Kita yang Pertama Kali

Kita merelakan tubuh membeku malam ini, obrolan panjang yang jatuh pada malam melambaikan tangan meminta untuk kita sama-sama datang dalam undangannya. Untuk waktu yang tidak singkat, aku ingin kita hanyut dalam pesta pora malam. Sembari mecicipi setiap duka di masa lalu yang sama-sama kita jadikan bahan gurauan. 

Tidak ada hening di sini, kita ada untuk sama-sama melenyapkan sepi yang butuh dimengerti. Bukankah matamu adalah sesuatu yang samar dan nyata? Yang nyalang dan sangat manis. Sedangakan senyummu sabit, lebih sabit daripada bulan malam ini yang mungkin sedang iri dengan kita. Kita? Bahkan kita belum sama-sama memeperkenalkan diri. 

“Aku adalah yang kamu lihat hari ini dan akan kamu kenang sampai mati,” ucapku lancar pada satu tarikan napas.

“Aku adalah aku yang sudah lelah untuk memperkenalkan diri kepada siapa pun, jadi biarlah kamu yang mengenaliku tanpa aku perlu memperkenalkan aku siapa.” Senyummu terlepas ke langit berbintang.

– perempuan aksara.

Surat Sakit Kepada Kekasihku

Terpisah jauh tubuh kita hari ini, kekasih. Pertemuan semalam hendaknya menjadi bahasa paling bisu untuk sebuah perpisahan yang sangat lekas terjadi. Senyummu masih lekat, bersama aroma tanganmu di rongga hidungku. Hidup telah mengajari kita arti sebuah perbedaan, mencintaimu umpama adalah hal yang paling aku impikan sejak pertama kali bertemu denganmu tiga tahun yang lalu. Manik matamu yang cokelat serta senyummu yang rekah, hiasan bagi wajah ayumu yang putih, berseri. Aku … aku hanyalah seorang lelaki lusuh yang cuma memiliki cinta sesuci tetesan embun, yang selalu ingin aku curahkan kepadamu sebagai kado terindah yang Tuhan berikan.

Almera, hendaknya telah kita lalui bersama waktu yang panjang. Dua puluh empat bulan bersamamu dalam kerahasiaan, mencintaimu dengan diam-diam. Tetapi engkaulah sebait semangat yang tak pernah habis untuk aku rapal di dalam bait-bait doa terbaik untuk Tuhanku Yang Esa. Serupa kebisuan yang menerpa tubuhku sekarang, seperti melompong yang tak pernah aku rasa sebelumnya. Tubuhku kesakitan sekarang, menerima seluruh derita yang kamu sayatkan langsung di dalam jantungku, aku ingin kamu, kasihku. Aku ingin kembali mencintaimu, membuatmu lebih bahagia daripada sekarang. Harap … aku hanya mampu berharap ini hanyalah mimpi buruk dan ketika aku terbangun aku mampu memelukmu lagi.

Kekasihku, apakah ini yang kamu minta dengan senyummu yang pasi untuk datang ke tempatmu? Menerima semua persembahan duka paling melukai dalam hidupku? Kehilanganmu.

Almera, bisakah kita saling ada untuk kembali sama-sama mengulang yang belum sempat terjadi? Sebab aku tidak lagi menjadi diriku tanpa kamu di sisiku, sebab aku tak lagi menajdi aku setelah kamu meninggalkan aku bersama kenangan yang sudah kita lalui. Dengarkan aku, Almera. Kembalilah untuk peluk yang kini gigil terpasung luka. Sebab, aku tak pernah mampu mengikhlas dirimu untuk meninggalkan aku secepat ini. Sebab, aku butuh kamu. Sebab, aku mencintaimu. Sebab … sebab aku telah menggadai seluruh tubuhku untuk mencintaimu dan ketika kamu mati aku juga akan mati.

Sampai jumpa di kedamaian, Kasih. Aku mencintaimu.
Rekli Alfonso-

– perempuan aksara.

Tentang Menimba Ilmu

Aku pernah mendengar pepatah ini, “Kejarlah ilmu sampai ke Negri Cina.” atau “Kejarlah ilmu setinggi langit.” Tapi aku juga pernah mendengar kata begini, “Tiada guna berilmu jika tidak pernah kamu bagi ke orang yang membutuhkan.”


Semua pepatah, semboyan juga kata-kata itu ada benarnya, setiap kita pasti merasa bahwa diri kita adalah orang yang haus ilmu. Seperti apa pun kita, berpangkat apa pun kita, lulusan apa pun kita, sejatinya ilmu tidak pernah habis untuk ditimba. Ilmu tidak pernah habis untuk digali, maka beruntunglah bagi kita, kamu karena dengan semangat dan gigihnya mencari ilmu. Memintarkan diri sendiri sebelum membaginya kepda orang lain. Ilmu akan terasa sia-sia apabila kita enggan membaginya kepada orang lain. Ilmu juga akan terasa kurang sempurnanya apabila kita tidak pernah membagi. Menimba ada konotasi menambah di sana, di dalam kata menambah pasti ada kata penuh atau sesak. Begitu juga ilmu, semakin kita timba, kita juga harus mau tidak mau membaginya. Agar ilmu itu bermanfaat.

Berbekal dari pemikiran tersebutah kiranya, aku mengikuti grup chat kepenulisan. Memang dari awal menulis adalah hobi, kegiatan yang sering aku lakukan di luar pekerjaan. Mencoba mengotak atik kata demi kata untuk menjadi kalimat yang menarik dinikmati pembaca. Aku sudah berkali-kali mengikuti grup chat kepenulisan, tapi dari beberapa itu aku hanya memilih satu atau dua saja karena memang beberapa di antaranya kurang aktif. Dan sekitar dua minggu yang lalu, aku menemukan grup chat yang menurutku beda dari yang sudah aku ikuti, di mana kegiatannya lebih tersetruktur dan juga list membernya benar-benar jelas. Grup itu adalah Ikatan Kata.

Sebetulnya ini bukan hanya sekadar menemukan, tapi hasil dari menjelajah di salah satu akun blog seorang kawan. Dari tulisannya aku tertarik untuk masuk grup Ikatan Kata, setelah mengisi beberapa formulir yang berisi pertanyaan dan pernyataan akhirnya masauklah ke grup tersebut. Di sana tidak hanya menuntut member untuk aktif mengerjakan tugas tapi juga memberikan dorongan kepada para member untuk maju dengan list tugas yang diberikan di awal perkenalan.

Juga yang paling menarik di Ikatan Kata, membernya aktif untuk bertanya masalah kepenulisan atau di luar kepenulisan bahkan tidak sungkan untuk share tulisan mereka. Tidak ada kata aku ini member baru atau lama, di sana semua sama. Mencari ilmu dan membagi ilmu. Bukankah itu yang kita semua cari?

Jadi, tunggu apa lagi. Mumpung kesempatan masih terbuka lebar segera klik link ini untuk bergabung Ikatan Kata.

Salam-

– perempuan aksara

CORONA MERUBAH WAJAH DUNIA

Virus corona di Indonesia hari ini sudah mencapai angka enam puluh ribu kasus, yang artinya Indonesia menempati ratting dua puluh delapan untuk kasus yang terjadi di seluruh dunia.

Sudah hampir lima bulan masyarakat Indonesia diresahkan dengan adanya virus yang membuat penderitanya sesak napas atau mati secara tiba-tiba. Masyarakat yang tadinya damai dan tentram dengan semua aktifitas di luar rumah, mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa seluruh kegiatan mereka lumpuh seketika. Baik disektor pertanian, makanan juga jasa. Anak sekolah diliburkan begitu saja selama berbulan-bulan dan pegawai yang harus bekerja di rumah (wfh) demi mengurangi angka persebaran. Akibatnya banyak masyarakat yang harus dirumahkan, diberhentikan secara tiba-tiba dari perkerjaannya atau diberhentikan dengan berbagai alasan. Sektor perekonomian yang terguncang dengan banyak masyakarat menganggur sedangakn kebutuhan untuk membeli ini dan itu sangatlah banyak. Hal ini diperparah dengan angka kriminalitas di tengah masyarakat semakin banyak. Mereka menghalalkan segala cara agar dapur tetap ngebul tanpa berpikir bagaimana masyarakat lain bertahan hidup.

Faktor lain yang terjadi di tengah masyarakat adalah kesenggangan. Waktu menggulung setiap kebiasaan, mereka dituntut untuk tetap di rumah saja dan tidak boleh menemui siapa pun sekali pun itu saudara. Kegiatan yang bersipat kebersamaan dan perkumpulan dihapuskan begitu saja dari agenda bulanan. Hal ini membuat masyarakat menjadi independen dan merasa bahwa mereka mampu tanpa orang lain. Parahnya lagi, mereka yang dari berpergian jauh tidak boleh langsung berbaur dengan yang lain, akibatnya mereka menjadi terasing dan dikucilkan dari teman-temannya. Meski tekhnologi di jaman sekarang cukup membantu untuk berkomunikasi, tanpa adanya temu dan saling tatap secara langsung semua itu tetap terasa jauh.

Virus corona benar-benar merubah setiap kebiasaan masyarakat Indonesia. Baik dari segi sosial dan ekonomi semua terkena dampak. Lalu, apakah semua ini akan tetap demikian?

Saya harap tidak, semakin ke sini masyarakat semakin bisa untuk menjaga kesehatan untuk dirinya sendiri. Dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah untuk mencuci tangan dengan sabun setelah memegang apa pun, juga menggunakan masker ketika berpergian. Mungkin hal tersebut tidak bisa menyembuhkan. Tetapi setidaknya bisa mengurangi angka persebaran yang terjadi di tengah masyarakat. Mungkin untuk sekarang bukan hanya pemerintah yang melakukan setiap perubahan, tetapi juga masyarakat. Sebab segala hal harus dimulai dari diri kita sendiri untuk menuju new normal yang benar-benar sudah dipersiapkan sejak dini.

– perempuan aksara.

Teruntuk Diriku

aku ingin kamu melapangkan dada
atas segala duka yang termaktub di jantungmu.
perkara sakit itu, umpama
atau perasaan duka yang menggenapi
setiap tidur malammu.
aku tidak bisa menjanjikan bahagia
aku hanya ingin berusaha membuatmu tertawa.
menggenapi setiap ganjil
di hidupmu yang ganjal.
juga meneduhkan jiwamu yang terbentur
kenyataan pahit untuk kehidupan.

aku ingin kamu melapangkan dada
atas segala perih yang terturih,
tidak menyalahkan siapa pun untuk hidup
yang tidak baik baik saja.
atau menyadari setiap salah
yang pernah kita lakukan bersama.
sadar, kita hanyalah manusia,
bagian dari lingkaran bumi yang tak rata.

hidup kita penuh liku dan bencana,
suka juga duka yang menghias dilangit senja,
juga malam yang girang untuk
air mata yang tak pernah kerontang

aku ingin kamu melapangkan dada
untuk setiap rencana terbaik Tuhan
dihari-harimu yang belum terlaksanakan.

-perempuan aksara.

2.22 a.m

aku menangisi perkara pergi
yang kamu layangkan tadi pagi.
seribu rasa memenuhi tubuhku
air mata yang tak terbendung
juga perasaan yang seakan hancur.
kamu memilih melangkah,
meninggalkan tubuhku yang masih
memeluk gigilnya kesakitan.

tetapi, aku tidak bisa, kekasih.
perasaanku agung kepadamu, tidak
mampu pergi dan beranjak meski
berkali-kali kamu coba mengelak.
rasaku telah terpasung, hadirmu
telah membuat aku menjadi terbiasa.

ini bukan perkara cinta yang sederhana,
sayangku. ratusan hari telah aku habiskan
bersamamu. ratusan malam telah
mengikhtisarkan rasaku. aku tak akan
pernah pergi, kekasih. meski hadirku
bukanlah yang kamu ingini, tetapi
aku memaksamu untuk memeluk sisa
kerapuhan dalam jantungku yang hampir
remuk ini.

– perempuan aksara.

Perihal Malam

kekasih,
aku memeluk rindu yang tak pernah
kamu genapi. menjadi manusia malam
sebab hati dipenuhi derita kerinduan.
matamu akan lekas terlelap ucapanmu
juga akan lekas terdiam. kekataku pun
juga tak lagi kamu ingat, semuanya
perihal kesabaran hatiku atas kamu
juga waktu.

aku selalu menunggumu di batas malam,
melewati kesenyapan juga menjadi sepasang
kunang-kunang untuk menerangi mimpimu
yang panjang. terkadang aku tidak sabar
tersiksa diriku dihantam rindu. tertikam
rasaku tergadai waktu. sibukmu melupakan
waktu berkisah kasih kita, kekasih.

setiap malam, aku selalu ingin di dekatmu
mendengar apa yang kamu lewati seharian.
menemani kamu bercerita sambil berpelukan,
menikmati rasa lelah dengan saling menyelimuti
dengan kasih sayang.

tetapi, malam bagiku adalah konotasi rindu yang
berjuntai. membunuh selaksa ingin juga angan
dalam pekatnya jarak. kita hanya bisa mendoa
mendengar kesepian yang meraung di dalam dada.
aku rindu dan malam ini kamu tak lagi di sisiku.

-perempuan aksara.

Rindu 11.22 pm

aku ingin menertawakan setiap ragu yang tergugu di dalam jiwaku. tubuhku asing dan amis yang mencintaimu ini penuh dengan peluh dan darah atas pembantaian nyawa juga cinta di dalam nestapa. aku tertegun menatap senyummu yang samar selepas pukul sebelas malam. kamu berpesta pora merayakan kemenangan sebab membuat tangisku terjatuh. rindu keparat!!

– perempuan aksara

Merayakan Patah Hati

Malam ini kamu terbangun dari tidur setelah memimpikan seseorang di masa lalu. Kamu melihat jam di dinding sekilas. “Masih pukul dua belas,” gumammu. Lalu pandanganmu turun ke beberapa foto yang sengaja kamu bingkai dan kamu letakkan di bawah jam dinding. Seseorang dengan matanya yang indah tersenyum dengan menampakkan giginya yang putih. Sekilas kamu tersenyum, orang itu yang datang ke mimpimu. Memberikanmu senyuman yang persis dengan foto tersebut.

Dalam mimpimu, dia tersenyum ikhlas. Tidak merasa terbenani dengan apa pun yang dia rasakan. Barangkali, senyuman itu yang selalu kamu rindukan. Senyuman yang mampu memporakporandakan perasaanmu setiap kali kamu dan dia bersama. Atau malah, senyuman itu yang sebenarnya membuatmu selalu merasa jatuh hati kepadanya sampai saat ini.

Tetapi, setelah kamu membuatnya kecewa beberapa waktu lalu. Senyumnya bukan lagi milikmu. Rinduya bukan lagi sesuatu yang membuatnya tergesa-gesa untuk menemuimu. Kamu bukan lagi seseorang yang spesial. Kini kamu hanyalah orang yang hanya mampu merindukannya, mencintainya dalam kebisuan dan mendambakannya dalam ketidakmungkinan yang selalu kamu harap.

Malam ini kamu tertawa di atas kesakitan perasaan kamu sendiri. Menatap ponselmu yang menampakkan foto-foto kamu dan dia tertawa, tersenyum penuh cinta dan kasih. Perasaanmu teriris, air matamu terjatuh. Betapa dahulu kamu dan dia adalah pasangan yang saling melengkapi tanpa pernah berpikir perpisahan. Selalu bersama dalam setiap kesempatan dan saling memeluk ketika salah satu di antata kamu dan dia terjatuh.

Barangkali ini adalah sebuah kisah atas perasaan yang sebelumnya utuh dan kini menjadi separuh.

– perempuan aksara.

Bahasa Rindu Paling Sunyi

Pada dini hari begini, aku melepas setiap helai lelah dan meninggalkannya di meja. Sembari menghapus debu pada wajah juga debu pada hati yang sekiranya penuh dengan virus yang hari ini sedang merubah dunia menjadi sepi. Aku menatap pada wajah lelah yang kamu sembunyikan dibalik senyuman. Menatapnya lewat kaca rias lalu perlahan senyum itu mendekat. Memeluk tubuhku yang sedang dipenuhi rindu akan hadirmu di waktu ini.

Kita berciuman singkat di depan cermin, lalu sama-sama menertawakan kemalangan tubuh yang beberapa hari tidak saling menyentuh. Tubuh kita kesepian, peluk kita juga menjadi kerontang. Kesibukan memaksa kita menunda rindu untuk saling bertukar rasa, memaksa rindu untuk bersabar demi mendapatkan kesempatan untuk saling menenangkan.

Sepi terbata-bata menyelinap ke dalam tubuh. Kita berpelukan lama sembari berciuman, meninabobokan rindu dan napsu yang sudah mencapai ubun-ubun untuk ditenangkan kembali. Aku ingin menyentuh rinduku, mengambilnya lalu mengosokannya agar esok bisa aku isi kembali dengan rindu yang lain. Kita melepas ciuman, merebahkan dua tubuh yang sudah terpanggang napsu untuk kembali bercengkrama lewat mata dan perasaan.

Kamu menindihku, menjebak tubuh agar terkurung ke dalam pelukanmu. Mengistirahatkan lelah yang perlahan-lahan kamu hilangkan sepersatu dari tubuhku.

“Rambutmu harum wangi-wangian surga yang berpindah ke tiap helainya.”

Hanya itu kata yang terucap dari bibirmu selepas buah dadaku kamu hisap perlahan, untuk mengambil kekuatan dariku agar berpindah ke dirimu. Kita telah siap berperang. Benteng-benteng pertahanan sudah tidak ada lagi, kerinduan mengatasnamakan penyatuan demi mensucikan perasaan. Mendamba sang waktu agar tidak segera mengakhiri semua ini dengan lekas, sebab pederitaan panjang atas kesepian tubuh telah lama terjadi.

“Aaahhh.”

Tubuhku dimasuki kesaktianmu, menghujam aku yang sama sekali belum bersiap. Perih namun, perlahan semuanya seirama. Ada yang ingin aku luapkan emosinya, tapi aku  bersusah payah mengatakan. Sebab aku menderita dihujam kenikmatan luar biasa. Inginku berteriak dan melepaskan segala keriduan seketika itu juga, tetapi aku sadar segalanya hanyalah sementara. Sebab ketika aku dan kamu sama-sama melepaskan kemenangan, tubuh kita akan layu kembali dan hanya akan menjadi seperti semula; kerinduan yang mengatasnamakan penyatuan untuk ritual penyucian.

– perempuan aksara.