta tak mau tahu soal apapun. Yang dia tahu hanya memercikkan rasa bahagia untuk hati yang di rundung derita.

Perihal perbedaan yang selalu membuat cinta itu berakhir, perihal perbedaan yang membuat segalanya yang indah menjadi durja. Ini derita bukan? Saat hati benar-benar di balut cinta yang berarti dan saat itu pula rasa kita harus berhenti karena satu hal yang tidak kita inginkan yaitu perbedaan. Sekali lagi, bukankah cinta tak mau tahu soal perbedaan? Lalu kenapa hanya karena perbedaan cinta harus berakhir? Apakah cinta harus selalu sama? Bukankah cinta melengkapi kekurangan? Dan … dan … dan … masih banyak hal yang aku pertanyakan perihal cinta yang tak pernah menjadi satu karena perbedaan. 

Siapa yang akan bertanggung jawab untuk hal ini? saat kita sudah bisa membangunkan hati yang lama suri, seketika itu juga hati kita harus kembali mati, tak banyak yang bisa di lakukan. Berjuang pun rasanya sudah tak mampu, apalagi menerjang. Lemah, tak pernah bisa kembali menguatkan diri apalagi untuk sekedar berdiri, terpuruk dan sangat-sangat terpuruk. Rasanya sudah tak mungkin, tak mungkin lagi berdiri, berlari. Ini terlalu menyakitkan untuk ukuran bahagia sekalipun sudah bisa melewati namun rasanya sudah berbeda. Haruskah menyerah padahal cinta harus terus di perjuangkan? Haruskah berhenti padahal cinta tak pernah mati sampai di sini?

Serupa lara, namun ini lebih menghancurkan dari pada sebuah kata hancur sekalipun. ‘ntahlah … cukup!

​Di ujung waktu penghujung rindu, kuatkan diri ini untuk menyangga beban tubuh ini. Biarkan seluruh sakitku meluruh bersama rendaman air mata yang terurai hingga membuat sembab. Sudah … aku sudah payah di hajar kelam. Bahagia katanya tapi ini bukan aku. Aku tak seperti ini, ini lebih menyakitkan, ini lebih menghancurkan dari pada sebuah kata hancur sekalipun.
Aku tak bisa bertahan lebih lama, dalam ketidak tentuan. Kepingan yang akan menyatu itu kini remuk kembali. Utuh penuhh rusak tanpa bisa di perbaiki lagi. Sudah ku katakan, sudah ku ucapkan jika cinta tak pernah salah. Hanya karena kita yang berbeda kita yang tak sama hingga membuat seluruhnya rasa seperti melebur.

Selaksa Keindahan Ciptaan Tuhan💐

Fajar mengutuk malam
Merekahkan temaram langit petang
Membuka benderang mentari bersinar
Di antara sucinya gelayut embun dedaunan
Langit membiru, lembut menyejukkan

Hanya sebuah decak kekaguman
Pada indahnya cipta Tuhan
Tanpa batas
Buritan hijau terlukis jelas
Di bawah naungan cakrawala biru terulas

Puspamala tersuguh di depan mata
Wahai pemilik semesta
Betapa elok serumpun karpet tertata
Bak hijau zamrud katulistiwa
Rapi tanpa cela

Aku hanya bisa bergumam
Mensyukuri apiknya sang alam
Di tanah aku di lahirkan
Ibu pertiwi tersenyum mengeja keindahan

Fitri, Februari 2017

“Rona Jingga”💐

Hingga …,
Jingga menyapa
Menampakkan dua insan memadu cinta
Menumpah selaksa rasa
Di bawah rona senjakala

Melumat utuh waktu
Menderu dalam buaian nafsu
Lembut merenggut
Pias wajah semrawut

Temaram …
Serupa fatamorgana
Namun nyata adanya
Jelas terpampang
Tanpa halang

Manis kata …
Luruhkan canda
Pipi merah merona
Tanpa bisa direka

Serupa wangi-wangi
Namun bukan melati
Hanya alunan aksara pengharum hati
Yang ucapnya tak pernah mendustai

Ditimang decak sanubari
Mampu hidupkan hati yang lama suri
Hingga kini
Sampai nanti
Cintanya kan abadi

Fitri, Februari 2017

Rindu (lagi) Tuan💐

​Sebelum fajar berbondong datang membawa mentari dan segala sahabatnya, kita pernah terombang ambing rindu dan hanya bisa mengucap lewat pesan yang di tuliskan di layar handphone.

Kita juga pernah, memadatkan cerita saat akan tertidur kala malam datang menyergah tubuh lelah. Padahal diri kita sudah tak sanggup melawan namun rindu kita terus menagih akan kebersamaan meski hanya lewat layar handphone.

Lihatlah, kasih. Betapa hati ini telah lebam di pukul sang rindu yang tak pernah mau tahu? ‘Ntah pagi, siang, atau malam.

Pahamkah kau kasih. Jika aku tak bisa mendustai perihal rindu ini. Perihal sang rindu yang selalu mengoyak kalbu. Hingga rasaku mati surii seketika, jika fikiranku teramat sangat kental tentangmu membayang.

Ah … rindu lagi. Kenapa dia selalu menjadi topik termanis kala dua insan terpisah jarak? Ataukah ini sebuah jalan cerita dari sebuah cinta yang tercipta? ‘Ntahlah … sepagi ini saja rinduku sudah tak mau di tahan.

Berbaik hatilah rindu, biarkan sang waktu menjawab semua lelahmu saat menunggu.

Fitri, Februari 2017

Sabtu, 11 Februari 2017

​Semburat merah jambu, bukankah masih tercetak jelas di raut wajahku malam ini, Tuan? Akibat perbuatanmu senja tadi, yang tanpa berdosa mengundang seluruh perhatian dan rasaku padamu. Kau yang membuat semu itu menjadi nyata, gamblang tanpa tertutup apapun.

Luluh sudah hati ini pada sosokmu, yang terus mengulas rindu tanpa mau di redam. Yang terus mewangikan hati tanpa bunga-bunga. Dan yang terus mengusap segala lelah dengan senyum pasrah. Ah … kau, Tuan. Pandai sekali mengobrak abrik hati bahkan membuatnya bertekuk lutut. Selaksa rasa tumpah seketika kala ucapan demi ucapan cinta tergambar jelas di mata dan bibirmu.

Tanpa dusta, tanpa dosa. Hingga semua yang ada di sana hanya fatamorgana sedangkan kita berdua nyata. Aku bisa apa kali ini? Ketika senyumu adalah candu, seperti alkohol yang memabukkan hingga aku mampu terbius dengan sendirinya. Aku bisa apa, Tuan? Aku kelu, lidahku tak bisa mengucap selain rindu. Seperti malam ini.

Trimakasih, Tuan.
Telah kau percaya diri ini untuk menggenggam hati dan seluruhnya. Telah kau pasrahkan cinta dan seperangkatnya kepada diri ini. Hingga nanti Tuan, hingga semua tak lagii menjadi fatamorgana, semoga diri ini selalu membuatmu merasa jatuh cinta tanpa ada alasan dan tanpa keraguan.

Fitri, Februari 2017

Kau, Tuan💐

​Aku terjebak, dalam permainan rasa yg di sebut cinta. Menggenggam erat hati, hingga meluruhkan seluruh ego yang telah lama aku tutup. Kian hari rasa itu kian meletup, rasa itu kian kental dan tak bisa aku tangkis.

Kau, yang tanpa ragu meliukkan pena pada hati untuk menggores cerita baru. Yang dengan tanpa dosa pula menanam rasa rindu pada hati yang tengah semi. Dan aku? Jangan tanya aku bisa apa kali ini menghadapi seluruh gejolak dalam hati.

Aku bisa apa, jika seluruh rasa yang kau tanam dalam hati makin lama makin tumbuh dan menjadi? 
Apa yg harusnya aku lakukan, jika seluruh otakku telah kau dominasi akan euforia tentangmu yang tak pernah henti?

Aku kalap seketika, hingga pada akhirnya. Aku yang selalu meminta Tuhan untuk diri kita agar pada nantinya kita bisa melukis dengan kanvas yang sama dan alur yang sama pula.

Kau benar-benar menyadap seluruh rasaku kali ini, hingga aku kelu. Kaku, tak mampu mengucap sepatah dua patah kata. Kau yang membuatku gelisah, dilema tanpa kata. Sikapmu senyummu dan seluruhnya tentangmu mampu mencipta lengkung tipis di bibir tanpa ada alasan selain kau.

Dan kali ini, aku mulai mengenal sebagian dari seluruhnya tentangmu. Masa lalu, hidupmu, dan seluruhny tentangmu. Ini step ke berapa? Aku lupa. Yang aku tahu, tiga kali senja telah kita habiskan bersama, dengan hujan, dengan kopi jus dan kue, dan dengan angin ditempat di mana kita berdua bisa saling mengerti dan mengobati seluruh rindu yang riuh menagih temu.

Kau, Tuan.💐

Fitri, Februari 2017