TERASING

Derai tawa yang memudar. Kata yang mulai terpilih dan terpilah juga lembar-lembar kemunafikan yang tersetempel tawa kepalsuan.

Ada yang dirindukan dari sekadar kata, “Apa kabar?” ada yang diinginkan ada dari sekadar pertemuan. Aku kamu yang mulai asing juga tawa dan cerita yang jarang hadir. Ada yang tersiksa di sini, menanti waktu untuk menjadikan semua ini pilihan dan kebiasaan. Tanpamu atau bahkan tanpa kita yang saling bersua di mana saja.

Ucapan berkilah, serupa keterasingan yang memilih untuk menyeret kita ke dalam lubang terdalam. Bagaimana bisa? Sedangkan tanpamu dulu, aku hanyalah kealfaan. Sedangkan tanpa kabarmu dulu aku tak bisa kembali memiliki napas kehidupan. Aku rindu, matamu yang hitam dan alis matamu yang tebal. Serupa aku rindu setiap ucapan yang terlontar dari bibirmu untuk menenangkan tidurku setiap malam.

Apakah kita telah sama-sama terbunuh oleh kebiasaan? Keakraban yang terasa renggang juga keterasingan di antara aku atau kamu yang mulai mengalir di dalam setiap percakapan. Apa kita telah sampai pada batas waktunya? Aku yang tak kamu kenali dan kamu yang tak kembali aku kenali?

Kita bergantung pada kepalsuan, sedangkan tawa dan perhatian hanya pemanis buatan. Memudarlah kita dari sini, mengudara bersama kata-kata dan temu-temu yang pernah tersemoga. Bahagia kita pernah ada untuk menolak perpisahan meski akhirnya kita terbunuh kepalsuan.

– perempuan aksara.

HUJAN RINDU DI PELUPUK MATAMU

selang infus dan amanat dokter, perut yang meronta dan sakit kepala. mata yang gelap juga telinga yang tuli, rindu di saku jantung dan hujan di pelupuk matamu. adalah pesan-pesan yang tak pernah aku bacai tersebab bencana menundukkan mata. menyelami seinci rindu yang termaktub dalam bisikan duka di dalam rahim waktu.

kamu adalah saksi hidup dan mati, luka dan lara yang terpenjara di antara ribuan tawa. yang membisu dalam dengar semesta. kasihku yang malang, terpenjara rindu dengan jeruji jarak. meronta rasa bersedu sedan, mengemis-ngemis waktu untuk beranjak pulang. sebab peluk meneduhkan rindu gersang, memantik perapian duka yang meranggas air mata disela keluh dan resah.

aku ingin waktu terhenti ketika pelukan menjadi satu-satunya jembatan bagi rindu keterlaluan. membeku menjadi bongkah es yang lupa bahwa disuatu ketika aku dan kamu berada dibelahan tempat berbeda. kasihku yang abadi, rindumu menjelma menjadi sakit-sakit dan obat-obatan beracun. membuat tidurmu seakan diancam oleh perpisahan, membunuh keyakinan bahwa kita masih ada untuk hidup dan saling memeluk dari jarak ribuan kilo esok hari.

dari sini, semua akan beranjak pergi. rindu akan kembali menjadi kepulan asap kereta yang mengantar tubuh kedalam pelukan ternyaman. membunuh ribuan waktu demi mencintai kembali hati yang lama ditinggal pergi. teruslah berprasangka baik, kasihku. usah kamu berduka lara dan meregang derita, sebab kecupan akan menundukkan rindu luar biasa dengan peluk yang tak kembali tersekat.

– perempuan aksara.

Simposium Pagi; Menterjemahkan Rindu di Saku Baju Ibu

Aku terbangun dari kepagian yang menjemput embun pada mata ibu. Suara ayam yang berkokok, suara angin yang kesepian, juga suara sepasang jantung ibu yang berdetak normal.

*
Telah aku susuri detik demi detik untuk mencintaimu, kekasih. Sebab mencintai adalah ingatan tentangmu yang tak pernah mati. Raga telah berpulang, meninggalkan jejak-jejak angka yang tak pernah bisa kembali dituliskan dengan cara yang sama. Atau sebuah kekata yang terlalu senja untuk aku temukan maknanya.

Aku telah menua, tetapi tidak untuk mencintaimu.

**
Seumpama rindu, waktu telah memisah cinta dan raga. Bukan sengaja kita yang ingin memisah, tetapi jalan takdir yang telah membawa kita ke tempat ini. Rindu adalah pesan-pesan pulang, kekasih. Dan tak ubahnya dia adalah parodi pelakon yang membuat pelukan menjadi tempat paling nyaman untuk singgah.

Sebab rindu tak akan pernah berkurang, tetapi terus menerus bertambah.

***
Pada suatu masa, aku dan kamu pernah saling membahagiakan dan dibahagiakan. Mencintai dengan tenang dan hanya membenci perpisahan. “Kau adalah bait-bait puisi,” katamu, “yang indah dan menawan tapi penuh metafora menyakitkan.” Namun aku bukanlah puisi, kekasih. Aku adalah masa depan yang akan mencintaimu dan memuisikanmu tanpa elegi kesakitan.

Tetapi pagi ini bisu, hanya kenangan yang masih rapi tersimpan di saku baju. Rentetan drama yang tersisa tinggalah buih-buih asam manis kehidupan. Kamu telah membumi, membawa aku yang kamu bilang puisi untuk menggenapkan sepi.

Kamu benar, aku bukanlah masa depan, aku hanyalah puisi yang lepas dari ingatan.

– permpuan aksara.

PELUKAN PEMBUNUH KESEPIAN

Ketika kamulah alasan mengapa sebuah pelukan harus dituntaskan.

Aku selalu kesepian, di akhir bulan ini aku menunggu kepastian. Memasrahkan raga dan rinduku untukmu saja dan aku berpura-pura menyibukkan diriku dengan apa-apa yang aku sebut rutinitas sembari menunggu tubuhmu pulang kepelukan.

Setiap malam, tanpa alfa.

Aku rindu pelukan-pelukan yang sengaja kamu hidupkan bersama kecupan yang basah di sela kalimat, “aku rindu.” atau aku rindu kepalamu yang sengaja rebah kepundak lalu kamu menceritakan ratusan bahkan ribuan kesibukan dikepalamu.

Sekali lagi, kesibukan mengebiri itu semua. Memberikan jarak kepada aku dan kamu yang sama-sama saling merindukan. Aku ingin kamu hanya untuk aku saja, kekasih. Tanpa kamu bagi dengan siapa pun dan apa pun.

Sebab aku butuh pelukmu sebentar saja, untuk menemani rinduku yang lama kesepian.

– perempuan aksara.

OKTOBER YANG PUPUS PADA RINDUMU

Oktober yang pupus diujung matamu. Mengisahkan lelakon kesepian yang mencintai rindunya dan menjaganya untuk orang terkasih. Mahakarya rindu yang bergejolak menolak lupa akan pertemuan dan perjamuan kisah dan kasih yang melipat jarak di antara dua kekisah yang berbeda. Aku telah menekan egoku untuk mencintai dengan keutuhan. Memberikan ruang senyap untukku bernapas tanpamu meski itu susah.

Rindumu bersemayam di dalam jantung persegi, merubah bahagia itu menjadi kedukaan yang tak pernah mau aku rasai. Aku … aku telah membuka pintu-pintu yang tertutup untuk kamu masuki. Aku telah membiarkan ribuan bianglala terbang demi menyambut datang dan pulangmu kembali kepelukan. Tetapi, rinduku kembali piatu.

Selepas kamu membanting pintu dan tak kembali memperlihatkan dirimu. Aku terluka-terpuruk dalam cinta, rindu dan lara yang secara bersamaan menggenapi kealfaan. Aku ingin pulang, aku ingin ingin rumahku kembali, aku ingin semuanya kembali tanpa cela. Apa pun termasuk kamu.

Bolehkah sekali lagi? Sungguh aku mencintai tanpa pernah meragu lagi.

– perempuan aksara.

Sejenak Perpisahan

Luka yang paling melukai adalah perihal perpisahan. Aku menciumi bibirnya yang rekah, mengucap salam perpisahan dengan harapan pertemuan, lalu menangisi bahu gagahnya yang semakin tipis terkikis jarak.

Kalaulah sekali lagi bisa diulangi, perihal ucapanmu kemarin hari. Aku ingin mendengarkan dengan saksama meski kamu terbata-bata mengatakannya. Biar-biar saja menjadi kenang yang mengabadi bersama bayangmu yang sudah pergi.

Namun aku abai.

Kalaulah saja, tidak lagi aku peluk tubuhmu waktu itu, mungkin aku tak lagi mampu melihat senyummu untuk terakhir kalinya. Lalu aku dirundung sesal san sesak, tetapi aku di sana ketika itu.

Perjalanan telah mempertemukan hidup dan matimu secara tak sama. Mempertontonkan kedukaan dan kebahagiaan yang kamu bawa dan rasa. Jalan-jalan terjal, jalan-jalan lurus dan halus kamu selalu menuntunku. Mensejajarkan tubuh kita agar selalu beriring.

Tapi tidak untuk kali ini,

Aku nanar menatap matamu yang alfa, perjalanan tak lagi seiring. Aku dan kamu memilih jalan yang berbeda, kamu dan aku tak lagi menjadi satu irama dalam simposium kehidupan. Meski hati tak mampu terpisah dan cinta tak mampu patah. Tetapi takdir selalu hadir dan tak pernah salah arah.

Maaf …
Dan terima kasih telah hadir dan mendampingi dalam satu rotasi. Kamu adalah bingkisan nyata dari Tuhan untuk aku jaga, selamanya.

– perempuan aksara.

WAKTU RINDU BERCERITA

“aku sedang dirundung musim kangen, daun daun berguguran juga ingatanku yang mulai lepas.”

*
Aku melepaskan pelukmu ketika masenja rekah di bulan Juli. Sebuah kecupan hadir sebelum jarak membelah dua rindu yang akan terasing kembali. Lalu senyummu yang sabit, terbit di bawah hujan air mataku. Mendung menyelimuti tumpukan ragu di dalam dada sebab ada rindu yang belum benar-benar ikhlas melepas. Masih ingin terjebak dalam pelukanmu sekali atau berkali-kali lagi.

Aku akan memeluk malam dengan kekosongan kembali, tanpamu. Aku akan membiarkan tubuhku menjadi alfa kembali setelah kepergianmu. Juga aku akan menjadi sebuah tajuk yang tak terbingkai. Tanpa ada yang memakai. Asing-

*
Pelukan serupa penawar racun kerinduan yang sudah menyebar keseluruh ingatan. Candunya mengalahkan nikotin dan narkotika. Tapi tidak dengan senyummu. Aku telah berpesan untuk kamu datang malam ini, kembali mencintai aku atau tidak sama sekali. Sebab yang aku butuhkan malam ini hanya pelukan. Aku ingin rinduku segera pulang dan tak kembali menjadi beban.

*
Perihal yang paling aku tidak suka dari jarak adalah rindu. Mencintai adalah rindu, menyayangi adalah rindu. Dan sabda-sabda kekasih adalah rindu.

Aku ingin melepaskan perlahan ucapan-ucapan yang lupa aku sisipkan ditelingamu lewat surat-surat yang terlampir di koran. Puisi-puisi itu barangkali adalah surat rindu yang selalu aku harap kamu bacai ketika bosan dengan pekerjaan.

*
Rindu adalah pekerjaan mulia. Menunggu kepulangan kekasih dengan hati berdebar-debar seraya menyiapkan tempat yang rapi untuknya merebah. Adalah rindu yang tak akan pernah berkata palsu. Sebab di dalam jantungnya namaku tersemat dengan anggun serupa bunga mawar yang terus mempesona.

Aku ingin malam bulan Juli itu terulang. Tidak membuat beban sama sekali, hanya saling melepaskan pandang dan memeluk dalam diam. Sebab rindu butuh ruang untuk berbincang, bersenang-senang dan berkasih sayang.

Selamat datang di waktu rindu bercerita-

perempuan aksara.

Dada Kekasih Adalah Rumah Tinggal

Jika aku boleh meminta, aku ingin tinggal di dadamu. Menetap di sana bersamamu, lalu menua bersama waktu dan kamu yang selalu aku cintai. Aku ingin menanam sebuah rindu, kasih dan sayang juga apa pun yang tak akan membuatmu berpaling. Nanti, jika malam tiba. Aku akan mengumpamakan dadamu adalah tempat bermain. Bersenang-seneng sambil menghitung jumlah rindu yang sudah aku tanam di sana.

Jika akhir pekan, aku ingin mengunjungi dadamu lebih lama. Sembari membaca buku atau hanya demi mengumpulkan mimpi selama seminggu yang terjeda waktu kerja. Apa pun itu, yang jelas aku ingin dadamu adalah tempatku bertamasya jika tidak ada rutinitas yang merampas.

Suatu hari nanti, jika aku libur panjang dan kamu tidak ada pekerjaan. Akan aku ceritakan untukmu sebuah dongeng malang, tentang perempuan yang sangat rindu dada kekasihnya ketika ditinggal berpetualang. Dan perempuan itu adalah aku, yang akan membuat sertifikat hak milik atas dadamu yang tak pernah alfa aku kunjungi.

– perempuan aksara.

MELODI SEBUAH PELUKAN

aku membayangkan tubuhmu adalah jembatan dan jalanan sedangkan aku adalah pejalan kaki yang sengaja kamu sesatkan sebelum sampai tujuan. ingatan kita adalah tentang apa yang terjatuh dari langit, bulir air mata surga yang menggenang di pelupuk jalan. juga sebuah kecupan yang terlepas dari bibirmu yang tipis.

pada kabut malammu yang dingin, kita saling menceritakan hangatnya romansa dua tubuh yang disetubuhi rindu. mengendap-endap hingga membuat hati terasa terluka dan kecewa. kita pernah merasakannya, menjadi budak waktu yang menyerapah jarak demi sebuah temu. tapi kini, pelukan tertata di atas angan. memenjara tubuh kita untuk tak kembali membuat jeda.

tak perlu aku meminjam sayap untuk datang ke mimpimu lagi setiap malam. sebab jarak tak lagi ukuran kilometer tapi jengkal. aku ada untuk tubuhmu yang hampa, kamu ada untuk tubuhku yang alfa. kita ada untuk menggenapkan kekosongan, membalaskan dendam untuk kangen keparat yang setiap malam menghasut ingatan.

setelahnya, mari kita berkelakar atau melanjutkan ciuman yang tersesat di jalan sebelum persimpangan.

– perempuan aksara.