MAS BARA BELUM PULANG

oktober jatuh di balik pagarpagar kemarau. panas di bumi juga panas di hati, mereka samasama butuh gigilnya dibasuh air hujan agar tak kepanasan. atau mungkin mereka samasama butuh pelukan agar semakin kepanasan?

birai langit senja menguning hari ini. terjebak di balik kusenkusen juga jendela yang sengaja dibuka lebarlebar agar angin kesepian dan kerinduan memasuki raga juga rasa dan ruang hampa.

“kabarmu bagaimana?” seorang perempuan berbicara dengan suara lembut, sambil menatap figura dengan penghuni seorang lelaki berwajah bundar. tawanya tetap ajeg, sedemikian rupa dengan dua gigi geligi besar yang ada dibarisan depan. perempuan itu lalu memeluk figura, sambil sesekali menyeka airmata yang kesepian.

“pulanglah!” umpatnya pelan.

rindu menjebak detaknya di ruang ini, mempertontonkan kronisnya rasa cinta yang semakin hari gigil dipeluk sepi. perempuan itu lalu bungkam, menangkup airmatanya yang jatuh tak karuan. rindu ini datang kembali menyapa ketika sepi bermuram durja, seperti menagih temu untuk rindu yang hampir sekarat di antara sekat.

sesekali isaknya terdengar, lalu berhenti. begitu terus hingga matanya hampir lebam.

“Put,” seru seorang lelaki dari luar. namun isak yang semakin sesak, menyumpal telinganya yang tak mendengar seruan itu. dan sekali lagi suara lelaki terdengar. namun perempuan tetap tak menjawab.

“Put, Mas Bara sudah pulang.” ketuk pintu dan suara itu akhirnya jelas terbaca oleh telinganya. senyum tipis dipamerkan. lalu perempuan itu menghapus sisa air mata dan berlari ke ambang pintu. tak sabar dia membuka dengan tergesa, namun.

benar …

Mas Bara sudah pulang, dengan besi selingkar yang menembus dadanya. dengan mata yang tak lagi mampu terbuka. dia tersenyum menerima kepulangannya hari ini, menyambut airmata yang sudah tak lagi mampu diingkari.

Mas Bara pulang hari ini, membawa rasa cinta yang agung di dalam hati.

Mas Bara belum pulang hari ini, sebab perempuan yang menangis itu mengisahkannya sekali lagi. hari ini.
[tabik]

– perempuan aksara.

Iklan

AKU MEMANGGILNYA YOANA

1/
mata bulatnya menyirat duka yang tak pernah dia pamerkan kepada dunia, juga kepada aku atau kepada kekasihnya. perempuan itu bernama Yoana, rambutnya yang senja jatuh di belahan pinggir kepalanya.

2/
badannya yang kurus namun liat, juga bibirnya yang rekah bak bunga mawar merah, indah namun tak pernah mampu dimiliki. dia suka sekali berjalan ke arah utara, sambil memungut bahagia yang terjatuh dari kepalanya, dia berjalan dengan senyum dari bibir ranumnya.

3/
usianya kini mungkin sudah sama dengan aku, sebab lima tahun lalu aku menatapnya di balik jendela kelas. dia tersenyum tipis sambil menenteng gunting yang dipinjamnya dari salah satu kawanku.

4/
ketika dia berduka, dia akan mencari tempat sembunyi untuk menangis. mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya kepada aku atau kepada kawan yang lainnya.

5/
hatinya tak pernah dusta. selalu jujur dan apa adanya.

6/
di dalam jantungnya, banyak sekali luka yang tak mampu di bahasa. riangnya Yoana tak pernah bisa seimbang dengan isi hatinya yang gamang.

7/
semisal aku memiliki banyak jam kembali, aku ingin berkenalan dengannya. lebih dekat dan mungkin lebih akrab. sebab, aku tak ingin kembali menyesal karena hanya mampu mengenang tanpa pernah memegang dan berjabat tangan.

8/
perempuan itu bernama Yoana, yang matanya indah dan alisnya teduh serupa daun kelapa yang jatuh. tua namun kokoh.

9/
mungkin seperti hatinya pula.

10/
kini, Yoana hanyalah kata-kata. yang akan terus aku ingat dalam setiap sekat. karenanya Yoana, aku tak lagi mampu menatapnya kini. sekat-sekat tak lagi tipis, tapi tebal. ukuran jarak perkilometer tak lagi mampu diputus dengan gawai pintar.

11/
maka doakulah yang setia, menjemputnya dari dalam sukma.

12/
Yoana, dia perempuan menawan yang dimatanya jatuh ribuan kenangan yang tak mampu terlupakan.

– perempuan aksara.

R E N G K U H

lesapkan raga pada dada kekasih. dengarkan nada pada jantung atmanya yang terberai, yang membisikkan kehidupan untuk beberapa puluh tahun silam. jika kamu mau mempercayai.

dengarkan sekali lagi, rengkuhlah dengan mantap lalu terlelaplah di sana. baui aroma masa depan yang menguar dari bilik porinya. kematian akan dimulai dari jantungnya ketika kamu coba-coba menghilang atau pergi. ketika kamu mencoba merasuki jantungnya dengan lara yang terus menerus kamu tancap tanpa kenal kendali.

pada jantungnya, kehidupan tersemai. tempat bersemayam seribu keadaan yang jarang ditemui di semesta raya. jantung kekasihmu. tempat rindu dan rasa kasih itu bermukim, damai. tanpa pernah terusik apapun. di jantung yang persegi itu, kedamaian berhembus dari dua buah lubang hidungnya. yang ketika kamu hirup, ada bau kopi dan bebauan kehidupan juga air hujan pun kesibukan.

rengkuh,
menyelamatkan dari kerinduan. dari seribu ragu yang terselip di kepala. mendedikasikan seluruh kasih, cinta tanpa ragu dan tanpa umpama. apakah benar demikian? rengkuh bekerja nyata pada ruang-ruang kosong perasaan, membuat nyaman dan rasa memiliki terasa ada dan bijaksana.

selipkan sekali lagi, pada rengkuhnya sekali lagi sebelum kedukaan menjelma menjadi perpisahan yang tak diharapkan. yang tak kenal waktu datang kepada siapapun yang diinginkan. resapi, kuliti luka yang terselip diantaranya. sempurnakan senyummu dengan rengkuh yang tak pernah acuh. waktu akan memisah tapi tidak untuk rasamu; rengkuhmu.

jadi, pulanglah pada rengkuh kekasih. tak usah menunggu rindu itu datang, tapi sekarang. sebab waktu yang tersisa tak akan terulang. tak akan perduli kembali dengan penyesalanmu ketika rengkuh itu tak terlaksanakan.

– perempuan aksara.

P U L A N G

pulang,
pesan-pesanan yang dihadirkan pada dinding-dinding kaca kamar, yang menerobos papan-papan di relung sukma. menikam. meyeret bahagia yang terjatuh di balik hujan meluruh. pada pulang, tak mampu aku memesan. sedikit senyummu yang terpajang di dinding kamar, menyuguhi keindahan lukisan Tuhan. membikin rindu semakin sengit mengapit laranya yang menggigit.

ada pulang yang paling di palingkan. pada dada keakasih. pada peluk teluk dekapan ibu. pada dekap hangat rengkuh bapak yang paling tangguh. ada pulang-pesan pembunuh kerinduan yang menjebak airmata hingga tak mampu diredakan. menjemput aroma ibu yang semakin hari terkikis kesibukan. rindu pulang.

hujan pagi yang melenakan, deras kekata dan perasaan. aku menjebak liku pada luka yang semakin bisu. nasi goreng buatan ibu, dengan aroma bawang goreng dan tempe garit yang menjerit-jerit di meja makan. aku ingin pulang. menempuh kembali perasaan-perasaan sumbang, pada sekisah lara yang bersemayam. ada kalanya lembayung mendung itu menjebak, pesan-pesanan pulang yang terhambur dilangit-langit ponsel pintar.

namun, ada pulang yang berkesan. tak mampu dihindarkan. tak juga kepada lengan, tak juga kepada rengkuhan. tetapi kepada aroma tanah basah sehabis dipaksa berlubang. disana semua kenang akan dipeluk, akan kembali kepada lekas yang mengaduk-aduk. hujan air mata pada gerimis yang mengikis irisan sakit di dalam sukma. tak ubahnya, semelilit jerit decit pintu berderit. terpampang

papan pulang paling berkesan. tak cuma pelukan ibu, namun juga pelukan semesta yang tak pernah ragu menunggu pulang.

– perempuan aksara.

LALA TELAH PERGI

kuntum-kuntum bunga dan sajak-sajak yang tak bermakna. almanak di ujung meja rias dan senyum yang masih tertinggal di kaca. buku-buku tebal bau apek dan tawa yang mati rasa. mata anggun dan pesan-pesan di gawai yang telah tercerai. amarah dan bercanda kecil, lalu tangis dan rintih akibat mimpi yang perih.

rasanya, aku baru kemarin menemkanmu di antara tumpukan kisah-kisah masa silam yang selalu menyeretmu hingga sedemikian jauh. yang selalu membuat mega mendung dimatamu terjebak bawang merah dan akhirnya jatuh. rasanya baru kemarin, aku menemanimu lembur kerja dan mencoret-coret buku diary milikmu lalu kamu memaki aku. baru kemarin,

dan hari ini kamu sudah pergi. berjibaku dengan dunia berbeda dan meninggalkan aku dalam pengap ruang kantoran yang membosankan. aku tak mampu menolak pergimu itu, gerai rambut panjangmu itu, dan lesung pipi yang kamu tinggalkan di jok belakang sepeda ini. tawamu masih jenak berada disana bersama aroma minyak wangi yang kamu semprotkan sebelum makan somay dan batagor kesukaan kemarin hari.

lala, adik kecilku.
mungkin sudah penuh kantong-kantongmu itu dengan pesan beribu-ibu dariku. mungkin sudah habis tempat untukkmu meletakkan pesan dan inginanku kembali. dan mungkin sudah saatnya kamu tak kembali lagi menjadi adikku yang suka berbicara sendiri dan menonton film misteri hingga menjagai malam bisumu. mungkin, la.

tapi di dunia ini tak ada yang namanya mantan, semua datang dan hilang untuk satu atau beberapa keadaan. termasuk aku. aku datang untuk menatihmu berlari, menapak kerikil-kerikil itu hingga kamu terbiasa dengan jatuhbangun yang terjadi. aku datang untuk merangkum duka di kepalamu dan aku membawanya lari agar tak lagi lara itu menindih bahagia di dalam hati.

lala, kini kamu telah mendewasa.
sudah mampu berlali, sudah mampu tertawa dan tersenyum dengan siapapun yang kamu rasai baiknya. kamu bukan lagi anak pemalu, kamu lebih girang dan lebih baik dari dulu. hari ini, biarlah aku kenang selalu, la. sebagai bingkisan terbaik dari tuhan karena aku telah mengenalmu, meski pada akhirnya kita terpisah kembali ruang dan waktu. [tabik]

mbakmu,

– perempuan akara.

TERIMAKASIH TELAH MENEMUKAN

kepada kalian yang telah setia dan telah menemukan,

tumbuh, mendewasa. menjelajah imaji dengan kekata, merangkum duka menjadi lelagu yang mudah dipahami oleh pembaca.

aku ini penjejak setapak pena yang tak pernah menerima sebuah pengekangan, yang selalu rindu akan kebebasan. aku ini jalang. penerawang sumbar dan rasa antah yang dijelmai oleh kekudusan perasaan. aku ini apa yang kamu bacai dan kamu rasai datangnya meski tak di depan mata. seluruh perayaan kedatangan yang kadang lekang. yang kadang lupa aku katakan.

kamu menemukan aku ketika dukaku terangkum dalam diksi dan sajak-sajak patah hati. kamu menemukan aku ketika lukaku silih berganti, kamu menikmati turihan kataku, kamu menyelami perasaan yang aku pendam sendiri dengan caramu. terimakasih,

telah aku abadikan kekisah yang tak pernah bisa aku kekata jika aku telah tiada. biarlah abadi mereka dalam nyenyak tidur dipangkuan beribu-ibu diksi dan metafora. jangan bangunkan, pelankan suaramu dan nikmatilah. puisiku tak akan membuatmu terbunuh tak akan memenggal leher jenjangmu itu.

selamat,
kamu telah menemukan aku dengan segala caramu, telah menjelajah perasaanku dengan cara yang tak pernah aku tahu. teruslah setia menjadi pemantik api semangat yang kadang menyala dan kadang padam oleh keadaan. jangan dustai jantungmu, jangan lukai batok kepalamu. aku disini,

aku tak akan pernah beranjak dan pergi. aku memanusiakan dan memuisikanmu dengan sepenuh hati. maaf jika membacainya membuat hatimu terluka, kadang aku tak sadar kekataku ini membuatmu kecewa. semoga kamu selalu setia, berdiam diri di sini dan merawat luka yang aku goreskan lewat kata dan diksi mati.

semoga, hatimu tetaplah utuh dan menerimanya sepenuh hati. [tabik]

– perempuan aksara.

TENTANG YANG GAGAL MENJADI PERAYAAN

hay …
apa kabarmu yang seribu kali kupanggil dibias malam? masihkah kamu menjadi perayaan perasaan setelah seribu kali hatiku kamu jatuhkan dan tak ada kepastian? aku membangkai disini, meratapi palingmu yang tiada pernah aku ingini. meski wangi tubuhmu masih menetap disini dan rona wajahmu masih tetap betah membayangi, namun tidak untuk rasa dan tubuhmu yang sudah pergi. sebegitu tidak berartikah rasa dan diri ini? yang selalu mendoakanmu dan selalu melibatkanmu dalam rencana semesta raya? masih kurangkah segala perayaan untuk menyambutmu ada meski kamu tak mengharap ada kita?

percayalah …
aku juga pernah mencoba menyudahi perasaan yang besar ini. aku sudah pernah mencoba membunuh rasa yang sebegitu besar memuja dan mujimu hingga lupa aku ini apa dan siapa. aku pernah, percayalah. namun aku gagal, sebab rasa itu begitu esa, begitu ikhlas terjebak dan terjatuh di perasaanmu yang teduh. maaf … maafkan aku jika mencintaimu berarti membebani jantung atmamu. tak pernah sekalipun aku mencoba memecah segala bahagiamu dengan hadirku sekalipun itu hanya untuk perayaan.

ahh …
kenapa kamu begitu alfa aku rengkuh? mengapa harus kamu yang aku semogakan selalu menetap dalam doa-doaku yang tak sudah? mengapa harus kamu jika pada akhirnya perasaanku hanya dijadikan bahan pertunjukan untuk jiwamu yang sama sekali tak pernah menatapku? sama sekali tak pernah.

butakah? atau sengaja kamu mempermainkan hatiku yang hampir separuhnya kuisi dengan oksigen dari hembusmu. kamu membunuhku secara lamban dan perlahan. kamu membuat jantung dan rasaku tak bisa berbuat banyak selain sudah … dan menyadari atas diri yang tak lebih hanya sebatang keamsalan yang tak pantas kamu perjuangkan.

maaf … maafkan rasaku yang seenaknya mencintaimu tanpa pernah tau malu. maafkan jika semua membebanimu, sungguh. maafkan aku. aku hanya mencoba bertahan di atas ketidakmungkinan dan bodohnya aku tetap percaya kamu akan membalas seluruh perasaan.

terimakasih,
mencintaimu tak akan pernah beralih meski segalanya telah kamu turih. kamu telah gagal menjadi perayaan atas segala kemenangan. tapi tetap kamu tak pernah gagal menjadi pemenang di dalam perasaan.

untukmu, hanya kamu. maaf aku mencintaimu.

pada sebuah pengharapan –lelaki sepi.

— ditulis untuk di baca serta mencoba menjadi sosok lelaki kesepian yang selalu gagal hatinya ketika mencintai sebab teringkari.

– perempuan aksara