KIDUNG KEMATIAN

desah mendesis dicengkram leher jenjang, rapalan doa dan umpatan-umpatan kecil menggigil di ujung bibir
sebentar lagi … sekajap lagi …
malaikat dengan rupa hitam telah datang bersama jejeran manusia yang saya tahu telah tiada mendahului terbujur ke utara
semakin lemah semakin samar
tangis bertalu mengharu biru disamping tidur saya mengagungkan asma asma pemilik jagat raya ketika nyawa saya mulai mencuat di bawa sepasang malaikat tanpa nama

sebentar lagi … sekejap lagi …
nyawa saya masih di atas debar
meski mereka telah menyeret saya dengan kasar
memaksa saya untuk meninggalkan raga dengan ikhlas tanpa welas
sudahlah sudah …
usap tangis yang membuat saya semakin susah pergi
saya sudah tak lagi mampu di sini
biarkan mereka membawa saya lari bersama sakit yang terus menggerogiti

sebentar lagi … sekejap lagi …
nyanyikan doa doa yang selalu kau cipta saat mengadu dengan sang pemilik semesta
tataplah raga saya yang kini telah berpindah dunia dengan bahagia
rayakan kehilangan dengan tangis sesaat saja
lantas
nyalakan lilin dan nyanyikan isyarat-isyarat kematian yang sudah mafhum di luar kepala

dekatilah saya
ucapkan selamat jalan sebelum sayap saya mengepak semakin menjauh dari nyatamu

sebentar lagi … sekejap lagi …
saya telah pergi
bersama rentetan kisah yang telah pasrah saya bawa berpisah
namun jejak aksara saya masih hidup
di bawah naungan aksara yang termaktub

———-AKSARAmadhani

MARI BERBINCANG TUAN!

Mari berbincang tuan
mengenai rindu atau
dongeng dari negri sebrang

Mari berbincang tuan
mengenai bahasa hati, yang
hanya bisa kita pahami

Mari berbincang tuan
mengenai senja dikaki angkasa
atau tentang hujan yang membawa selaksa cerita

Mari berbincang tuan
mengenai setumpuk aksara di meja
atau tentang gumpalan siksa di jantung yang tak bisa dikata

Mari berbincang tuan
mengenai perbincangan kita tempo hari
yang kini menjadi ungkapan tanpa arti

Jingga telah patah
menjadi keping kenangan yang pasrah terhambur oleh angin utara
cerita hanya menjadi aksara penghapus
sunyinya gulita malam terjaga
embun pagi pun enggan bercerita kepada pagi
hingga siang tak pernah lagi bernyanyi
sunyi …
perbincangan kita juga tercecer
berserakan di batas angan
tanpa ada usaha untuk kembali menyatukan sapa yang sempat terpahat dihati

Kusuma gugur sebelum merekah
musim telah berganti begitu saja, tanpa aba-aba
dan kita kini
tak pernah bisa kembali menyemaikan musim
walau hanya sekadar mendatangkan rintik hujan

Gugur sudah kusuma bersama asa
dan kita kini
hanya perbincangan sunyi tanpa suara
tanpa bisa saling sapa
meski masih bisa saling bertatap muka

; dengarlah bisik angin utara
menyibak duka dan luka
sedangka kita
masih terpaku
bisu
beku
mendewakan segala siksa di jantung
yang tak pernah berhenti berdengung
–AKSARAmadhani–

Trotoar dan Senyummu di Ambang Kenang

Masih tentang perbincangan kita tempo hari dipersimpangan jalan sebelum magrib membungkus sudut kota.

Sayup saya dengar derap kaki jenjangmu mengambil lagkah seribu mengejar raga saya yang (mungkin) tak akan lari kemana.
“Takutkah waktu itu kau kehilangan saya?”
Dari satu meter saya jatuhkan pandangan pada sosok tegap, dengan senyum manis menunjukkan jejeran gigi putih dan rambut cepak.

Diam … saya hanya diam dan tersenyum dengan tatapan penuh damba setelah sosokmu semakin mendekat. Degup degap jantung tak lagi bisa terulas oleh kata atau ucap keras. Hanya mampu membekam demi meredam jatung yang seakan melompat jika tak dicengkram rusuk erat.

Itu hanya rentetan reminisensi,
Ketika bus kota menyisir didepan saya, kau telah sirna ‘ntah kemana.

Bagai orang gila di pinggir marga, senyumku kecut ciut seakan lesap seketika itu juga. Hanya banyangmu yang tinggal di sana, hanya senyummu yang masih tercecer di lantai trotoar.

Satu … dua … saya ayunkan kaki mendekati tumpukan masa lalu yang masih mengintimidasi. Hingga akhirnya, saya jatuh terhuyung setelah seklabat fatamorgana kembali terlihat di depan mata. Dan saya tersadar, kau telah buyar di hantam waktu. Kau telah sirna di batas nyataku.
Hilang, lenyap, melesap dalam sekedipan netra, sebelum saya mengucap sampai jumpa.

Tentang trotoar yang masih menyimpan cerita, meski kita tak lagi sekata.

–SAYA; AKSARA–

Saya tercipta dari tatahan-tatahan di atas kertas, lempeng baja, batu sabak bahkan daun lontar
__________________________________

Saya adalah rentetan kata–yang tercipta dari selangkangan penyair ulung bahkan ternama

Dengan saya, kau bisa menyeketsa berbagai hal tanpa perlu mengucap bahkan berkata

Rupa saya adalah apa yang kau tafsirkan, saya tak berwujud asli karena saya adalah sesuatu yang tak pernah bisa dirumuskan

Kenali saya di setiap sunyi yang datang di malam gersang, atau saat otakmu sedang penuh oleh hal yang ingin kau eksplorasikan

Kepada saya, kau bebas jatuh cinta. Bebas berfantasi bahkan berkata-kata tanpa takut terlihat oleh puan atau tuan di sebrang genta

Dan dengan saya, segala hal di masa lampau dapat kau jamah kembali dengan bukti literal

Duhai engkau para pemikir
Beradulah dengan saya jika mulutmu kelu mengucap duka teramat getir
Temui saya di atas kertas lusuhmu
Dan mari menari bersama pena di atas lukamu

Sunyi adalah teman saya
Kesendirian adalah karib saya
Kalian tak usah takut jika saya tak bisa berkata
Kalian tak perlu mengkhawatirkan apapun tentang saya
Karena saya sudah terbiasa dengan segala cerita dari mulut tanpa suara

Bersyairlah
Maka ‘kan kau temu kedamaian
Karena saya ada di sana menunggu setiap kelahiran kata baru
Sapamu yang tak terlontarkan,
menghadirkan tabir yang akan berubah menjadi takdir menyakitkan jika tak kau tuliskan

Sekali lagi,
Saya adalah yang kalian cipta dari tatahan rumit, berbelit atau sederhana di atas kertas, lempeng baja, batu sabak bahkan daun lontar. Jadi kenalilah saya, karena saya adalah apa yang kau tuliskan, karena saya adalah apa yang kau tafsirkan
_____________
AKSARAmadhani

Wanito; Wani Ditoto(Wanita; Berani Ditata)

Senyum tersungging menyebul di antara gurat wajah nan ayu, semerbak wangi bunga-bunga menyeruak menghantam serabut saraf pembau. Kodrat alam telah menyumpah diriya menjadi wanita seutuhnya, anggun sikap juga halus dalam mengucap.

Wanita …
Mereka yang setiap hari berpeluh-peluh membuatmu bahagia
meski dengan cara sederhana
Mereka yang bangga menyebut namamu lewat doa-doa
di setiap pertemuannya dengan Tuhan

Wanita; berani di tata
Bukan karena wanita tak beretika
Bukan pula karena wanita tak memiliki rasa bersahaja
Tapi karena kaum hawa memiliki estetika
yang sangat peka akan kasih dan sayang dari sekelilingnya

Emansipasi telah gencar di pelosok negri,
Mengabukan segala kemungkinan bahwa wanita bukan di tata namun menata
Tapi kembali lagi …
Kodrat alam tak pernah bisa dibuat alasan,
wanita tetaplah dia yang mau di tata
Tetaplah dia yang berpegang teguh pada pria yang menjadi imam atau pemimpinnya
Sejak janji suci terlontar di depan penghulu dan orangtua

Namun terkadang,
Sikap berkuasa membuat pria buta mata
Menyakiti, menyiksa
tanpa punya belas rasa
Lantas …
Melukai tanpa ingat dosa

Pria,
Kodrat alam memang menjadikannya orang berkuasa: menuntun, melindungi, dan menjaga wanitanya. Mendsikripsikan segala arti cinta tanpa menyiksa. Mendiskripsikan segala arti sayang tanpa mengancam.

Wanita hanya butuh pengakuan
Di tata untuk sebuah tujuan
Bukan ajang pemerkosaan
_________________
AKSARAmadhani
#Happy Kartini’s Day

Rindu Yang Janggal

Karena luka yang tertinggal pada sebaknya rindu, tak bisa dikalahkan apapun selain temu.
__________________________________

Sepindah,
   Dalam gamang hati yang tak pernah lelah memanggil asmamu pada malam pekat. Kuuntai kembali pedihnya menelan luka karena rindu yang semakin menderu. Aku tahu … aku paham, rindu adalah hiasan krisan pada jarak yang memisahkan. Tapi … bagaimana jika aku rindu namun aku merasa janggal?

Kedua,
   Aku adalah kapal perindu dan kamu adalah dermaga temu, yang di sana kapalku akan tertambat kuat dengan jangkar yang kekar. Di sana pula, rinduku yang berbuku mampu hilang dalam sekedipan netra. Iya … netra yang mengisyaratkan kasih tanpa pamrih; dan itu milikmu.

Telu,
   Seperangkat aku, telah lenyap pada remukan-remukan dinding yang runtuh karena terjatuh berulang kali. Kamu adalah luka namun kau juga rindu yang bisu karena waktu. Sekali … dua kali … bahkan berkali-kali, aku selalu mengetuk pintu rumahmu agar berbunyi, demi mempertanggung jawabkan rinduku yang tak pernah mati.

Empat,
   Sebisa apa aku meninggalkanmu?
  Semampu apa aku melenyapkan segala rasa rindu?
 Aku tak pernah mampu,
Apalagi tentangmu selalu menghias di langit senjaku.

Limo,
   Selagi aku masih bisa melihat paras piasmu, aku bukanlah orang yang merindu angan dan bayangan.
   Selagi aku masih bisa memanggilmu, aku yakini juga bila aku bukanlah punguk yang merindukan bulan.
   Aku hanya rupa, yang mungkin sengaja di kutuk Tuhan untuk menjadi perindumu setiap langkah kakiku.
   Atau mungkin, Tuhan memiliki rencana lain untuk kita meski rasa tak lagi bertahta.

Enam,
   Kini aku sadari, rindu ini janggal; karena hanya aku yang merasakan. Tanpa kamu yang dengan sigap menggegam tangan untuk menghangatkan bahkan menyediakan bahu untukku bersandar. Kita tak lagi seperti beberapa hari bahkan bulan yang lalu. Kita kini hanyalah makhluk asing yang sempat di satukan karena saat itu takdir tak berjalan sesuai ketentuan.

Dikutuk Dewi Aksara

Setiap hari
Setiap waktu
Detik
Menit
Menjelma menjadi jam

Aku masih sama
Berkencan dengan laptop lusuh
Bahkan dengan rasa-rasa hampa
; yang ingin di basuh

Semakin hari aku semakin merasa sempit
Dewi aksara mengutukku menjadi budak bait
Akibatnya …
Aku tak bisa pergi begitu saja
Rasa adalah irama
; yang harus di sketsa
Atau di jabar menjadi cerita

Lantas apa yang harus kulakukan kini?
Jika aksara telah meracuni
Mencuri waktu yang tak terisi
Hingga menjadi nyanyian penghilang sunyi

Ntah …
Ini anugerah
Atau musibah
Ketika aksara menjadi penghilang gundah
Di kala diri di rundung lelah

-kini kau harus tahu, “Aksara itu candu; lebih candu dari sekadar rasa rindu.”-

V I D T R I

Penaku T’lah Habis Tinta

Kertas di pojok ruang itu, sama sekali belum aku sentuh. Bahkan aku tak punya niat untuk memegangnya kembali. Semenjak kau pergi meninggalkan pena dan kertasku, aku hanyalah bayang tanpa wujud nyata. Sama seperti beberapa minggu lalu saat kau menemukan aku di bawah tumpukan keterpurukan, setelah dia yang kusebut cinta pergi tanpa alasan. Terhambur kemana-mana kertas itu, namun aku tak punya niat menatanya lagi. Karena aku berfikir, tiada lagi yang akan menghias di liarnya penaku. Meski mungkin aku masih leluasa menafsirkan dirimu di sini, namun tidak dengan dirimu yang nyata. Yang bisa kupeluk bahkan bisa aku sebut nyawa.

Kau …
Ingatkah kau, pada senja aku menuliskan indahnya Sang Maha Kuasa mencipta sosok sepertimu.
Betapa sempurnanya Yang Maha Kuasa memberi sepasang mata yang kau miliki, yang selalu memandangku penuh kasih.
Betapa pandainya Sang Maha Segala mencipta bibir tipis milikmu, di mana dengannya aku bisa mendengar eluhan cintamu yang nyata padaku.

Malam itu aku berlari, mengejar nyawamu yang hampir hilang di antara gemintang
Namun …
Setibanya aku di istanamu, aku hanya menemukan sisa pena yang telah habis tinta.
Aku hanya menemukan tangis dengan isakan-isakan parau
Dan …
Aku hanya menemukan sepasang baju tanpa tuannya di ambang pintu

Rasa ini sekonyong-konyong menghajar, tertawa penuh kelekar. Betapa bangganya takdir memepermainkan segala rasaku tanpa mau tahu. Seketika semua bagai durja, memelukku dengan belati yang menghunus hingga hati.
Kini …
Kuingin mencarimu–mengejarmu hingga menemukan dirimu kembali. Aku tahu ini hanya ilusi, namun sayang … tanpamu aku hanyalah orang yang hidup tanpa nyawa, yang rela menjadi budak pilu di malam pekat penuh haru.

V I D T R I

Jadi … Kita Apa

X: “Jadi … Apa yang akan kita bahas malam ini?”
Y: “Rindu?”
X: “Ah bosan.”
Y: “Cinta?”
X: “Apa lagi ini.”
Y: “Lalu?”
X: “Kita.”
.
Duduklah dan lumat kopimu selagi masih hangat; aku jelaskan perihal kita yang tersesat hingga sekarat
Lihatlah senja di cakrawala dengan saksama
Kita adalah senja itu; yang perlahan tumbang di ufuk barat
Kita adalah cerita yang belum usai di catat
Kita–kita adalah sepasang hati yang saling mengikat
Menguatkan
Walau sama-sama tak memiliki hak penuh akan hati yang dijaga
Kita hanyalah alfa yang bertemu delta
Kita hanyalah jejak yang terhapus masa
Dan
Kita hanyalah janji yang musnah terhempas angkara
.
Serupa …
Tapi tak sama
Saling
Tapi tak bersanding
.
Kamu adalah aku yang serupa
Aku adalah kamu yang sama
Aku dan kamu adalah kita
Kita yang hilang dalam angan-angan malam sebelum fajar; bahkan pada mimpi tadi malam yang hanya sekelabat tanpa mau tinggal sesaat.
.
Jadi …
Apakah KITA di mata indahmu?
Apatah arti KITA yang dipermainkan akan takdir yang tak mau tahu?
Apakah serupa itu KITA di belahan otakmu?
Jika iya …
Mari kita saling melupa
Karena ini tak berarti apa-apa
Karena ini hanya kesia-siaan
Yang akan menyakkitkan
Jika di-pertahan-kan

[~V I D T R I~]

PEREMPUAN, JARAK DAN KERINDUAN

   Karena kamu adalah rindu yang terlukis pada jingga sang senja
  Karena kamu adalah rindu yang terlihat jelas pada fajar berbondong menggantikan malam
     Dan …
   Karena kamu adalah rindu yang tergores pada lagu dan sajak-sajak terbaikku

● Jingga seperti apa yang tak mengingatkan aku pada dirimu? Atau alunan nyanyian seperti apa yang tak mengingatkan aku kepada sosokmu?

● Fajar yang menggantikan malam pun melukis namamu-pada paras langit. Pun malam gulita yang dengan indahnya menampakkan wajah manismu di antara gemintang.

   /1/ Aku hanya perempuan sendu yang di peluk rindu setiap waktu
   /2/ Aku hanya perempuan jalang yang rela disetubuhi rindu sekalipun tak dibayar
   /3/ Aku hanyalah perempuan perindu bau tubuh dan pundakmu untuk tempatku bersandar

Rindu …
Seperti halnya perempuan lain
Seperti halnya orang lain
Rasa cinta yang besar kepadamu priaku, membuatku tak mampu berbuat apa-apa; saat kau jauh dari bias mataku. Bayang dan segala hal tentangmu adalah rentetan cerita ketika rindu kembali mengetuk dan membelenggu kalbu. Percayalah … aku bukan perempuan manja yang setiap kali minta di temani kemanapun. Hanya saja rindu ini terus menerus membayang; hingga rasanya aku ingin terbang. Menemuimu dan mendekap erat-erat tubuhmu agar rinduku tak lagi menagih akan pertemuan.

Jarak …
Aku kuat menapak
Aku kuat berjalan
Jarak hanyalah angka
Jarak hanyalah pemisah sementara
Tapi seperti yang aku ucap sebelumnya
Jika …
Kita adalah nyata adanya
Jangan risaukan jarak ini priaku. Aku yakin kita mampu bertahan; kita mampu melewati ini hingga tiba saatnya nanti jarak mampu kita takhlukan. Kita mampu bertemu dan berbincang empat mata tanpa jengkal tanpa kesal.
______________________

Percayalah priaku
Aku mampu bertahan dengan rindu
Dengan sebak karena menahan gelebu
Aku dan kamu
Satu
Kita ada
Kita nyata
Kita …
Jarak dan rindu
Yang menunnggu waktu
Untuk bertemu

V I D T R I