BUKU ATAU KESIBUKAN YANG MEMBACA DIRIMU

Keramaian jalan pagi ini berpangkal pada kepalamu-kantor pusat dari segala kesibukan dengan cabang-cabang yang membuat orang-orang mendesak keluar dan masuk secara bersamaan atau berebutan. Disusul dengan embusan angin mendung pagi ini, segalanya merekah sempurna pada keramaian dengan gulungan ombak manusia. Deretan kursi-kursi karyawan yang masih kosong, berkas-berkas yang tak bisa menyelesaikan dirinya sendiri. Atau rak buku yang berubah jadi sarang laba-laba. Semua masih tertata sedemikian rupa, sebab aktifitas kantoran baru di mulai pukul delapan.

Sedangkan kamu, masih sibuk mencari sarapan dari suapan-suapan ibu sebab anak kecil di tubuhmu merengek kelaparan ketika mencium masakan ibu. Seramai otakmu jalanan pagi ini di tumbuhi kesibukan yang tergesa-gesa. Mereka mencari-cari cara untuk menenggelamkan diri dengan berbagai aktifitas untuk mengumpulakan pundi-pundi uang. Termasuk otak kamu, dia selalu mencari cara untuk mengumpulkan uang, katamu untuk biaya pernikahan, atau persalinan anak kita yang belum terlaksana.

Sadar atau tidak, atau tidak mau menyadari.

Pada liku keramah-tamahan desir kesibukan yang mengutuk-kutuk kantuk di mata dan tak mau berpindah. Sama sekali dia tak mau mengerti jika mata sedang lelah meneliti satu demi satu dokumen yang hari ini akan di habisi. Dibakar di otak para manager dan di baca tanpa teliti, seenak mata memandang sedangkal itu pula kamu mencari tahu tentang isi buku yang kamu baca semalam.

Jam-jam malam minggu yang di bagi dengan keresahan sebab pekerjaan mengejarmu dengan tergesa-gesa. Makan malam yang di barengi percakapan pekerjaan dan kantong matamu yang lupa caranya tidur, atau pundakmu yang semakin meringkuk dan menunduk sebab pekerjaan tak habis dalam satu kali duduk.

Lama-lama kamu jadi hantu, gila kerja dan lupa caranya mencintai kekasihmu. Lupa menikahi pacarmu dan lupa jika hari ini hari Minggu.

Rak buku di tubuhmu telah penuh oleh buku-buku dan dokumen yang meminta di manjakan. Satu demi satu mendesak apalagi akhir bulan. Pekerjaanmu bertambah dan tak bisa sembarangan. Beratus-ratus kemungkinan menyeka peluhmu yang terjatuh di kertas cetakan dan membuatmu mengulang dengan tergesa-gesa bahan rapat pagi ini.

Aku selalu takut kamu kehilangan dirimu sendiri di dirimu. Semua bagai teka-teki yang berpangkal pada otak dan pundakmu, berundak-undak dan tak pernah sekalipun kamu mencoba berontak padahal untukku itu tak enak. Kantor pusat di otakmu menghabiskan tanggal di kalender untuk meramu pertemuan. Memisahkan secara tidak langsung dua manusia untuk menjadi satu kesatuan.

Sesekali, aku ingin memeluk segala kesibukan di tubuhmu, dan mengecup pipimu yang kini mulai di tumbuhi bulu-bulu sebab kamu lupa mencukurnya sebelum bertemu denganku. Perawan di tubuhku selalu terbangun ketika kita berdekatan, dan dia tak ingin kamu selalu tenggelam dalam kesibukan sebab kita adalah aktifitas yang selalu kalah oleh rutinitas. Memanjakan hati dan rasa rindu kita untuk saling berbincang tentang beberapa kisah seminggu yang tak sudah-sudah.

Barangkali, kamu tetaplah sedemikian lelahnya. Berjalan terengah-engah sebab waktu kerja sudah siap di depan mata. Kantor pusatmu sibuk mencari tahu tentang pekerjaan, pekerjaanmu mencari-carimu dan dokumen-dokumen memanggil namamu dengan berbagai caranya agar kamu mau mendekat.

Sejak aku mengenalmu pertama kali hingga saat ini, tak pernah sekali saja kamu mengistirahatkan matamu pada pejamnya dengan damai. Tak pernah sekali saja kamu berhenti mencari-cari cara merampungkan pekerjaanmu dengan berbagai cara. Tak pernah sekali saja otakmu beristirahat menjadi kantor pusat dan menutupnya untuk menenangkan diri. Mencari tahu makna pulang dalam pelukku. Tak pernah sekali saja demikian.

Sayangku, beriringan jejak langkah tersapu payah oleh kerinduan-kerinduan yang meradang, menampakkan rentetan kisah-kisah pada jejak senjakala yang akan segera berpulang. Aku ingin memelukku dari jarak sedemikian jauh, melepas tawa dan menyumbangkan senyumu yang akhir-akhir ini lupa kamu lakukan. Kesibukan menyiangi pertemuan, rindu menumbuhkan tunas-tunas baru. Bersama otakmu sebagai kantor pusat dan aku yang selalu bersabar menanti temu.

Aku berkata pada malam dan dingin yang meliukkan pohon-pohon cemara lantas membisikkan mesra nama-namamu lantas menjadwalkan temu untuk hari esok untuk memastikan berapa kali pelukan yang harus kita lakukan, untuk melunasi rindu sebulan yang belum terlaksanakan.

-AKSARAmadhani.

Iklan

SEKISAH

#Sekisah perpisahan.

Aku melihat kau menangis sambil mengais kisah masa silam yang telah tertimbun angka pada kalender. Mengaduk-aduk isi kepala hingga tak kau temu apa-apa selain penyesalan. Kau mencari-cari kisah dan kisah mencari tempat sembunyi menghindari kau. Selanjutnya, kau terduduk, tertunduk oleh kenyataan kehilangan. Kepergian kekasih kau beberapa bulan lalu adalah luka padahal kau melepasnya dengan bahagia.

Kau mengaduk isi kepala, mencari tahu arti luka. Mencari celah pertemuan yang semakin hari hanya menjadi pesan-pesan tipis di dinding ponesl kau. Dan mungkin mencari nama kekasih kau yang waktu itu kau tinggal tanpa banyak kata dan ucap perpisahan.

Kenangan bagai air yang memenuhi kepala. Membuat kau terbanjiri air mata dan perihnya nestapa, kemarin, hari ini, esok dan beberapa hari kedepan. Rasakan pria … rasakan luka yang menusuk-nusuk tulang rusuk kau. Rasakan betapa pedihnya menyadari ketiadaan yang terlambat, betapa segalanya hanya kebahagiaan yang akan hilang, yang semata-mata melenakan dan membuat kau mati secara perlahan tersebab perpisahan.

#Sekisah elegi

Terduduk pilu di tempias senjakala
Rinai air mata menyiram inti jiwa
Hilang sudah hilang kasih semata wayang
Tiada bisa di kejar melainkan hanya di kenang

Larik-larik lara mencabik
Luka memar mencekik-cekik
Harap-harap di ujung pengharapan
Terbujur kaku bersama perpisahan

#Sekisah rindu

Begitualah rindu mendikte pertemuan. Mencari celah paling payah ketika diri kau tak lagi berada disisi yang tersayang. Seperti kehilangan yang menyayat, seperti itulah rindu membuat degup kau tak berhenti menanyakan pertemuan. Malam ini kau meneguk kopi hitam di tangan kanan, sedangkan mata kau membayangkan pertemuan dan dada kau mengembuskan berulang kali nafas kerinduan.

Berdesak-desakan separuh nyawa kau, ingin mati kepalang malu, ingin hidup tak tahu malu, ingin bertemu tak tahu ruang, dan ingin bertanya kabar lupa cara menyapa. Kau hilang kemarin dan hari ini mencari, kau mencari hari ini dan kemarin kau mencaci. Luka … kau melukai yang tersayang-sayang, kau membuat goresan pada dadanya lantas setelah sembuh kau kembali melukainya. Kau …

Seluruh rindu mengemas grimis di mata kau, mencibir getir berbau anyir di hati kau. Masihkah pantas kau mengucap rindu yang beratus-ratus tumpuk ada di dada kau hari ini? Seluruh kau telah mati di hatinya, di matanya kau tiada lagi bermakna. Rindu kau tak lagi bernama, tak lagi bertuan, tak lagi …

#Sekisah

“Kekasih, tiada yang perlu kau sesali perihal perpisahan, berpuluh-puluh kali kau mengusik ingatan mengenai kenangan, yang kau dapati hanyalah penyesalan. Sebab ketika kau telah berpamit meninggalkan, wanita kau telah mempersiapkan hati untuk melawan luka bertubi yang kau beri. Meski berderai air mata mengurai nestapa, meski segalanya begitu menyayat perihnya.”

“Kekasih, rindu akan terus bertubi mencabik hati, dan kau bertubi menghindari. Semakin gencar kau mengingat, semakin dalam rindu tertancap. Kemaslah kembali rindu dalam pelukan hati kau, wanita yang kemarin kau lukai, kini terbahak membaca pesan kau meminta pertemuan, tak ada laki kau, tak ada lagi.”

Aku melihat kau terpuruk disana, dengan mata panda dan mata kau yang merah adanya. Kau baik-baik saja, ‘kan?

-AKSARAmadhani.

MEMELUK KEPEDIHAN

Pada jejak setapak yang tak pernah di lewati oleh sesiapa, aku berjalan menyusri jengkal demi jengkal kenyataan jika kali ini aku sendirian. Memeluk nestapa dan rindu di ujung galah yang mulai patah. Seperti bertahan pada kenyataan yang tak nyata namun terus di jadikan sandaran.
“Aku di mana?”
“Aku ini siapa?”
Aku bahkan lupa pribadi diri ini, aku lupa kapan terakhir kali menyapa sesiapa yang telah binasa bersama waktu dan raga. Disana, diujung sana. Aku menyiangi ilalang kepatahan dan menguatkan keyakinan jika seluruhnya masih tak mau pergi. Terus menempa. Terus berjalan, bersama gerak dan tanya yang tak akan hilang dari ingatan.

Yang kau sebut sahabat hari ini, masihkah memelukmu esok hari?
Yang kau sebut bahagia hari ini, masihkah mau meramaikan sisi relung hatimu yang mulai sepi?

Kakiku terpaku. Tertegun, tanpa mau kembali mengalamatkan langkah yang telah pasrah di hajar beribu-ribu kisah. Bolehkah aku memeluk kembali ingatan tentangmu? Tentang siapapun? Bisakah kalian mengasingkan aku di tempat paling sendiri, sunyi hingga aku benar-benar kembali baik-baik saja? Aku ingin mengasuh lukaku sendiran, tanpa siapapun yang bisa menyadarkan, aku ingin tenggelam di lembah paling dasar sendirian, tanpamu, tanpa kalian, atau tanpa siapapun yang pandai berbelas hanya untuk kepentingan yang tak penting.

Bila esok masih ada jalan dan harapan bolehkah kita kembali bersua? Mensesajarkan langkah lantas mengulang kembali nostalgi ketika kita bahagia. Jangan … jangan mengenaliku hari ini. Biar … biarkan aku menghilang, sejenak saja, sebelum segalanya membuat kita lebih menderita.

Ketika hari ini menghilang, dan kita memilih membisu, aku disini lebih memilih memeluk lukaku, tanpa seorangpun yang aku biarkan mengganggu. Tak juga kamu, tak juga mereka, tak juga kalian.

-AKSARAmadhani.

HARUSKAH KITA?

Beribu-ribu kisah malam ini menepi di ingatan, kamu datang lagi dengan kesemuan. Desember kelabu menghantui, derita terungkap kembali. Penyekapan atas kasih, kehancuran atas diri, remuknya satu per satu janji, seakan mengulang seluruhnya kembali. Apa kabar hari ini? Ketika rindu memburu temu namun hati memilih hilang ingatan atas segala kenyataan. Mungkin hati perlu istirahat atau diri kita yang tetap tak mau saling meninggalkan meski cerita kita tak akan terulang kembali?

Jantung persegi kita menjadi saksi akan kasih yang tiada henti. Kita tak bisa sama-sama pergi namun keadaan membuat kita tak mungkin kembali. Semilir angin, indahnya dewi malam yang bersila di atas sana, bintang yang tertawa mereka seakan mengerti kegundahan hati akan cinta yang tiada pasti. Dan kini, rindu. Hanya menjadi omong kosong yang tak habis di bibir. Kenangan yang tak habis di ingatan serta penyesalan yang tak habis di katan adalah seluruh paradigma keadaan ketika kita memilih meninggalkan.

Salah satu dari kita memang harus pergi, mengikhlas segalanya demi kebaikan semuanya. Mungkin … segalanya berat, terlebih semua adalah kisah dan dia tak akan pernah mati, mereka abadi dalam keadaan dan kenyataan yang bersemayam. Singgah, tanpa mau sekalipun hilang, dan menetap meski terus menerus di gusur keadaan. Kamu adalah sejatinya tangis yang pecah di malam pekat. Apalgi ketika aroma tubuhmu tiba-tiba datang bersama tawa di ujung ingatan. Kamu tahu betapa berdukanya aku, terlebih … ah, sudahlah.

Ini terakhir kalinya aku merinduimu, tak akan lagi tak akan. Merinduimu hanya mengorek luka lama yang sudah benar-benar sembuh. Namun … apakah mampu? Rindu bukan partikel yang mampu di hanguskan, dia abadi bersama dirimu dan kenangan di jantung persegi.

Tanyakan sekali lagi kepada kita, apakah benar-benar kita sudah rela sama-sama meninggalkan padahal hati belum mengikhlas? Mari kita saling memikirkan, kenyataan apa yang akan kita dapati setelah segalanya di paksakan berhenti. Apakah kamu akan hancur, atau aku, atau kita sama-sama memaksa tawa palsu setiap harinya demi sebuah ungakapan baik-baik saja yang meracuni batok kepala?

-AKSARAmadhani.

SEJAUH APA KAMU BERPROSES?

Kita pernah terseok-seok, terjatuh, bahkan terluka hanya untuk sebuah hal yaitu cita-cita. Kita pernah di cibir orang, merendahkan diri kita di bagian paling rendah dalam kehidupan hanya untuk sebuah hal yaitu cita-cita, harapan, dan keinginan. Manusia, adalah makhluk paling sempurna dari segala bentuk makhluk yang Tuhan cipta, mereka di beri akal, di beri nalar dan di beri kelengkapan dalam diri supaya mereka berusaha. Mungkin benar, mencapai kesuksesan harus mengalami fase terseok, terluka, terjatuh, terbentur dan hal lainnya, namun sadarilah justru dari hal-hal demikian manusia bisa menjadi apa yang sebetulnya mereka ingin.

Pembentukan karakter, watak, sifat dimulai dari hal sederhana yaitu keterpurukan, sebab dari hal tersebut manusia akan berfikir lebih jauh dan matang untuk hidupnya. Sederhananya, segala hal terjadi untuk pembelajaran, masalah hasil akhir ituu pasrahkan, bukankah Tuhan lebih melihat prosesnya dari pada hasilnya? Ada istilah yang mengatakan “proses tidak akan menghianati hasil” itulah mengapa dalam berusaha mewujudkan cita-cita kita di harap memaksimalkan kemampuan, sebab proses yang baik akan memberi hasil yang baik pula. Proses tak hanya sekadar berlatih, tak hanya sekadar mengikuti peraturan dan kiat-kiat tapi dalam sebuah proes ada juga doa, doa yang kita panjatakan, doa yang selalu kita ulang, restu orang tua dan keinginan diri pribadi tentunya.

Pernahkah kita rasanya ingin menyerah ketika sudah melampaui batas titik di mana kita tinggal berjalan satu langkah lagi namun memilih mundur? Pernah pasti, kenapa demikian? Sebab niat yang kita bangun dari awal tidak kokoh, ibarat rumah niat adalah fondasi, dan kita adalah rumah tersebut, fondasi akan menentukan bentuk rumah tersebut seperti apa. Lantas kembali ke diri kita, apakah sudah sekuat itu niat yang kita bentuk untuk mencapai sebuah cita? Apakah kita benar yakin bahwa akan berhasil? Sudah seberapa jauh kita berproses? Sudahkah kita melibatkan Tuhan dalam setiap urusan?

Jangan berjalan jauh-jauh terlebih dahulu, kita belum selesai bercakap-cakap dengan diri. Lebih baik kita bertanya lebih jauh lagi tentang ini, dan kumpulkan kembali pertanyaan untuk mengikis keraguan. Lalu tengok kembali kebelakang, bukan untuk mengingatkan apapun, hanya agar kita mengerti jika sudah sejauh ini kita melangkah untuk sebuah cita dan hanya tinggal beberapa langkah untuk menggapai cita tersebut.

“Hay niat, tetaplah kokoh menjadi fondasi. Jangan goyah dihujat lambe turah dan kegagalan lainnya.”

-AKSARAmadhani.

Ketika Yang Diam Mulai Murka

Ibu Pertiwi,
Tangis mengurai ribuan duka, menganak sungai bagai Bengawan Solo yang meluap dan kita tak pernah mampu berbuat apa-apa selain menerima keadaan dan berdoa untuk kebaikan. Alam … begitu murka, memendam beberapa luka akibat ulah manusia yang kadang membuat keasriannya hilang. Bencana, peristiwa paling melukai baik fisik ataupun psikis, lantas kita hanya mampu mengucap ini dan itu di sosial media tanpa berbenah dan berbuat apa-apa.

Ibu Pertiwi
Kota kelahiran, yang aman dan damai yang kini rusak dan hancur hanya butuh kalian untuk berbenah, ini bukan karena Tuhan kita atau kamu yang murka, tapi karena manusia tak pernah mencintai alam sebagaimana alam mencintainya. Apa kabar lahan kosong yang telah di beri gedung megah? Apa kabar hutan yang kini jadi swalayan? Apa kabar pohon yang di tebang tanpa mau kembali menanam? Lalu setelah ada bencana baru tersadar, apa kabar kalian kemarin ketika pertiwi menangis tersedu? Apa kabar kalian kemarin ketika seenaknya menebang sana sini tanpa pikir dua kali? Apa kabar?

Mari berbenah dan sadarilah, alam itu baik jika kita baik dan akan murka jika kita juga melakukan tindakan semena-mena.

-AKSARAmadhani.
#prayforwonogiri
#prayforkotakelahiran

PEPOHONAN YANG BERNYANYI RIANG

Apa yang kau lihat dari pepohonan yang di basuh air hujan hari ini? Tawanya yang nyaring, sorainya yang riang serta beberapa kebahagiaan terlihat dari lambaiannya. Hujan mengecup pucuk-pucuk pohon yang rindu akan hujan, dan akar sibuk bergantian membagi tugas untuk mengumpulkan air agar tidak kembali kehausan.

Pepohonan besar di pinggir jalan itu rindu akan pelukan hujan, menangis setiap panas datang dengan polusi yang di ciptakan para pengguna jalan. Panas menyengat dan tanah yang kehilangan humus sebab banyaknya sampah plastik terkubur dan tak bisa jadi pupuk. Serta beberapa limbah pabrik yang dibiarkan merusak tanah dan mematikan inti tanah.

Petani yang selalu kalah oleh kenyataan, dan ibuku yang resah dengan harga beras naik tanpa aturan. Mungkin kerbau sudah pensiun dengan pekerjaanya dan pengepul hasil bumi pindah profesi jadi tukang ojek online karena jalan yang macet dan manusia yang lebih suka hal praktis akhir-akhir ini.

Kota ini diguyur hujan seharian, dan pohon-pohon bersenandung penuh kemenangan, mereka merayakan kemenangan setelah puasa beberapa bulan. Tapi, di balik kemarahan-kemarahan yang mereka ciptakan, ada buah-buahan masak dengan panen lebih banyak. Rambutan, mangga, petai, buah naga dan segala rupa membanjiri pasar tradisonal. Ibuku yang bangga dengan panen rambutannya, tetangga yang dengan sukarela berbagi mangganya dan petani di sawah yang menangis melihat tandusnya tanah.

Namun hari ini bergantian, buah-buahan jatuh berserakan, bakal buah berterbangan terkena angin sebelum hujan dan beberapa ratus petani yang kegirangan setelah doanya terkabul meski baru sekali saja.

Sungai yang penuh sampah, parit yang penuh daun kering dan imbas rumah tangga lantas anak-anak yang riang bermain air hujan. Siang ini dipenuhi segala kenyataan bahwa hujan tidak melulu tentang kenangan. Tapi hal lain yang berada di antaranya.

Petani selalu bahagia ketika hujan tiba, meski remaja menangis teringat mantan pacarnya.

Pepohonan selalu riang gembira menyambut hujan tiba, meski remaja tersedu membayangakan kenangannya yang tinggal kata-kata.

Anak-anak bermain air hujan dengan suka cita meski para remaja teringat getirnya menjalani percintaan dengan pacar yang jauh dari pelukan.

Anak mudah jaman sekarang memang demikian, menangis ketika hujan. Katanya hujan adalah kenangan yang berjatuhan, tapi kata petani hujan adalah anugerah tak terkalahkan. Kataku, hujan itu partikel air dan kita adalah penikmat dari partikel air yang berjatuhan tersebut.

Pepohonan yang bernyanyi siang ini dengan senyuman-senyuman manis seperti remaja jatuh cinta. Ranting melenggok ke kanan dan kiri lantas bunyi hujan gemricik memenuhi ingatan. Dan beberapa kenangan yang ikut bersemayam mencari jalan pulang dengan cara menyelinap menjadi humus.

Duduklah dan nikmati segala bentuk nyanyian alami alam yang tak berhenti, lupakan mantan pacar, lupakan segala sakit yang menyelinap di antara hujan yang berdatangan. Sebab hujan telah dirindukan.

Menangislah karena petani tak juga bercocok tanam, bukankah negara ini lelah dengan pengimporan beras lantas kemiskinan beranak pinak lewat keresahan yang negara sendiri ciptakan.

-AKSARAmadhani.